
3 Manfaat Panthenol untuk Skin Barrier dan Pentingnya Pengujian Laboratorium

Panthenol semakin banyak digunakan dalam serum, pelembap, krim, lotion, dan berbagai produk perawatan kulit sensitif. Bahan yang dikenal sebagai provitamin B5 ini berfungsi sebagai humektan dan skin-conditioning agent, sehingga sering diklaim mampu membantu menjaga kelembapan sekaligus memperkuat lapisan pelindung kulit.
Namun, pencantuman panthenol dalam komposisi produk belum cukup untuk membuktikan kadar, kestabilan, maupun efektivitasnya. Produsen tetap memerlukan data laboratorium agar klaim manfaat panthenol yang disampaikan kepada konsumen memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Daftar Isi:
- Apa Itu Skin Barrier?
- Manfaat Panthenol untuk Skin Barrier
- Dari Manfaat Panthenol Menuju Pembuktian Produk
- Pengujian Laboratorium yang Perlu Dilakukan
Apa Itu Skin Barrier?
Skin barrier merupakan lapisan pelindung terluar kulit yang sebagian besar berada pada stratum corneum. Lapisan ini membantu mempertahankan kadar air di dalam kulit sekaligus melindunginya dari iritan dan faktor lingkungan.
Ketika fungsi skin barrier terganggu, penguapan air dari kulit atau transepidermal water loss dapat meningkat. Akibatnya, kulit lebih mudah terasa kering, kasar, sensitif, dan tidak nyaman.
Kondisi skin barrier dapat dinilai melalui beberapa parameter, seperti hidrasi kulit, pH, dan transepidermal water loss atau TEWL.
Baca Juga:
Skincare Mahal Belum Tentu Manjur: Peran Uji Kadar Bahan Aktif dalam Memilih Produk yang Tepat
Manfaat Panthenol untuk Skin Barrier
1. Membantu mempertahankan kelembapan kulit
Panthenol memiliki sifat humektan yang membantu mengikat dan mempertahankan air pada lapisan kulit. Penggunaan bahan ini dalam produk topikal dapat membantu kulit terasa lebih lembap, lembut, dan tidak mudah kering.
Sebuah penelitian acak, tersamar ganda, dan terkontrol menunjukkan bahwa penggunaan dexpanthenol selama tujuh hari meningkatkan hidrasi stratum corneum serta menurunkan kehilangan air melalui kulit dibandingkan dengan bahan pembawanya.
2. Mendukung pemulihan lapisan pelindung kulit
Panthenol juga digunakan untuk membantu memperbaiki fungsi barrier yang mengalami gangguan. Studi pada kulit yang mengalami iritasi akibat sodium lauryl sulphate menunjukkan bahwa krim mengandung dexpanthenol dapat meningkatkan pemulihan skin barrier dan hidrasi kulit.
Penelitian terkontrol lainnya menemukan bahwa emolien yang mengandung panthenol memberikan perbaikan pada TEWL, hidrasi stratum corneum, dan organisasi lapisan lipid antarsel kulit.
3. Membantu menenangkan kulit
Gangguan pada skin barrier sering disertai kemerahan, rasa tidak nyaman, dan tekstur kulit yang lebih kasar. Dexpanthenol dilaporkan membantu mengurangi kekasaran serta inflamasi pada kulit yang mengalami iritasi. Karena itu, bahan ini banyak digunakan dalam produk untuk kulit kering dan sensitif.
Dari Manfaat Panthenol Menuju Pembuktian Produk
Manfaat panthenol dan bahan aktif berdasarkan literatur tidak otomatis membuktikan bahwa setiap produk dengan panthenol akan memberikan hasil yang sama. Efektivitas produk juga dipengaruhi oleh kadar bahan aktif, jenis formula, interaksi antarbahannya, sistem penghantaran, kemasan, dan stabilitas selama penyimpanan.
Oleh karena itu, perusahaan kosmetik perlu membuktikan bahwa kandungan aktual dalam produk sesuai dengan formulasi dan klaim pada label. Pengujian juga diperlukan untuk memastikan manfaat panthenol tetap stabil serta dapat bekerja dengan baik di dalam matriks produk.
Pengujian Laboratorium yang Perlu Dilakukan
Uji kadar dan identitas panthenol
Analisis laboratorium dapat dilakukan untuk mengidentifikasi serta mengukur kadar panthenol dalam produk jadi. Metode kromatografi seperti HPLC atau UHPLC-MS dapat dikembangkan dan divalidasi untuk menghasilkan pengukuran yang akurat, presisi, dan sesuai dengan karakteristik sampel.
Apabila diperlukan, metode kromatografi khusus juga dapat digunakan untuk memisahkan dan mengukur bentuk enansiomer panthenol, termasuk D-panthenol yang aktif secara biologis.
Uji stabilitas produk
Uji stabilitas membantu mengetahui apakah kadar panthenol, warna, aroma, pH, viskositas, homogenitas, dan karakteristik fisik produk tetap memenuhi spesifikasi selama penyimpanan. Pengujian ini penting karena perubahan formula dapat memengaruhi kualitas maupun kinerja produk.
Uji efektivitas klaim
Apabila produk mengklaim dapat melembapkan atau membantu memperkuat skin barrier, klaim tersebut dapat didukung melalui pengukuran hidrasi kulit dan TEWL. Pengujian perlu dirancang sesuai jenis produk, target penggunaan, serta klaim yang akan dicantumkan.
Uji keamanan dan mutu pendukung
Bergantung pada formulasi dan kategori produk, evaluasi dapat dilengkapi dengan uji iritasi, uji mikrobiologi, pengujian pH, serta parameter keamanan lainnya. Strategi pengujian harus disesuaikan dengan karakteristik produk dan kebutuhan regulasi.
Lakukan Pengujian Panthenol di IML Testing & Research
Jangan hanya mengandalkan pencantuman bahan aktif dan klaim pada kemasan. Lakukan pengujian kadar, stabilitas, mutu, dan efektivitas produk mengandung panthenol bersama IML Testing & Research.
Data laboratorium yang tepat membantu perusahaan memastikan kesesuaian formula, memperkuat klaim manfaat panthenol, menjaga konsistensi mutu, dan meningkatkan kredibilitas produk sebelum dipasarkan.
Author & Editor: Lina
Daftar Pustaka
Gehring, W., & Gloor, M. (2000). Effect of topically applied dexpanthenol on epidermal barrier function and stratum corneum hydration: Results of a human in vivo study. Arzneimittelforschung, 50(7), 659–663. DOI: 10.1055/s-0031-1300268.
Proksch, E., & Nissen, H. P. (2002). Dexpanthenol enhances skin barrier repair and reduces inflammation after sodium lauryl sulphate-induced irritation. Journal of Dermatological Treatment, 13(4), 173–178. DOI: 10.1080/09546630212345674.
Stettler, H., Kurka, P., Lunau, N., et al. (2017). A new topical panthenol-containing emollient: Results from two randomized controlled studies assessing its skin moisturization and barrier restoration potential, and the effect on skin microflora. Journal of Dermatological Treatment, 28(2), 173–180. DOI: 10.1080/09546634.2016.1214235.
Proksch, E., de Bony, R., Trapp, S., & Boudon, S. (2017). Topical use of dexpanthenol: A 70th anniversary article. Journal of Dermatological Treatment, 28(8), 766–773. DOI: 10.1080/09546634.2017.1325310.
Scott, L. N., Fiume, M., Bergfeld, W. F., et al. (2022). Safety assessment of panthenol, pantothenic acid, and derivatives as used in cosmetics. International Journal of Toxicology, 41(Supplement 3). DOI: 10.1177/10915818221124809.
Weiss, C. L., Fairchild, M. R., Stanton, B., Nshime, B. S., & Parkanzky, P. D. (2019). Innovative method for the analysis of dexpanthenol in hair care products. Journal of AOAC International, 102(2), 633–637. DOI: 10.5740/jaoacint.18-0053.
Hroboňová, K., & Lomenová, A. (2020). Determination of panthenol enantiomers in cosmetic preparations using an achiral-chiral-coupled column HPLC system. Chirality, 32(2), 191–199. DOI: 10.1002/chir.23152.



