Hasil Uji Lab SPF: Apa Arti SPF 30, SPF 50, dan SPF 50+?

Sunscreen telah menjadi bagian penting dalam rangkaian perawatan kulit, terutama untuk membantu melindungi kulit dari paparan radiasi ultraviolet (UV). Ketika memilih sunscreen, salah satu informasi yang paling mudah ditemukan pada kemasan adalah angka Sun Protection Factor (SPF), seperti SPF 30, SPF 50, atau SPF 50+.

Namun, dari mana angka tersebut berasal? Angka SPF bukan sekadar angka yang ditentukan berdasarkan banyaknya UV filter di dalam formulasi. Nilai tersebut perlu didukung melalui pengujian menggunakan metode yang sesuai.

Karena itu, hasil uji lab SPF menjadi data penting bagi produsen untuk mengevaluasi performa perlindungan produk sekaligus mendukung klaim SPF yang dicantumkan. Menurut BPOM, SPF merupakan klaim kemanfaatan kosmetik yang mengacu pada tingkat perlindungan terhadap sinar matahari.

BPOM juga menjelaskan bahwa pengujian SPF dapat dilakukan secara in vitro maupun in vivo, tetapi data pendukung untuk pencantuman klaim nilai SPF pada kosmetik tabir surya mengacu pada hasil pengujian in vivo. Lantas, apa sebenarnya perbedaan SPF 30, SPF 50, dan SPF 50+ jika dilihat dari hasil pengujian?

Daftar Isi:

Apa Itu SPF?

SPF atau Sun Protection Factor merupakan parameter yang digunakan untuk menggambarkan tingkat perlindungan sunscreen terhadap terjadinya eritema atau kemerahan kulit akibat paparan radiasi UV, terutama yang berkaitan dengan UVB. Secara konsep, SPF membandingkan dosis radiasi UV yang diperlukan untuk menimbulkan respons eritema pada kulit yang menggunakan sunscreen dengan dosis yang diperlukan pada kulit yang tidak terlindungi.

Artinya, SPF sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai “berapa lama seseorang boleh berada di bawah sinar matahari”. Hasil uji lab SPF memberikan gambaran mengenai tingkat perlindungan produk berdasarkan kondisi dan metode pengujian tertentu, sementara intensitas radiasi UV dapat berubah berdasarkan waktu, lokasi, cuaca, kondisi lingkungan, dan berbagai faktor lainnya.

Jumlah sunscreen yang diaplikasikan, pemerataan aplikasi, keringat, air, serta gesekan juga dapat memengaruhi perlindungan aktual ketika produk digunakan. Oleh karena itu, hasil uji lab SPF memberikan nilai berdasarkan kondisi pengujian yang telah ditentukan dan metode yang digunakan.

Bagaimana Nilai SPF Diperoleh?

Sebelum produsen mencantumkan klaim SPF pada sunscreen, performa produk perlu dievaluasi melalui pengujian. Hasil uji lab SPF dapat memberikan data untuk menilai performa perlindungan produk, baik melalui pendekatan in vitro maupun in vivo sesuai tujuan dan metode pengujian yang digunakan.

Pengujian In Vitro

Pengujian in vitro dilakukan tanpa menguji respons eritema secara langsung pada kulit manusia. Metode ini dapat menggunakan instrumen untuk mengevaluasi karakteristik absorpsi atau transmisi radiasi UV dari formulasi sunscreen.

BPOM menjelaskan bahwa metode in vitro menggunakan spektrofotometri UV dapat digunakan sebagai pengujian pendahuluan untuk memperkirakan nilai SPF. Metode ini dapat memberikan informasi yang berguna selama tahap pengembangan formulasi.

Namun, hasil in vitro dan in vivo tidak selalu menghasilkan nilai yang sama. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan pengujian.

Pengujian In Vivo

Pengujian in vivo mengevaluasi respons kulit manusia terhadap paparan UV dalam kondisi pengujian yang dikendalikan. Salah satu standar internasional yang digunakan adalah ISO 24444:2019, yang menetapkan metode in vivo untuk menentukan Sun Protection Factor produk sunscreen.

Pengujian ini memberikan dasar untuk mengevaluasi kemampuan produk dalam melindungi kulit manusia terhadap eritema akibat radiasi ultraviolet matahari. Di Indonesia, BPOM menjelaskan bahwa hasil pengujian in vivo digunakan sebagai data pendukung untuk menentukan nilai SPF yang dapat dicantumkan pada kosmetik tabir surya.

Karena itu, metode pengujian menjadi hal penting ketika membaca dan menginterpretasikan hasil uji lab SPF.

Apa Arti SPF 30?

SPF 30 menunjukkan tingkat perlindungan yang lebih tinggi dibandingkan nilai SPF yang lebih rendah ketika dinilai berdasarkan metode pengujian yang digunakan. Berdasarkan ketentuan penandaan kosmetik tabir surya BPOM, nilai SPF ≥30 hingga <50 termasuk dalam kategori perlindungan tinggi.

Namun, SPF 30 tidak berarti seseorang dapat berada di bawah matahari tepat 30 kali lebih lama dalam seluruh kondisi penggunaan. Interpretasi seperti itu terlalu sederhana karena paparan UV aktual dipengaruhi banyak faktor.

Dalam praktik penggunaan, efektivitas sunscreen juga dipengaruhi oleh jumlah produk yang digunakan, pemerataan aplikasi, aktivitas, keringat, paparan air, dan penggunaan ulang. Oleh sebab itu, angka SPF lebih tepat digunakan sebagai indikator relatif tingkat perlindungan terhadap efek UV yang menjadi dasar pengukuran SPF.

Apa Arti SPF 50?

SPF 50 menunjukkan tingkat perlindungan yang lebih tinggi dibandingkan SPF 30 berdasarkan parameter pengujian SPF. Dalam klasifikasi BPOM, nilai SPF ≥50 termasuk dalam tingkat perlindungan sangat tinggi.

Hal penting yang perlu dipahami adalah peningkatan angka SPF tidak berarti peningkatan perlindungan berlangsung secara linear. Artinya, SPF 50 tidak dapat begitu saja diartikan memberikan perlindungan “dua kali lebih besar” dibandingkan SPF 25 atau peningkatan yang proporsional dibandingkan SPF 30.

Nilai SPF merupakan hasil perbandingan respons terhadap paparan UV berdasarkan prosedur pengujian tertentu. Karena itu, hasil uji lab SPF perlu dibaca sebagai data pengukuran performa sunscreen, bukan sekadar angka pemasaran pada kemasan.

Lalu, Apa Arti SPF 50+?

SPF 50 dan SPF 50+ sering dianggap sama. Namun, dari perspektif penandaan, keduanya memiliki konteks yang berbeda. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024, tingkat SPF sangat tinggi berada pada nilai ≥50.

Apabila nilai SPF yang diperoleh lebih dari 50, penandaan produk dapat mencantumkan SPF 50+. Dengan demikian, tanda “+” bukan sekadar elemen pemasaran yang menunjukkan produk terasa lebih kuat.

Pencantuman SPF 50+ berkaitan dengan hasil pengujian dan ketentuan penandaan yang berlaku. Inilah alasan mengapa produsen perlu memperhatikan metode, data, dan interpretasi hasil uji lab SPF sebelum menentukan klaim yang akan dicantumkan pada produk.

SPF Tinggi Belum Tentu Menjelaskan Seluruh Perlindungan UV

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semakin tinggi SPF, semakin lengkap perlindungan terhadap seluruh spektrum radiasi ultraviolet. Padahal, SPF terutama berkaitan dengan perlindungan terhadap eritema atau sunburn, yang sangat dipengaruhi oleh radiasi UVB.

Sementara itu, kulit juga terpapar UVA. UVA dapat menembus kulit dan berkontribusi terhadap berbagai efek biologis, termasuk proses photoaging.

Oleh karena itu, evaluasi sunscreen tidak selalu berhenti pada angka SPF. Aspek perlindungan UVA atau broad spectrum juga perlu diperhatikan sesuai dengan metode dan persyaratan yang berlaku.

Dengan demikian, produk SPF 50 tidak otomatis dapat dianggap memberikan perlindungan UVA yang optimal hanya berdasarkan angka SPF-nya. Produsen perlu melihat parameter perlindungan UV secara lebih menyeluruh.

Mengapa Hasil Uji Lab SPF Bisa Berbeda dengan Klaim Formulasi?

Sebuah formulasi mungkin dirancang untuk mencapai nilai SPF tertentu berdasarkan jenis dan konsentrasi UV filter yang digunakan. Namun, nilai teoritis dari formulasi tidak selalu identik dengan nilai yang diperoleh melalui pengujian.

Performa sunscreen dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

  • jenis dan konsentrasi UV filter;
  • kombinasi UV filter;
  • homogenitas formulasi;
  • distribusi UV filter pada kulit;
  • karakteristik emulsi;
  • viskositas produk;
  • pembentukan lapisan pada permukaan kulit;
  • stabilitas formulasi; dan
  • interaksi antar bahan.

Sebagai contoh, dua produk dapat menggunakan UV filter yang serupa tetapi memiliki karakteristik formulasi yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi bagaimana produk membentuk lapisan pelindung ketika diaplikasikan.

Oleh karena itu, keberadaan bahan tabir surya saja belum cukup untuk menentukan nilai SPF akhir. Hasil uji lab SPF memberikan data eksperimental untuk mengevaluasi performa formulasi sebagai produk jadi.

Mengapa Pengujian SPF Penting bagi Produsen Sunscreen?

Bagi produsen kosmetik, pengujian SPF bukan hanya mengenai mendapatkan angka untuk dicetak pada kemasan. Data pengujian dapat digunakan dalam berbagai tahap pengembangan produk.

Pertama, pengujian membantu mengevaluasi apakah formulasi yang dikembangkan memberikan tingkat perlindungan sesuai target. Kedua, data dapat membantu tim Research & Development membandingkan beberapa formulasi.

Ketiga, pengujian dapat menjadi bagian dari dokumentasi yang mendukung klaim produk. Keempat, data laboratorium membantu produsen mengurangi ketergantungan pada estimasi teoritis berdasarkan kandungan UV filter.

Hal ini penting karena konsumen menggunakan angka SPF sebagai salah satu pertimbangan utama ketika memilih sunscreen. Dengan demikian, klaim SPF sebaiknya memiliki dasar pengujian yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Hasil Uji Lab SPF Bukan Sekadar Angka pada Kemasan

Angka SPF yang terlihat sederhana sebenarnya merupakan hasil dari proses evaluasi performa produk. Bagi konsumen, angka tersebut membantu membandingkan tingkat perlindungan sunscreen.

Namun bagi produsen, hasil uji lab SPF memiliki fungsi yang lebih luas. Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi formulasi, mendukung klaim, membandingkan pengembangan produk, dan membantu memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada konsumen memiliki dasar pengujian.

Karena itu, pengujian sebaiknya mulai dipertimbangkan sejak tahap pengembangan formulasi, bukan hanya ketika desain kemasan sudah selesai. Jika hasil pengujian belum mencapai target yang diinginkan, produsen masih memiliki kesempatan untuk mengevaluasi formulasi sebelum produk dipasarkan.

Buktikan Klaim SPF Produk Anda dengan Pengujian Laboratorium

Jangan hanya mengandalkan perhitungan formulasi atau klaim bahan aktif. Pastikan performa sunscreen Anda didukung oleh hasil pengujian SPF yang terukur!

IML Testing & Research menyediakan layanan Uji Efikasi untuk membantu perusahaan memperoleh data mengenai performa produk sunscreen dan mendukung evaluasi klaim perlindungan terhadap paparan UV sesuai kebutuhan pengujian.

Sedang mengembangkan sunscreen dengan target SPF 30, SPF 50, atau SPF 50+? Hubungi IML Testing & Research sekarang dan konsultasikan kebutuhan pengujian SPF produk Anda bersama tim kami!

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

International Organization for Standardization. (2019). ISO 24444:2019 — Cosmetics — Sun protection test methods — In vivo determination of the sun protection factor (SPF).

International Organization for Standardization. (2022). ISO 24444:2019/Amd 1:2022 — Cosmetics — Sun protection test methods — In vivo determination of the sun protection factor (SPF) — Amendment 1.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2023). Penjelasan BPOM RI tentang Informasi Kosmetik Tabir Surya (Sunscreen) dengan Klaim SPF.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2024). Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik.

U.S. Food and Drug Administration. Sun Protection Factor (SPF). Center for Drug Evaluation and Research.

U.S. Food and Drug Administration. Labeling and Effectiveness Testing: Sunscreen Drug Products for Over-the-Counter Human Use — Small Entity Compliance Guide.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak