7 Jenis Uji Lab Skincare yang Harus Dilakukan Sebelum Produk Dipasarkan

Industri skincare terus berkembang dengan munculnya berbagai produk yang menawarkan beragam bahan aktif, tekstur, hingga klaim manfaat. Mulai dari serum, toner, moisturizer, sunscreen, hingga produk eksfoliasi, setiap formulasi memiliki karakteristik dan potensi risiko yang berbeda.

Karena itu, sebelum sebuah produk dipasarkan, formulasi tidak cukup hanya terlihat stabil atau terasa nyaman ketika diaplikasikan. Produk juga perlu didukung oleh data pengujian yang sesuai dengan karakteristik, bahan aktif, tujuan penggunaan, dan klaim yang ingin disampaikan.

Uji lab skincare menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengembangan dan pengendalian mutu produk. Pengujian laboratorium dapat membantu produsen memperoleh data objektif mengenai karakteristik kimia, keamanan, efektivitas, hingga kemampuan formulasi mempertahankan kualitasnya.

FDA, misalnya, menekankan bahwa produsen atau distributor kosmetik bertanggung jawab memastikan produk yang dipasarkan aman ketika digunakan sesuai petunjuk atau penggunaan yang sewajarnya. Jenis pengujian yang diperlukan juga tidak selalu sama untuk setiap kosmetik karena sangat bergantung pada formulasi, bahan, penggunaan, dan risiko masing-masing produk.

Lantas, apa saja uji lab skincare yang perlu dipertimbangkan sebelum produk dipasarkan?

Daftar Isi:

Mengapa Skincare Perlu Diuji Sebelum Dipasarkan?

Skincare merupakan formulasi yang dapat terdiri atas air, minyak, surfaktan, humektan, emolien, pengawet, parfum, pewarna, serta berbagai bahan aktif. Kombinasi tersebut dapat menghasilkan produk dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Perubahan konsentrasi suatu bahan, pH, proses produksi, kondisi penyimpanan, hingga interaksi antar-komponen dapat memengaruhi karakteristik produk akhir. Itulah sebabnya kualitas bahan baku saja belum cukup untuk menggambarkan kualitas formulasi jadi.

Selain itu, kosmetik dapat mengalami kontaminasi mikroorganisme dari bahan baku, air, lingkungan produksi, kemasan, penyimpanan, maupun penggunaan oleh konsumen. Sistem pengawet yang tidak efektif juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba dalam produk.

FDA menyebut bahan baku atau air yang terkontaminasi, kondisi produksi yang buruk, sistem pengawet yang tidak efektif, kemasan, hingga kondisi penyimpanan sebagai beberapa sumber potensial kontaminasi kosmetik. Dengan demikian, pengujian sebaiknya dirancang berdasarkan risiko dan karakteristik produk, bukan sekadar menggunakan satu jenis tes untuk seluruh kategori skincare.

Uji Senyawa Kimia untuk Mengetahui Kandungan Produk

Salah satu uji lab skincare yang dapat dipertimbangkan dalam uji lab skincare adalah analisis senyawa kimia. Uji lab skincare ini bertujuan memperoleh informasi mengenai komponen tertentu di dalam bahan baku maupun formulasi jadi.

Produk skincare saat ini sering menggunakan bahan aktif seperti niacinamide, salicylic acid, alpha arbutin, retinol, vitamin C, berbagai peptide, maupun bahan lainnya. Keberadaan bahan aktif tersebut dapat menjadi bagian penting dari karakteristik dan klaim formulasi.

Namun, pencantuman bahan pada formulasi tidak selalu cukup. Produsen dapat membutuhkan data analitis untuk mengetahui kadar, identitas, kemurnian, atau karakteristik senyawa tertentu.

Sebagai contoh, apabila sebuah serum diformulasikan mengandung bahan aktif pada konsentrasi tertentu, analisis laboratorium dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah kandungan yang terukur sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan perusahaan. Jenis parameter yang dianalisis tentu akan berbeda tergantung pada bahan dan tujuan pengujian. Metode analisis juga harus disesuaikan dengan sifat senyawa yang akan di uji lab skincare.

Melalui Uji Senyawa Kimia, produsen dapat memperoleh data yang dapat digunakan sebagai bagian dari pengendalian mutu bahan baku maupun produk jadi.

Uji Stabilitas untuk Mengevaluasi Perubahan Produk

Produk skincare tidak hanya perlu memiliki karakteristik yang baik ketika selesai diproduksi. Formulasi juga harus mampu mempertahankan karakteristik yang diharapkan selama penyimpanan.

Temperatur, cahaya, udara, kelembapan, serta interaksi antara bahan aktif dan komponen formulasi dapat memengaruhi produk. Perubahan tersebut dapat terlihat melalui warna yang berubah, aroma yang berbeda, pemisahan fase, perubahan kekentalan, perubahan pH, atau penurunan konsentrasi bahan aktif tertentu.

Sebagai contoh, beberapa bahan aktif memiliki sensitivitas terhadap panas, cahaya, maupun oksidasi. Jika formulasi atau kemasan tidak memberikan perlindungan yang memadai, karakteristik bahan tersebut dapat berubah selama penyimpanan.

Karena itu, evaluasi stabilitas menjadi bagian penting dari pengembangan produk.

Parameter yang dievaluasi dapat mencakup:

  • perubahan fisik formulasi;
  • warna dan aroma;
  • pH;
  • viskositas;
  • homogenitas;
  • pemisahan fase;
  • karakteristik bahan aktif tertentu; serta
  • kompatibilitas produk dengan kemasan.

Hasil uji lab skincare dapat membantu perusahaan mengevaluasi formulasi, menentukan kondisi penyimpanan, hingga mendukung penentuan masa simpan berdasarkan data yang sesuai.

Uji Mikrobiologi untuk Mengevaluasi Kontaminasi Mikroorganisme

Produk skincare, terutama yang mengandung air, dapat menjadi lingkungan yang memungkinkan mikroorganisme bertahan atau berkembang apabila sistem formulasi dan proses produksi tidak dikendalikan dengan baik. Karena itu, evaluasi mikrobiologi menjadi salah satu aspek penting dalam keamanan kosmetik.

FDA menyatakan kosmetik tidak harus steril, tetapi produk tidak boleh mengandung mikroorganisme berbahaya dan jumlah mikroorganisme aerob perlu tetap rendah. Pengujian dapat digunakan untuk mengevaluasi jumlah mikroorganisme maupun keberadaan mikroorganisme tertentu yang tidak diinginkan.

FDA dalam Bacteriological Analytical Manual juga membahas perhatian terhadap organisme seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, dan Candida albicans dalam evaluasi kualitas mikrobiologis kosmetik. Risiko mikrobiologi menjadi semakin penting pada produk dengan kandungan air tinggi atau produk yang sering bersentuhan dengan tangan pengguna ketika diaplikasikan.

Namun, sekadar mengetahui kondisi mikrobiologi produk setelah produksi belum tentu cukup. Produsen juga perlu mempertimbangkan apakah sistem pengawet mampu melindungi formulasi selama penggunaannya.

Challenge Test untuk Menilai Efektivitas Sistem Pengawet

Produk kosmetik berbasis air biasanya membutuhkan sistem perlindungan terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu cara untuk mengevaluasinya adalah melalui Challenge Test, yang juga dikenal sebagai Preservative Efficacy Test.

Dalam uji lab skincare ini, formulasi dievaluasi untuk mengetahui kemampuannya menghadapi paparan mikroorganisme tertentu dalam kondisi pengujian terkendali. ISO 11930:2019 menyediakan metode untuk mengevaluasi perlindungan antimikroba suatu produk kosmetik, termasuk melalui preservation efficacy test.

Standar tersebut menggunakan pengujian efikasi pengawet sebagai metode referensi untuk mengevaluasi sistem pengawet pada formulasi kosmetik yang relevan. Prinsip dasarnya bukan hanya melihat apakah formula mengandung pengawet.

Hal yang lebih penting adalah mengetahui apakah sistem pengawet dalam formulasi akhir benar-benar efektif. Efektivitas bahan pengawet dapat dipengaruhi oleh pH, jenis emulsi, kandungan surfaktan, bahan aktif, kemasan, hingga interaksi dengan komponen lain.

Penelitian mengenai challenge testing juga menunjukkan bahwa efektivitas pengawet sulit diprediksi hanya berdasarkan keberadaan bahan pengawet karena performanya dapat berubah ketika berada di dalam formulasi kompleks. Oleh karena itu, Challenge Test penting terutama bagi produk yang memiliki risiko mikrobiologis dan membutuhkan sistem pengawet.

Uji Toksisitas untuk Mendukung Evaluasi Keamanan

Keamanan merupakan aspek penting dalam pengembangan skincare. Bahan tertentu mungkin memiliki manfaat ketika digunakan pada konsentrasi tertentu, tetapi formulasi keseluruhan tetap perlu dievaluasi berdasarkan tujuan penggunaan dan profil risikonya.

FDA menyebut pengujian toksikologi dapat diperlukan ketika terdapat kesenjangan dalam data keamanan yang sudah tersedia, baik untuk bahan maupun produk akhir. Dalam konteks skincare, evaluasi keamanan dapat diarahkan pada potensi efek yang mungkin muncul dari paparan terhadap produk atau komponen tertentu.

Jenis uji lab skincare harus ditentukan berdasarkan:

  • komposisi formulasi;
  • konsentrasi bahan;
  • area penggunaan;
  • durasi dan frekuensi paparan;
  • target pengguna; serta
  • karakteristik produk.

Produk yang diaplikasikan pada wajah, area mata, bibir, atau area kulit tertentu juga dapat membutuhkan pendekatan evaluasi yang berbeda. Karena itu, Uji Toksisitas bukan sekadar formalitas, tetapi dapat menjadi bagian dari pendekatan berbasis risiko untuk mendukung evaluasi keamanan suatu produk.

Uji Efikasi untuk Mendukung Klaim Produk

Skincare sering dipasarkan dengan berbagai klaim seperti membantu melembapkan, melindungi kulit dari sinar UV, mendukung tampilan kulit lebih cerah, atau memberikan manfaat lainnya. Namun, klaim sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keberadaan suatu bahan aktif.

Jika produk menyampaikan klaim performa tertentu, pengujian yang relevan dapat membantu perusahaan memperoleh data objektif mengenai efektivitas produk. Contohnya adalah sunscreen. Produk yang menawarkan perlindungan terhadap paparan sinar ultraviolet memerlukan evaluasi yang sesuai agar performa proteksinya dapat diukur.

Dalam konteks ini, Uji SPF merupakan salah satu bentuk Uji Efikasi untuk mengevaluasi kemampuan produk sunscreen atau sunblock dalam memberikan perlindungan terhadap paparan UV sesuai metode yang digunakan. Prinsip serupa berlaku pada produk lain.

Parameter efektivitas harus disesuaikan dengan klaim dan fungsi yang ingin dievaluasi. Dengan demikian, keberadaan bahan aktif dan hasil Uji Efikasi merupakan dua hal berbeda.

Sebuah formulasi dapat mengandung bahan tertentu, tetapi efektivitas produk akhirnya tetap dipengaruhi oleh konsentrasi, stabilitas, sistem penghantaran, interaksi bahan, serta karakteristik formulasi.

Biologi Molekuler untuk Analisis Target Biologis Tertentu

Tidak semua produk skincare membutuhkan pengujian Biologi Molekuler. Namun, metode berbasis DNA atau RNA dapat digunakan ketika tujuan pengujian membutuhkan identifikasi atau deteksi target biologis tertentu.

Teknik seperti PCR atau qPCR bekerja dengan menganalisis material genetik spesifik. Karena itu, penggunaannya berbeda dengan analisis kadar senyawa kimia.

Dalam industri kosmetik, pendekatan Biologi Molekuler dapat relevan untuk kebutuhan tertentu, misalnya ketika diperlukan identifikasi bahan biologis atau deteksi DNA spesifik. Artinya, pemilihan metode harus selalu dimulai dari pertanyaan: apa yang ingin diketahui dari produk tersebut?

Jika yang ingin diketahui adalah kadar retinol atau alpha arbutin, pendekatannya lebih dekat dengan Uji Senyawa Kimia. Jika ingin mengevaluasi keamanan, pendekatannya dapat mengarah ke Uji Toksisitas.

Jika ingin membuktikan efektivitas suatu fungsi, Uji Efikasi lebih relevan. Sementara itu, jika targetnya adalah DNA atau material genetik tertentu, Biologi Molekuler dapat dipertimbangkan.

Apakah Semua Skincare Harus Menjalani Pengujian yang Sama?

Tidak, Ini merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami produsen. Tidak ada satu paket pengujian universal yang otomatis berlaku untuk seluruh skincare.

Jenis pengujian sebaiknya ditentukan berdasarkan formula, bahan baku, bentuk sediaan, sistem pengawet, kemasan, area penggunaan, klaim, hingga target konsumen. FDA juga tidak menetapkan satu daftar pengujian yang identik untuk setiap produk kosmetik.

Tanggung jawab tetap berada pada perusahaan untuk memastikan keamanan produknya dan menentukan data yang diperlukan berdasarkan karakteristik produk tersebut. Sebagai contoh, moisturizer berbasis air dapat memiliki fokus risiko yang berbeda dari serum anhydrous.

Sunscreen memiliki kebutuhan evaluasi efektivitas yang berbeda dengan toner biasa. Sementara produk dengan bahan aktif tertentu dapat membutuhkan analisis kimia yang lebih spesifik.

Pendekatan berbasis risiko seperti ini membuat pengujian menjadi lebih relevan dibanding sekadar menjalankan sebanyak mungkin tes tanpa tujuan yang jelas.

Pengujian Sebaiknya Dimulai Sejak Tahap Pengembangan

Kesalahan yang cukup umum adalah menjadikan uji lab skincare sebagai tahapan terakhir ketika produk hampir diluncurkan. Padahal, uji lab skincare dapat memberikan manfaat yang lebih besar jika mulai dipertimbangkan sejak tahap pengembangan formulasi.

Jika hasil evaluasi menunjukkan adanya masalah, perusahaan masih memiliki ruang untuk melakukan reformulasi, mengganti konsentrasi bahan, menyesuaikan sistem pengawet, mengubah kemasan, atau memperbaiki proses produksi. FDA dalam pedoman GMP kosmetiknya juga memasukkan pemeriksaan bahan baku, sampel proses, dan produk jadi terhadap spesifikasi fisik, kimia, kontaminasi mikroba, serta kontaminan kimia yang tidak diinginkan sebagai bagian dari pengendalian uji lab skincare.

Dengan kata lain, pengujian bukan hanya alat untuk “lulus atau tidak lulus”, melainkan sumber data untuk membantu perusahaan memahami produknya.

Pastikan Skincare Anda Didukung Data Uji Lab Skincare

Jangan hanya mengandalkan formulasi dan klaim produk. Pastikan skincare Anda didukung data pengujian yang relevan sebelum dipasarkan!

IML Testing & Research menyediakan layanan Uji Efikasi, Uji Toksisitas, Biologi Molekuler, dan Uji Senyawa Kimia untuk membantu perusahaan mengevaluasi berbagai aspek produk sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pengujiannya.

Sedang mengembangkan serum, toner, moisturizer, sunscreen, atau produk skincare lainnya? Hubungi IML Testing & Research dan konsultasikan kebutuhan uji lab skincare Anda bersama tim kami!

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

International Organization for Standardization. (2019). ISO 11930:2019 Cosmetics — Microbiology — Evaluation of the antimicrobial protection of a cosmetic product.

U.S. Food and Drug Administration. Product Testing of Cosmetics. FDA.

U.S. Food and Drug Administration. Microbiological Safety and Cosmetics. FDA.

U.S. Food and Drug Administration. (2024). Bacteriological Analytical Manual, Chapter 23: Methods for Cosmetics.

U.S. Food and Drug Administration. Good Manufacturing Practice (GMP) Guidelines/Inspection Checklist for Cosmetics.

Russell, A. D. (2003). Challenge testing: principles and practice. International Journal of Cosmetic Science, 25(3), 147–153.

Abdelaziz, A. A. et al. (2024). Microbiological Quality Assessment of Skin and Body Care Cosmetics by Using Challenge Test. Saudi Journal of Biological Sciences.

Orth, D. S. et al. Adequacy of cosmetic preservation: chemical analysis, microbial challenge and in-use testing. International Journal of Cosmetic Science.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak