
Kulit Kepala Gatal? Bisa Jadi Ulah Jamur Penyebab Ketombe

Ketombe atau pityriasis capitis adalah kondisi kulit kepala yang disertai dengan pengelupasan lapisan stratum korneum, lalu membentuk sisik putih atau abu-abu. Kondisi ini juga disertai dengan gatal-gatal tanpa peradangan. Penyebab timbulnya ketombe adalah adanya pertumbuhan jamur Malassezia sp. yang merupakan flora normal di kulit kepala.
Tetapi dapat menjadi patogen jika kelenjar sebasea terlalu aktif, terutama di kondisi lingkungan yang lembap seperti Indonesia. Faktor-faktor yang menyebabkan produksi sebum berlebih adalah keringat, menggunakan jilbab dengan bahan yang kurang menyerap keringat, dan kebersihan rambut. Cuaca panas dan lembap dapat mempercepat pertumbuhan jamur pada kulit.
Paparan debu atau polusi yang menempel di kulit kepala. Selain faktor eksternal yang telah disebutkan di atas, faktor internal seperti stres berlebihan dapat mempengaruhi keseimbangan hormon androgen dan imunitas kulit sehingga memicu produksi sebum lebih banyak. Berdasarkan survei ketombe yang dilakukan pada kelompok etnis di AS dan Tiongkok, pengelupasan kulit kepala lebih sering ditemukan pada orang Afrika-Amerika sebanyak 81-95%, Kaukasia 66-82%, dan Tionghoa 30-42%.
Jamur Penyebab Ketombe
Malassezia adalah kelompok jamur yang hidup sebagai komensal pada kulit manusia dan hewan, terutama di sekitar folikel rambut. Jamur ini berevolusi memiliki kemampuan untuk memetabolisme senyawa lemak dalam sebum, sehingga sebagian besar spesies ini bersifat lipofilik. Jamur ini telah diketahui sejak tahun 1846 ketika Eichstedt menemukan ragi dan hifa pada kulit pasien dengan pityriasis versicolor.
Kemudian, pada tahun 1873, Rivolta melaporkan bahwa jamur ini terdapat pada ketombe. Jamur ini memiliki spora yang berbentuk oval dan bulat pada sisik kulit kepala dengan ketombe. Jamur ini dikenal penyebab sejumlah penyakit berbeda pada manusia maupun hewan.
Malassezia dapat menyebabkan infeksi pityriasis versicolor yang pertama kali dilaporkan pada bayi baru lahir yang menerima suplementasi lipid secara intravena. Karena pertumbuhan jamur ini memerlukan lipid sebagai nutrisinya. Kondisi lainnya dapat menyebabkan dermatitis seboroik (eksim) atau bentuk dermatitis atopik lainnya pada wajah, confluent and reticulate papillomatosis dan onikomikosis.
Dermatitis seboroik atau eksis biasanya disertai iritasi di bawah ketiak dan di lipatan paha. Dermatitis seboroik maupun ketombe memiliki tingkat keparahan yang bervariasi. Kedua penyakit ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman berupa rasa gatal atau iritasi.
Walaupun Malassezia merupakan jamur penyebab ketombe dan dermatitis seboroik, mekanisme atau peran patogenetik jamur ini terhadap kedua penyakit tersebut masih belum diketahui dengan jelas, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa jamur ini menginvasi kulit, mereka biasanya berkelompok di sekitar folikel rambut. Studi melaporkan bahwa Malassezia menghasilkan enzim lipase yang memecah trigliserida menjadi asam oleat. Asam oleat ini dapat memicu pengelupasan pada individu yang rentan terhadap ketombe.
3 Cara Menghilangkan Jamur Penyebab Ketombe
Terdapat 3 langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi Malassezia, yaitu
- Menghancurkan lapisan biofilm Malassezia dengan bahan-bahan seperti cuka apel, selenium sulfide, colloidal silver, tea tree oil, rosemary, peppermint, lavender, dan cinnamon
- Setelah biofilm yang lemah atau hilang, gunakan produk yang mengandung bahan-bahan bersifat antijamur seperti ketoconazole, coal tar, dan pyrithione zinc
- Menenangkan kulit kepala untuk mendukung mikrobioma kulit dengan menggunakan MCT oil, aloe vera, urea, sorbitol, hyaluronic acid, dan squalane oil. Hindari penggunaan minyak olive oil dan coconut oil karena dapat mempercepat pertumbuhan Malassezia.
Ketombe bukan sekadar masalah estetika, tetapi juga cerminan dari keseimbangan ekosistem kulit kepala. Jamur Malassezia, yang pada dasarnya merupakan penghuni alami kulit, dapat mengganggu kesehatan ketika kondisi lingkungan kulit mendukung pertumbuhannya secara berlebihan.
Pemahaman yang baik tentang penyebab, faktor pemicu, dan mekanisme kerja jamur ini menjadi langkah awal yang penting untuk memilih perawatan yang tepat. Dengan perawatan teratur, pemilihan produk yang sesuai, serta menjaga kebersihan dan kesehatan kulit kepala, ketombe dapat dikendalikan sehingga rasa percaya diri dan kenyamanan sehari-hari tetap terjaga.
Menariknya, banyak produk perawatan rambut dan scalp care yang mengklaim mampu menekan pertumbuhan Malassezia maupun menenangkan kulit kepala. Namun efektivitas setiap bahan aktif dan kadar yang digunakan tentu berbeda pada tiap formulasi, sehingga pengujian laboratorium menjadi langkah penting sebelum produk dipasarkan.
Baca juga:
3 Rekomendasi Pengujian Wajib Sebelum Produk Kosmetik Diedarkan
Ingin memastikan produk Anda benar-benar bekerja sesuai klaim? IML Research menyediakan layanan uji antifungal, uji efektivitas bahan aktif, hingga uji iritasi kulit untuk membantu Anda menilai performa produk secara ilmiah. Hubungi kami untuk mulai uji lab dan pastikan produk Anda aman, efektif, dan siap bersaing di pasar.
Author: Safira
Editor: Sabilla Reza
Referensi
Dermazen. (n.d.). Malassezia biofilm: What it is and how to treat it. Dermazen. Retrieved August 13, 2025, from https://dermazen.co/blogs/news/malassezia-biofilm-what-it-is-and-how-to-treat-it
Hay, R. J. (2011). Malassezia, dandruff and seborrhoeic dermatitis: An overview. British Journal of Dermatology, 165(Suppl. 2), 2–8. https://doi.org/10.1111/j.1365-2133.2011.10570.x
Muchtar, R., Noor, R., & Arsyad, M. (2024). Isolasi jamur penyebab ketombe pada mahasiswi Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar. Media Analis Kesehatan, 15(2), 165–174. https://doi.org/10.32382/mak.v15i2.703



