Pyrethrin vs Pyrethroid Membandingkan Kinerja Pestisida Melalui Uji Lab yang Tepat

Perjalanan dari senyawa alami menuju versi sintetis selalu menarik untuk dibahas, apalagi jika berkaitan dengan pertanian berkelanjutan. Pyrethrin, insektisida alami dari bunga krisan, menjadi salah satu contoh bagaimana alam memberi inspirasi untuk menciptakan solusi cerdas dalam mengendalikan hama. Senyawa ini terkenal efektif melumpuhkan serangga, tetapi tetap aman bagi manusia dan hewan peliharaan.

Namun, sifat alaminya yang mudah rusak membuat pyrethrin memiliki keterbatasan dalam penyimpanan maupun penggunaannya di lapangan. Dari sinilah lahir pyrethroid, insektisida sintetis yang meniru struktur pyrethrin dengan daya tahan lebih lama. Kisah peralihan dari pyrethrin alami ke pyrethroid sintetis bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menyeimbangkan kebutuhan pertanian dengan kelestarian lingkungan.

Mengenal Lebih Tentang Pyrethrin dan Pyrethroids

Chrysanthemum cinerariaefolium.
Sumber web: https://greeninstitute.ng/plants/2020/8/21/chrysanthemum-cinerariaefolium

Pyrethrin adalah senyawa alami yang dihasilkan dari bunga krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium). Senyawa ini bekerja dengan cara menyerang sistem saraf serangga sehingga serangga menjadi lumpuh dan akhirnya mati. Keunggulannya, pyrethrin tidak berbahaya bagi mamalia sehingga relatif aman digunakan.

Sayangnya, pyrethrin alami memiliki kelemahan karena mudah rusak jika terkena cahaya matahari atau udara. Akibatnya, daya kerjanya menjadi singkat dan tidak bisa disimpan terlalu lama. Inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengembangkan bentuk sintetisnya.

Lahirlah pyrethroid, yaitu versi buatan manusia yang meniru struktur pyrethrin alami. Pyrethroid lebih stabil, tahan lama, dan bisa disimpan dengan lebih praktis. Dengan begitu, penggunaannya menjadi lebih efisien untuk pengendalian hama.

Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Penggunaan pyrethroid secara berlebihan bisa membuat serangga hama menjadi kebal atau resisten. Karena itu, penggunaannya harus diatur dengan bijak agar tetap efektif sekaligus tidak merugikan sistem pertanian dalam jangka panjang.

Bagaimana Penelitian Terkait Ekstraksi Pyrethrin untuk Pyrethroid?

Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan cara efektif untuk mendapatkan pyrethrin dari bunga krisan. Mereka mencoba berbagai teknik ekstraksi untuk mengetahui metode mana yang paling efisien. Hasilnya, metode Soxhlet dengan pelarut metanol memberikan hasil ekstraksi tertinggi.

Selain ekstraksi, pemurnian juga menjadi tahap penting agar diperoleh pyrethrin dengan konsentrasi tinggi. Dari berbagai pelarut yang diuji, asetonitril terbukti paling efektif. Dengan metode solid-matrix partitioning, konsentrasi pyrethrin bahkan bisa mencapai 60,37%.

Menariknya, sifat insektisida dari pyrethrum berasal dari enam senyawa utama yang memiliki bentuk stereokimia khas. Konfigurasi ini membuat pyrethrin sangat spesifik menyerang serangga tanpa membahayakan mamalia. Hal ini semakin menegaskan keunggulan pyrethrin sebagai insektisida alami.

Pyrethrin sendiri merupakan campuran dari beberapa senyawa ester yang saling berhubungan. Senyawa ini banyak terkonsentrasi di permukaan ovarium pada bagian bunga, sehingga kepala bunga krisan menjadi sumber utama untuk mengekstraknya. Inilah alasan mengapa bunga krisan selalu dipilih sebagai bahan baku utama dalam penelitian maupun produksi.

Karena sifatnya yang ramah lingkungan, pyrethrin punya potensi besar untuk pertanian organik maupun sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Dengan cara ini, petani bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Jadi, selain efektif membasmi hama, pyrethrin juga mendukung pertanian berkelanjutan.

Namun, efektivitas suatu insektisida tidak hanya ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan juga oleh ketepatan formulasi dan konsentrasi senyawa aktif di dalamnya. Baik pyrethrin alami maupun pyrethroid sintetis membutuhkan pengujian laboratorium untuk memastikan kualitas, kemurnian, stabilitas, serta keamanannya sebelum diterapkan secara luas di sektor pertanian. Tanpa data uji yang jelas, risiko penurunan efektivitas hingga munculnya resistensi hama bisa meningkat, dan ini tentu berdampak pada produktivitas lahan serta efisiensi biaya pengendalian. Inilah mengapa pengujian laboratorium bukan lagi pilihan, tetapi langkah fundamental dalam manajemen pestisida yang bertanggung jawab.

Baca juga:
3 Rekomendasi Uji Lab Pestisida untuk Lolos Izin Edar Kementan!

Jika Anda ingin memastikan kualitas dan komposisi pestisida yang Anda gunakan atau produksi, IML Research siap membantu dengan layanan uji laboratorium pestisida. Melalui analisis kandungan senyawa aktif, stabilitas formulasi, hingga pengujian efektivitas biologis terhadap target hama, kami mendukung Anda menghasilkan produk dan pengendalian hama yang lebih aman, tepat guna, dan berkelanjutan. Hubungi kami untuk memulai pengujian dan pastikan setiap formulasi pestisida bekerja optimal sesuai kebutuhan lapangan.

Author: Dherika
Editor: Sabilla

Referensi

Chrustek, A., Hołyńska-Iwan, I., Dziembowska, I., Bogusiewicz, J., Wróblewski, M., Cwynar, A., & Olszewska-Słonina, D. (2018). Current Research on the Safety of Pyrethroids Used as Insecticides. Medicina (Kaunas, Lithuania)54(4), 61. https://doi.org/10.3390/medicina54040061.

Harun-Ur-Rashid, M., & Imran, A.B. (2025). Biomimetic and Synthetic Advances in Natural Pesticides: Balancing Efficiency and Environmental Safety. Journal of Chemistry, 2025, 1-23. https://doi.org/10.1155/joch/1510186.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak