Deteksi Penyakit Tanpa Salah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Molekuler Diagnostik!

Meningkatnya kasus penyakit zoonosis dan resistensi antibiotik mendorong kemajuan pesat dalam penelitian medis berbasis teknologi molekuler. Teknologi ini kini berkembang ke berbagai bidang, seperti patologi molekuler, diagnostik molekuler, dan terapi molekuler. Kolaborasi multidisiplin dari ketiga bidang tersebut membuka wawasan baru mengenai asal-usul dan perkembangan penyakit, serta berkontribusi dalam meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan medis, terutama dalam menangani penyakit infeksi dan metabolik. 

Peran Patologi Molekuler dalam Memahami Penyakit

Patologi molekuler berfokus pada studi molekuler dan genetik dari jaringan serta sel. Bidang ini berperan penting dalam pengembangan dan validasi uji diagnostik biologis, memfasilitasi identifikasi biomarker spesifik yang menandakan keberadaan penyakit atau patogen. Selain itu, patologi molekuler membantu memahami patogenesis (proses terjadinya penyakit), memperkirakan prognosis, serta merancang strategi pengobatan yang lebih efektif. 

Studi ini melibatkan analisis mutasi genetik, pola ekspresi gen, modifikasi epigenetik, dan perubahan protein guna memahami mekanisme dan progres penyakit. Di sisi lain, diagnostik molekuler lebih berfokus pada deteksi biomarker spesifik untuk memastikan ada atau tidaknya suatu penyakit, serta mendukung pemilihan terapi yang tepat sesuai dengan profil pasien. Meskipun saling berhubungan, patologi molekuler cenderung bekerja lebih dekat dengan dokter, ahli onkologi, dan tenaga medis lainnya untuk menghubungkan perubahan molekuler dengan hasil histopatologi, biomarker, data klinis, dan respons pasien.

Teknologi PCR dalam Diagnostik Molekuler

Salah satu teknik diagnostik molekuler yang paling umum digunakan karena kecepatan, akurasi, dan efikasinya adalah Polymerase Chain Reaction (PCR). Teknik ini ditemukan oleh Kary Mullis pada tahun 1983 dan memungkinkan perbanyakan fragmen DNA (Deoxyribonucleic Acid) atau RNA (Ribonucleic Acid) dari sampel yang sangat kecil hingga jutaan salinan. PCR digunakan di berbagai bidang, seperti medis, forensik, rekayasa genetik, analisis lingkungan, terapi gen, dan penandaan gen. Setiap reaksi PCR memerlukan reagen dan komponen sebagai berikut:

1. DNA template

DNA templat yaitu DNA yang mengandung urutan target yang akan diperbanyak.

2. Primer

Primer adalah fragmen DNA pendek (oligonukleotida) yang menjadi titik awal sintesis DNA baru dalam reaksi PCR. Primer yaitu dua oligonukleotida pendek yang terdiri dari satu primer forward dan satu primer reverse. Primer ini diletakkan pada ujung 3`dari untai DNA target.

3. dNTPs (deoxynucleotide triphosphates)

dNTPs (deoxynucleotide triphosphates) adalah molekul dasar penyusun DNA yang digunakan dalam reaksi PCR untuk membangun untai DNA baru. Nukleotida bebas yang terdiri dari empat jenis basa DNA: Adenine (A), Thymine (T), Cytosine (C), dan Guanine (G). dNTPs berperan sebagai “bahan baku” untuk membangun untai DNA baru selama reaksi PCR. Taq polymerase menggunakan dNTP ini untuk menyusun untai DNA komplementer dari template.

4. Taq polymerase

Taq polymerase adalah enzim tahan panas yang berasal dari bakteri Thermus aquaticus, berfungsi menyusun DNA baru dengan menambahkan dNTP ke untai DNA template pada suhu tinggi.

5. Buffer

Buffer adalah larutan yang menjaga pH dan kondisi ionik agar reaksi PCR berjalan optimal.

3 Tahapan Proses Utama Polymerase Chain Reaction (PCR)

Polymerase Chain Reaction (PCR)
Peneliti ada di laboratorium menggunakan alat. Sumber: Freepik

PCR bekerja melalui proses perubahan suhu yang berulang-ulang (25 – 35 kali) disebut sebagai thermal cycling. Tiga tahapan utama proses PCR meliputi:

1. Denaturasi (94–98°C, 20 – 30 detik)

Proses pemisahan untai ganda DNA menjadi untai tunggal dengan memutus ikatan hidrogen antar basa nitrogen.

2. Annealing (50–65°C, 20-40 detik)

Penempelan primer (hibridisasi) pada untai DNA target

3. Elongasi (72°C)

Terdapat taq polymerase untuk memperpanjang primer dengan menambahkan nukleotida dan membangun untai DNA baru yang komplementer dengan untai template

5 Teknik Uji Polymerase Chain Reaction (PCR)

Teknik PCR memiliki berbagai jenis sesuai dengan kebutuhan, yaitu conventional PCR, RT-PCR (reverse transcription PCR), qPCR (quantitative PCR), multiplex PCR, dan nested PCR. 

1. Conventional PCR

Conventional PCR merupakan metode standar, hasil amplifikasi dianalisis dengan elektroforesis gel. 

2. RT-PCR  (reverse transcription PCR)

RT-PCR (reverse transcription PCR), digunakan untuk mendeteksi RNA dengan cara mengubah RNA menjadi cDNA terlebih dahulu, metode ini sering digunakan untuk deteksi virus RNA seperti COVID-19). 

Baca juga:
Mengenal Tes PCR untuk Mendiagnosis COVID-19

3. qPCR  (quantitative PCR)

qPCR (quantitative PCR), amplifikasi DNA secara real-time menggunakan pewarna fluoresen, mengukur jumlah DNA target secara kuantitatif. 

4. Multiplex PCR

Multiplex PCR, yaitu amplifikasi beberapa target DNA secara bersamaan dalam satu reaksi menggunakan beberapa pasang primer. 

5. Nested PCR

Nested PCR adalah metode yang menggunakan dua set primer bertahap untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas deteksi. 

Kelebihan dan Kekurangan Teknik PCR

Dengan kemajuan teknik PCR yang semakin canggih, PCR telah diaplikasikan untuk keperluan medis, forensik, penelitian genetik, maupun lingkungan. Dalam dunia medis, PCR telah digunakan untuk mendiagnosis suatu penyakit. PCR dapat digunakan untuk identifikasi mutasi genetik penyebab kanker atau penyakit turunan serta deteksi patogen penyebab penyakit (virus, bakteri, jamur, dan parasit). 

Di bidang forensik, PCR digunakan untuk DNA fingerprinting identifikasi individu dari sampel biologis (darah, rambut, air liur). Penelitian genetik menggunakan PCR meliputi analisis ekspresi gen, kloning gen, dan rekayasa genetika. Selain itu, aplikasi PCR juga dapat mendeteksi mikroorganisme dari tanah, air, atau sampel lingkungan lain.

Kelebihan teknik PCR adalah proses yang cepat dan efisien, sangat sensitif dalam mendeteksi DNA dari sampel berukuran sel, dan bisa memperbanyak DNA yang rusak. Namun, kelemahannya adalah memerlukan primer yang harus didesain khusus agar menempel di lokasi yang tepat, rentan kontaminasi sehingga menghasilkan positif palsu, kesalahan replikasi, dan amplifikasi terbatas. Kemajuan teknologi biologi molekuler, seperti PCR telah merevolusi metode deteksi, identifikasi, dan karakterisasi agen penyebab penyakit menjadi lebih cepat dan akurat. 

Namun, pengembangan terus diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan akurasi di berbagai situasi klinis maupun riset. Dengan memahami cara kerja PCR dan berbagai aplikasinya, kita bisa melihat betapa pentingnya teknik ini dalam dunia medis, forensik, maupun penelitian. Jika Anda membutuhkan layanan uji laboratorium berbasis PCR yang akurat dan terpercaya, percayakan pada tenaga ahli berpengalaman untuk memastikan hasil yang valid dan dapat diandalkan.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Adane, Mamo, et al. “A Brief Review on Molecular Diagnostic Tools: Principles, Application and Limitations.” Advances in Biological Research, vol. 10, no. 6, 2016, pp. 388-397. ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/342066412.

Bustin, S. A., & Jellinger, K. A. (2023). Advances in molecular medicine: Unravelling disease complexity and pioneering precision healthcare. International Journal of Molecular Sciences, 24(14168). 

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak