
Kosmetik Ilegal Di Marketplace: Ini Pentingnya Uji Keamanan Produk

Belanja kosmetik di marketplace kini semakin mudah, cepat, dan sering kali menawarkan harga yang lebih menarik. Namun, kemudahan ini juga membuka celah bagi peredaran kosmetik ilegal, baik produk tanpa izin edar, produk impor yang tidak sesuai ketentuan, maupun kosmetik yang mengandung bahan berbahaya.
Bagi konsumen, kondisi ini bisa meningkatkan risiko iritasi hingga dampak kesehatan yang lebih serius. Sementara bagi brand kosmetik, isu ini menjadi pengingat bahwa keamanan produk tidak cukup hanya dibangun dari tampilan kemasan atau klaim promosi, tetapi perlu didukung oleh legalitas, formulasi yang aman, dan uji keamanan produk yang tepat.
Daftar isi:
- Marketplace dan Risiko Kosmetik Ilegal
- Mengapa Kosmetik Ilegal Berbahaya?
- Pentingnya Izin Edar dan Pengecekan Produk
- Peran Uji Keamanan Produk Bagi Brand Kosmetik
- Bangun Produk yang Lebih Terpercaya
Marketplace dan Risiko Kosmetik Ilegal
Marketplace menjadi salah satu kanal penjualan yang sangat kuat untuk produk kosmetik. Banyak brand memanfaatkannya untuk menjangkau konsumen lebih luas, termasuk brand lokal, produk impor, hingga reseller. Namun, di sisi lain, marketplace juga bisa menjadi tempat masuknya produk yang tidak memenuhi ketentuan.
BPOM pernah merilis temuan terkait produk obat dan makanan ilegal atau berbahaya yang beredar di marketplace sepanjang 2025, dan kosmetik ilegal atau mengandung hidrokinon menjadi kategori terbanyak dengan jumlah hampir 4,6 juta produk. Temuan ini menunjukkan bahwa peredaran kosmetik ilegal secara online bukan isu kecil, tetapi sudah menjadi perhatian serius dalam pengawasan produk.
Kosmetik ilegal bisa berupa produk tanpa notifikasi BPOM, produk impor tanpa izin edar, produk yang komposisinya tidak jelas, atau produk yang mengandung bahan dilarang. Produk seperti ini sering kali terlihat menarik karena harganya murah, klaimnya berlebihan, atau memiliki testimoni yang tampak meyakinkan. Padahal, tanpa informasi dan pengujian yang jelas, keamanan produk sulit dipastikan.
Baca juga:
Mengapa Uji Klinis Kosmetik Penting untuk Mendukung Klaim Produk?
Mengapa Kosmetik Ilegal Berbahaya?
Kosmetik digunakan langsung pada kulit, bibir, area mata, rambut, atau bagian tubuh lainnya. Karena itu, bahan yang terkandung di dalamnya perlu dipastikan aman sesuai tujuan penggunaan.
Produk ilegal berisiko mengandung bahan yang tidak sesuai ketentuan, kadar bahan yang tidak terkontrol, atau cemaran yang dapat merugikan konsumen. Pada triwulan pertama 2026, BPOM menindak 11 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang, seperti asam retinoat, deksametason, hidrokinon, merkuri, pewarna merah K10, serta senyawa 1,4 dioksan.
Bahan-bahan tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan, terutama jika digunakan tanpa pengawasan dan dalam jangka panjang. Selain itu, BPOM juga pernah menghentikan peredaran online kosmetik impor ilegal senilai puluhan miliar rupiah pada Juni 2026.
Produk yang diamankan menunjukkan bahwa pengawasan kosmetik online menjadi sangat penting, terutama karena distribusinya bisa cepat dan luas.
Pentingnya Izin Edar dan Pengecekan Produk
Salah satu langkah penting untuk memastikan legalitas kosmetik adalah mengecek izin edar atau notifikasi produk. BPOM menyediakan fasilitas Cek Produk BPOM yang dapat digunakan untuk melihat data produk teregistrasi, termasuk kategori kosmetika.
Pada halaman Cek Produk BPOM, kosmetika termasuk salah satu kategori produk teregistrasi yang bisa dicari oleh masyarakat maupun pelaku usaha. Bagi konsumen, pengecekan ini membantu mengurangi risiko membeli produk ilegal.
Bagi brand, izin edar menunjukkan bahwa produk telah melalui proses administratif dan pemenuhan dokumen sesuai ketentuan. Namun, legalitas saja tetap perlu didukung dengan kualitas formula dan pengujian yang relevan agar produk lebih terpercaya.
Peran Uji Keamanan Produk Bagi Brand Kosmetik
Uji keamanan produk membantu brand memastikan bahwa kosmetik yang dipasarkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga layak digunakan. Pengujian dapat mencakup uji mikrobiologi, uji stabilitas, uji iritasi, uji kandungan bahan tertentu, hingga uji cemaran sesuai kebutuhan produk.
Misalnya, produk skincare dengan klaim aman untuk kulit sensitif perlu memiliki dasar pengujian yang sesuai. Produk dengan bahan aktif seperti retinol, vitamin C, AHA, BHA, atau niacinamide juga perlu diperhatikan stabilitas dan potensi iritasinya.
Sementara itu, produk berbasis air seperti toner, serum, atau lotion perlu diperhatikan risiko cemaran mikroba dan efektivitas pengawetnya. Dengan pengujian laboratorium, brand dapat memiliki data pendukung untuk memastikan kualitas produk, memperkuat klaim, dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Ini penting terutama di tengah persaingan marketplace yang ketat, di mana konsumen semakin kritis terhadap keamanan, izin edar, dan bukti klaim produk.
Bangun Produk yang Lebih Terpercaya
Kalau brand kamu ingin memasarkan kosmetik secara lebih aman dan profesional, pastikan kualitas produk tidak hanya mengandalkan klaim di kemasan atau tren marketplace.
Bersama IML Testing and Research, kamu bisa melakukan pengujian produk secara tepat untuk membantu mendukung keamanan, stabilitas, kualitas, dan kredibilitas brand sebelum produk dipasarkan.
Kesimpulan
Kosmetik ilegal di marketplace menjadi isu yang perlu diperhatikan oleh konsumen maupun pelaku usaha. Produk yang terlihat viral, murah, atau memiliki review menarik belum tentu aman digunakan.
Bagi brand kosmetik, keamanan produk harus dibangun sejak awal melalui pemilihan bahan yang tepat, pemenuhan regulasi, izin edar, dan pengujian laboratorium. Dengan begitu, produk tidak hanya siap bersaing di marketplace, tetapi juga lebih aman, terpercaya, dan memiliki kredibilitas yang kuat di mata konsumen.
Author & Editor: Alphi
Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026). BPOM hentikan peredaran online kosmetik impor ilegal senilai puluhan miliar rupiah. BPOM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026). BPOM tindak 11 kosmetik mengandung bahan berbahaya dan bahan dilarang pada triwulan pertama 2026. BPOM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026). Top 10 produk obat dan makanan ilegal atau berbahaya yang beredar di marketplace sepanjang tahun 2025. BPOM RI.



