
Skincare Viral di Sosmed: Apakah Aman atau Hanya Ikut Tren

Skincare yang viral di media sosial sering kali terlihat meyakinkan karena banyak direkomendasikan, memiliki review positif, atau menampilkan hasil before after yang menarik. Namun, popularitas sebuah produk tidak selalu berarti produk tersebut aman, stabil, dan sesuai untuk semua jenis kulit.
Bagi konsumen maupun brand skincare, penting untuk memahami bahwa klaim produk sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga didukung oleh keamanan bahan, izin edar, dan pengujian laboratorium yang tepat.
Daftar isi:
- Kenapa Skincare Bisa Cepat Viral?
- Viral Belum Tentu Aman
- Klaim Skincare Perlu Dibuktikan
- Peran Uji Laboratorium untuk Brand Skincare
Kenapa Skincare Bisa Cepat Viral?
Media sosial membuat tren skincare berkembang sangat cepat. Produk yang awalnya tidak dikenal bisa langsung ramai dibicarakan hanya karena satu video review, testimoni influencer, atau klaim hasil yang terlihat instan. Klaim seperti mencerahkan dalam beberapa hari, menghilangkan jerawat, aman untuk kulit sensitif, atau bikin glowing sering kali menjadi daya tarik utama.
Namun, masalahnya, tidak semua konten promosi menjelaskan produk secara lengkap. Konsumen sering kali hanya melihat hasil akhir, tanpa memahami kandungan bahan, cara penggunaan, risiko iritasi, atau apakah produk tersebut sudah memiliki izin edar resmi. BPOM sendiri pernah mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak tren skincare viral semata dan menyarankan langkah CEKLIK, yaitu cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa.
Viral Belum Tentu Aman
Produk skincare yang ramai di sosmed belum tentu otomatis aman. Keamanan produk kosmetik dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti jenis bahan aktif, kadar bahan, pH formula, stabilitas produk, kebersihan proses produksi, hingga risiko cemaran mikroba atau bahan berbahaya.
Pada triwulan pertama 2026, BPOM menindak 11 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang, seperti asam retinoat, deksametason, hidrokinon, merkuri, pewarna merah K10, serta senyawa 1,4 dioksan. Temuan seperti ini menunjukkan bahwa keamanan kosmetik tidak bisa hanya dinilai dari popularitas atau klaim yang beredar di media sosial.
Bagi konsumen, penggunaan skincare yang tidak aman dapat meningkatkan risiko iritasi, kemerahan, kulit mengelupas, jerawat semakin parah, hingga efek yang lebih serius jika mengandung bahan berbahaya. Sementara bagi brand, produk yang tidak teruji dapat merusak reputasi, menurunkan kepercayaan pasar, dan berisiko menimbulkan masalah regulasi.
Klaim Skincare Perlu Dibuktikan
Dalam industri skincare, klaim produk menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian. Namun, klaim seperti mencerahkan, melembapkan, anti aging, aman untuk kulit sensitif, atau dermatologically tested sebaiknya tidak dibuat hanya karena sedang tren.
Setiap klaim perlu memiliki dasar yang jelas. Misalnya, klaim melembapkan dapat didukung dengan uji hidrasi kulit, klaim stabil dapat didukung dengan uji stabilitas, dan klaim aman dapat didukung dengan uji iritasi atau pengujian keamanan lain yang relevan. Dengan adanya data uji, brand tidak hanya membuat klaim yang menarik, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap konsumen.
BPOM juga mengingatkan bahwa kosmetik hanya boleh dipromosikan atau diiklankan apabila telah memiliki izin edar, dan promosi kosmetik harus sesuai dengan ketentuan penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. Hal ini penting agar informasi yang diterima konsumen tidak menyesatkan.
Baca juga:
Apa Itu Uji Dermatologi? Kenali Artinya Sebelum Beli Skincare
Peran Uji Laboratorium untuk Brand Skincare
Bagi brand skincare, uji laboratorium berperan penting dalam memastikan produk aman, berkualitas, dan konsisten sebelum dipasarkan. Pengujian dapat membantu menilai apakah formula tetap stabil selama penyimpanan, apakah produk bebas dari cemaran mikroba tertentu, serta apakah kandungan bahan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
Beberapa jenis uji yang relevan untuk produk skincare antara lain uji stabilitas, uji mikrobiologi, uji iritasi, uji efektivitas pengawet, dan pengujian bahan tertentu sesuai kebutuhan produk. Misalnya, produk berbasis serum vitamin C perlu diperhatikan stabilitasnya karena bahan aktif tersebut sensitif terhadap cahaya, udara, dan suhu.
Produk dengan klaim untuk kulit sensitif juga perlu memiliki dasar pengujian yang lebih kuat agar klaimnya tidak hanya menjadi strategi marketing. Dengan pengujian yang tepat, brand dapat memiliki data pendukung untuk memperkuat kualitas produk.
Hal ini juga membantu brand lebih siap saat berhadapan dengan distributor, marketplace, konsumen, maupun kebutuhan dokumen pendukung lainnya.
Kesimpulan
Skincare viral di sosmed memang bisa menjadi peluang besar bagi brand, tetapi popularitas tidak boleh menggantikan aspek keamanan dan kualitas. Produk yang ramai dibicarakan tetap perlu dipastikan izin edarnya, komposisinya, stabilitasnya, serta klaimnya. Bagi konsumen, penting untuk lebih kritis sebelum membeli skincare hanya karena sedang tren.
Bagi brand, pengujian laboratorium menjadi langkah penting untuk membangun produk yang tidak hanya viral, tetapi juga aman, terpercaya, dan siap bersaing di pasar.
Bukan Cuma Viral, Harus Teruji
Kalau brand kamu sedang mengembangkan skincare dengan klaim menarik atau ingin produknya lebih dipercaya konsumen, pastikan keamanan dan kualitasnya tidak hanya berdasarkan tren di sosmed.
Bersama IML Testing and Research, kamu bisa melakukan pengujian produk secara profesional untuk membantu mendukung klaim, stabilitas, keamanan, dan kredibilitas brand sebelum produk dipasarkan.
Author & Editor: Alphi
Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026). Skincare viral di media sosial, aman dipakai atau sekadar ikut tren. Direktorat Intelijen Obat dan Makanan BPOM.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2026). BPOM tindak 11 kosmetik mengandung bahan berbahaya dan bahan dilarang pada triwulan pertama 2026. BPOM RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2025). BPOM intensifkan pengawasan, Rp31,7 miliar kosmetik ilegal ditemukan. BPOM RI.



