Skincare dan Makeup Bisa Basi? Kenali Fungsi dan Efek Samping Bahan Pengawet dalam Kosmetik

Setiap produk farmasi yang mengandung air memiliki risiko tinggi terhadap kontaminasi mikroba. Jika tidak dikendalikan, mikroba dapat merusak stabilitas produk dan bahkan membahayakan konsumen. Karena itu, penggunaan bahan pengawet antimikroba menjadi elemen penting dalam menjaga keamanan dan mutu produk farmasi maupun kosmetik.

Produk farmasi yang mengandung air, seperti sirup, krim, gel, atau sabun cair memerlukan perlindungan keamanan terhadap kontaminasi mikroba, yang dapat merusak stabilitas produk atau menginfeksi customer. Dengan demikian, diperlukan agen antimikroba atau pengawet dalam formulasi tersebut. Bahan pengawet antimikroba merupakan bahan tambahan yang diperlukan dalam formulasi farmasi maupun kosmetik untuk mencegah produk sediaan yang tidak steril terhadap pertumbuhan mikroba atau bakteri yang masuk secara tidak sengaja selama proses produksi. 

Tujuan utamanya adalah untuk mencegah pembusukan yang diakibatkan oleh mikroba. Dalam pengemasan wadah steril yang dikemas pada wadah dosis ganda, juga memerlukan tambahan bahan pengawet antimikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri akibat pengambilan dosis secara berulang dari wadah tersebut. Selain digunakan untuk mencegah pembusukan oleh mikroba, bahan pengawet digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan efektivitas senyawa dalam produk, memperpanjang umur simpan produk, serta meningkatkan stabilitas produk selama masa penyimpanan.

Perlu hati-hati juga dalam menggunakan agen antimikroba, karena senyawa antimikroba memiliki sifat yang sangat berbahaya. Untuk memaksimalkan keamanan konsumen, konsentrasi bahan pengawet yang secara aktif digunakan dalam finalisasi produk harus berada di tingkat yang tidak menimbulkan bahaya terhadap manusia. Jika dalam formulasi produk sudah mengandung bahan aktif yang bersifat antibakteri, maka penggunaan bahan pengawet antimikroba harus dalam konsentrasi yang minimum.

Sebagai tambahan, istilah antibakteri dan bahan pengawet antimikroba memiliki definisi yang berbeda, walaupun keduanya memiliki kesamaan dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Antibakteri merupakan agen yang dapat menghambat atau membunuh jenis bakteri tertentu. Sedangkan bahan pengawet antimikroba merupakan senyawa kimia yang ditambahkan dalam produk untuk mencegah pembusukan yang disebabkan oleh mikroba (bakteri, virus, ragi, jamur).

Karakteristik Bahan Pengawet yang Baik

Bahan pengawet yang baik memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Efektif terhadap berbagai jenis mikroba (bakteri, ragi, virus, jamur) pada konsentrasi yang rendah
  • Sifat kimia dan fisik stabil selama penggunaan pada rentang pH dan suhu yang luas. Artinya, pengawet dapat mempertahankan aktivitas selama proses produksi, masa simpan, dan penggunaan produk
  • Dapat larut dalam air 
  • Kompatibel dengan berbagai jenis zat aktif dan bahan tambahan lainnya
  • Tidak memiliki bau, rasa, atau warna
  • Tidak bersifat toksik dan menimbulkan iritasi
  • Tidak bereaksi dengan wadah atau penutup (tidak menyerap, menembus atau berinteraksi dengan kemasan)

Baca juga:
Daftar Bahan Pengawet yang diizinkan dalam kosmetik

Kondisi Produk Seperti Apa yang Tidak Memerlukan Pengawet?

pengawet kosmetik, pengawet skincare, pengawet makeup.
Produk kosmetik atau skincare berbentuk cream. Sumber: Freepik

Formulasi produk tidak harus selalu ditambahkan pengawet, bergantung bagaimana kondisi produk tersebut. Kondisi produk yang tidak memerlukan tambahan pengawet adalah ketika produk akan segera diterima dan langsung digunakan. Produk ini sudah dibuat dengan prosedur yang tepat untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi mikroba. 

Kondisi lainnya adalah ketika produk tidak mengandung air. Karena mikroba memerlukan air untuk pertumbuhannya. Bentuk sediaan ini biasanya adalah tablet, bubuk, dan salep hidrokarbon. Kemudian, ketika pH dalam formulasi netral atau mendekati basa (< 3 atau > 9), tidak perlu menambahkan pengawet ke dalam formulasi tersebut. 

Rentang pH ini sudah dapat menekan pertumbuhan sebagian besar mikroba. Formulasi yang sudah mengandung bahan aktif bersifat antimikroba juga tidak perlu lagi menambahkan bahan pengawet, karena antimikroba sudah cukup untuk menghambat atau membunuh mikroba yang menyebabkan kerusakan produk. Penggunaan bahan pengawet juga tidak dianjurkan bagi bayi yang baru lahir, balita, larutan mata (untuk operasi mata, transplantasi kornea, atau injeksi intraokuler), dan produk parenteral dalam jumlah yang lebih besar dari 30 ml.

Keamanan dan Efek Samping Penggunaan Pengawet

Dalam memilih bahan pengawet, penting untuk mempertimbangkan efek samping yang berbahaya bagi kita. Meskipun kebanyakan pengawet digunakan dalam konsentrasi rendah dan memiliki potensi efek samping  yang rendah, tetap perlu membandingkan dengan risiko paparan mikroba. Idealnya, pengawet hanya aktif terhadap mikroba tanpa berdampak pada sel mamalia. 

Namun, pengawet tertentu memiliki efek terhadap keduanya. Umumnya, alkohol dianggap sebagai pengawet yang aman, tetapi benzyl alkohol tidak disarankan untuk produk parenteral karena diketahui bersifat toksik pada bayi. Sementara, cetyl dan stearyl alkohol diketahui jarang menimbulkan sensitivitas. 

Phenylethanol dan benzoic acid diketahui menyebabkan iritasi ringan. Selain itu, paraben juga bersifat dapat menyebabkan iritasi sehingga dianggap kurang baik untuk produk parenteral dan oftalmik. Fenol dan turunannya, seperti chlorocresol dan chloroxylenol, juga dapat menyebabkan iritasi jika digunakan dalam dosis tinggi atau di area sistem saraf pusat. 

Pengawet berbasis merkuri yang saat ini cukup dipermasalahkan karena kekhawatiran toksisitasnya. Thimerosal, salah satu jenis merkuri, dapat menyebabkan reaksi alergi. Pengawet EDTA yang dianggap relatif aman, ternyata dapat menyebabkan bronkokonstriksi, toksisitas ginjal, dan kekurangan kalsium jika tidak digunakan dengan hati-hati. 

Penggunaan pengawet harus mempertimbangkan efektivitas antimikroba serta potensi risiko terhadap manusia, terutama bila digunakan dalam produk parenteral, oftalmik, atau topikal. Pengujian efektivitas antimikroba untuk mengukur efektivitas sistem pengawet penting dalam memastikan produk tetap aman dari kontaminasi mikroba. 

Baca juga:
3 Rekomendasi Laboratorium Uji Kosmetik untuk Izin Edar! 

Pastikan formulasi produk kosmetik Anda sudah efektif dalam mencegah pertumbuhan mikroba berbahaya. Lakukan pengujian laboratorium produk skincare, makeup atau kosmetik Anda untuk memastikan kadar bahan pengawet tetap aman bagi konsumen produk Anda. Dengan pengujian yang tepat, produk Anda dapat terjaga stabilitas formula dan keamanannya hingga sampai ke tangan konsumen.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Al-Rubaye, I. M. M. (2022). A review of the literature on antimicrobial preservatives: Definition, properties, classification, safety, side effects and antimicrobial effectiveness testing. Atena Journal of Public Health, 4(7).

Revive.gardp. 2025. Antibiotic, antibacterial and antimicrobial. Tersedia: https://revive.gardp.org/resource/antibiotic-antibacterial-and-antimicrobial/?cf=encyclopaedia#:~:text=Antibacterial:%20A%20drug%2C%20chemical%20or,%2C%20viruses%2C%20fungi%20and%20parasites, diakses pada 9 April 2025.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak