
Waspada! Kandungan Metanol dalam Parfum Bisa Sebabkan Keracunan

- Mengenal Parfum dan Komposisi Utamanya
- Jenis Pelarut Parfum yang Aman Digunakan
- Risiko Paparan Metanol dalam Parfum
- Dampak Metanol terhadap Kesehatan
- Pentingnya Pengujian Metanol dalam Parfum
Mengenal Parfum dan Komposisi Utamanya
Parfum adalah campuran minyak esensial atau senyawa aroma, fiksatif, dan pelarut yang digunakan untuk memberikan aroma yang menyegarkan pada tubuh manusia, hewan, makanan, benda, dan ruang. Biasanya berbentuk cair dan digunakan untuk memberikan wangi khas tertentu. Parfum dikategorikan ke dalam beberapa jenis, jika dibedakan berdasarkan proporsi pelarut yang digunakan dalam formulasi diantaranya:
- Perfume extract (20–30%),
- Eau de Parfum (8–15%),
- Eau de Toilette (4–8%),
- Eau de Cologne (1–3%)
Pemilihan jenis pelarut disesuaikan dengan karakteristik bahan parfum tertentu.
Jenis Pelarut Parfum yang Aman Digunakan
Pelarut yang paling umum digunakan adalah etanol, air, dipropilen glikol, isopropil miristat, dan minyak pembawa. Metanol pernah digunakan sebagai pelarut dalam industri parfum namun penggunaannya telah dibatasi karena dianggap sebagai bahan beracun. Metanol dapat melarutkan senyawa kimia organik dan dipilih sebagai pelarut karena harganya yang lebih murah dibandingkan etanol.
Sifatnya yang cepat menguap bisa membantu penyebaran aroma namun metanol memiliki sifat beracun. Metanol dapat berbahaya bagi kesehatan bahkan dalam jumlah yang kecil, paparan langsung dapat mengakibatkan iritasi kulit dan mata, kerusakan sistem saraf, gangguan penglihatan hingga kebutaan, kerusakan hati dan ginjal, serta kematian jika tertelan dalam jumlah tertentu.
Risiko Paparan Metanol dalam Parfum
Komponen parfum yang cair umumnya diaplikasikan menggunakan wadah semprot. Atomizer parfum merupakan alat yang berfungsi mengubah cairan menjadi partikel yang lebih halus atau kabut agar dapat diaplikasikan merata ke kulit atau pakaian. Partikel halus yang terbentuk tersebar ke udara dan menempel pada permukaan kulit.
Metanol akan menguap sangat cepat ke udara dibandingkan etanol karena memiliki titik didih rendah. Jadi paparan metanol ke kulit rendah jika jarak penyemprotan jauh dan kadar metanol rendah. Namun uap metanol di udara mudah masuk ke paru-paru yang bisa menyebabkan pusing, mual, hingga keracunan jika ruangan minim kadar oksigen.
Dampak Metanol terhadap Kesehatan

Metanol mudah diserap melalui kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan yang akan didistribusikan ke seluruh organ tubuh. Namun metanol dianggap tidak mutagenik dan data mengenai karsinogeniknya tidak tersedia. Di Indonesia, penggunaan metanol dalam parfum telah dibatasi karena berbahaya bagi kesehatan.
Pada pasal 4 ayat (5) dan pada Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 23 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika, pelarut berupa alkohol yang digunakan tidak boleh mengandung metanol lebih dari 5% sebagai persentase dari etanol dan isopropil alkohol.
Pentingnya Pengujian Metanol dalam Parfum
Penentuan keberadaan metanol serta kadarnya dalam suatu campuran produk dapat dilakukan pengujian laboratorium kimia. Salah satunya dengan metode kromatografi gas. Deteksi metanol dapat dilakukan secara kuantitatif, tidak hanya metanol tapi pelarut lain seperti etanol, isopropanol, dan lainnya dapat terkuantifikasi.
Dengan mengetahui komponen bahan kimia yang terkandung dalam suatu produk, dapat ditentukan keamanannya dan dapat digunakan sebagai dokumen pendukung dalam perizinan BPOM. Informasi ini juga menjadi dasar dalam proses evaluasi risiko, penentuan batas penggunaan bahan, serta memastikan bahwa produk tidak mengandung zat berbahaya yang dilarang atau dibatasi penggunaannya. Selain itu, data kandungan bahan kimia yang valid dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan mempermudah proses distribusi serta pengawasan post-market oleh otoritas terkait.
Baca juga:
Parfum Bisa Berbahaya? Inilah Regulasi Penting untuk Menjamin Keamanannya
Pastikan parfum Anda terbukti aman melalui pengujian laboratorium yang terakreditasi. Lakukan analisis kandungan metanol dan pelarut lain untuk memastikan formulasi sesuai regulasi BPOM. Dengan hasil uji laboratorium yang valid, produk Anda siap beredar dengan aman dan dipercaya konsumen.
Author: Delfia
Editor: Sabilla
Referensi:
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 2019. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 23 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika. Tautan dapat diakses pada https://peraturan.bpk.go.id/Details/224837/peraturan-bpom-no-23-tahun-2019.
Putri, Tikarahayu, et al. 2023. Formulation and Evaluation of Eau De Parfume (EDP) Floral Aroma Characteristics. Indonesian Journal of Cosmetics Vol 1 No. 1.



