Sunscreen Berlabel SPF 50, Apakah Nilainya Sesuai Hasil Uji?

Sunscreen berlabel SPF 50 semakin mudah ditemukan dalam bentuk krim, losion, gel, stik, hingga semprotan. Angka yang tinggi sering menjadi daya tarik utama karena konsumen mengaitkannya dengan perlindungan yang lebih kuat terhadap paparan sinar matahari.

Namun, nilai SPF 50 pada kemasan tidak cukup ditentukan berdasarkan jenis atau jumlah bahan UV filter yang dimasukkan ke dalam formula. Produsen perlu membuktikan kinerja produk akhir melalui metode pengujian yang sesuai.

BPOM menegaskan bahwa kosmetik tabir surya dengan klaim SPF wajib dinotifikasi dan dievaluasi dari aspek keamanan, manfaat, serta mutu produk. Oleh karena itu, pertanyaan penting bagi pemilik merek bukan hanya apakah produknya mengandung UV filter, tetapi juga: apakah sunscreen tersebut benar-benar menghasilkan nilai SPF 50 ketika diuji?

Daftar Isi:

Apa Arti SPF 50 pada Sunscreen?

SPF atau Sun Protection Factor menunjukkan perbandingan jumlah energi radiasi ultraviolet yang diperlukan untuk menimbulkan eritema atau kemerahan pada kulit yang dilindungi sunscreen dengan kulit yang tidak dilindungi.

Dengan demikian, SPF tidak secara langsung menunjukkan berapa jam seseorang dapat berada di bawah sinar matahari. Intensitas radiasi UV dapat berubah berdasarkan waktu, lokasi, kondisi lingkungan, dan pola paparan.

FDA juga menjelaskan bahwa angka SPF terutama menggambarkan perlindungan terhadap efek kemerahan akibat sinar matahari, yang sebagian besar berkaitan dengan UVB. Label SPF 50 berarti produk harus mencapai nilai yang sesuai melalui pengujian terstandar.

Angka tersebut bukan sekadar hasil perhitungan teoritis berdasarkan kandungan UV filter di dalam formula.

Mengapa Kandungan UV Filter Belum Cukup Membuktikan SPF?

Bahan UV filter memang menjadi komponen utama sunscreen. Namun, kinerja produk akhir juga dipengaruhi oleh:

  • konsentrasi dan kombinasi UV filter;
  • kemampuan bahan menyebar secara merata;
  • ukuran partikel pada filter tertentu;
  • jenis emulsi dan bahan pembawa;
  • viskositas serta karakter aliran produk;
  • kestabilan formula terhadap cahaya;
  • interaksi antarkomponen;
  • kemampuan produk membentuk lapisan yang merata pada kulit.
  • Pengujian Pendukung untuk Produk Sunscreen SPF 50

Penelitian mengenai hubungan sifat reologi dan SPF menunjukkan bahwa karakteristik formula dapat memengaruhi pembentukan lapisan sunscreen serta nilai perlindungan yang diperoleh. Karena itu, dua produk dengan jenis UV filter yang serupa belum tentu menghasilkan nilai SPF yang sama.

Perubahan kecil pada formula, pemasok bahan baku, proses homogenisasi, atau sistem pengemulsi juga dapat memengaruhi penyebaran produk. Itulah sebabnya pengujian sebaiknya dilakukan terhadap formula akhir yang benar-benar akan diproduksi dan dipasarkan.

Bagaimana Nilai SPF Diuji?

1. Uji SPF secara in vivo

ISO 24444:2019 menetapkan metode in vivo untuk menentukan nilai SPF produk sunscreen. Metode tersebut memberikan dasar evaluasi kemampuan produk dalam melindungi kulit manusia terhadap eritema yang dipicu oleh radiasi ultraviolet.

Standar ini telah ditinjau dan dikonfirmasi tetap berlaku pada 2026 serta memiliki amendemen yang diterbitkan pada 2022. Dalam pengujian, sunscreen diaplikasikan pada area kulit dengan jumlah dan prosedur yang dikendalikan.

Area terlindungi dan tidak terlindungi kemudian menerima paparan radiasi UV terukur untuk membandingkan dosis yang menimbulkan respons eritema. Sebagai contoh, metode FDA menetapkan aplikasi produk sebanyak 2 mg/cm² dan menunggu setidaknya 15 menit sebelum paparan UV. Prosedur terstandar diperlukan agar hasil antarsampel dapat dibandingkan secara objektif.

2. Uji SPF secara in vitro

ISO 23675:2024 menyediakan metode in vitro untuk menentukan SPF berdasarkan karakteristik absorbansi spektral produk. Metode ini dapat diterapkan pada sunscreen berbentuk emulsi atau formula satu fase berbasis alkohol, tetapi tidak mencakup produk serbuk lepas, serbuk padat, atau stik.

Metode tersebut digunakan untuk menentukan SPF statis dan tidak dapat digunakan untuk membuktikan klaim ketahanan terhadap air. Pemilihan metode harus mempertimbangkan bentuk sediaan, tujuan pengujian, persyaratan regulasi, serta klaim yang akan dicantumkan.

Selain itu, ISO 23698:2024 memperkenalkan pendekatan pengukuran efektivitas sunscreen melalui diffuse reflectance spectroscopy. Kehadiran metode baru ini menunjukkan bahwa teknologi pengujian sunscreen terus berkembang, tetapi penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan regulasi dan karakteristik produk.

Apakah SPF 50 Juga Membuktikan Perlindungan UVA?

Belum tentu. Nilai SPF terutama berkaitan dengan perlindungan terhadap eritema atau sunburn, yang lebih banyak dipengaruhi oleh UVB. Karena itu, produk dengan SPF tinggi tetap perlu dievaluasi secara terpisah apabila ingin menggunakan klaim perlindungan spektrum luas atau UVA.

ISO 24443:2021 menetapkan metode in vitro untuk mengkarakterisasi perlindungan UVA. Metode ini dapat menghasilkan parameter seperti UVA Protection Factor, panjang gelombang kritis, dan proporsionalitas absorbansi UVA. Standar tersebut juga telah memiliki amendemen terbaru yang diterbitkan pada Februari 2026.

Dengan demikian, pengembangan sunscreen sebaiknya tidak hanya mengejar angka SPF tinggi. Produsen juga perlu memastikan bahwa profil perlindungan UVA dan UVB sesuai dengan klaim yang akan disampaikan kepada konsumen.

Klaim Water Resistant Membutuhkan Pengujian Terpisah

Sunscreen berlabel SPF 50 tidak otomatis tahan terhadap air atau keringat. Klaim water resistant perlu dibuktikan melalui prosedur pengujian khusus.

Dalam ketentuan FDA, klaim ketahanan terhadap air harus menunjukkan bahwa perlindungan SPF tetap dipertahankan setelah periode perendaman selama 40 atau 80 menit sesuai prosedur pengujian.

ISO 23675:2024 juga secara tegas menyatakan bahwa metode SPF in vitro tersebut tidak berlaku untuk menentukan ketahanan produk terhadap air. Karena itu, klaim SPF dan klaim water resistant tidak boleh dianggap sebagai satu hasil pengujian yang sama.

Mengapa Hasil Uji SPF Dapat Berbeda dari Target Formula?

Produsen dapat menargetkan SPF 50 saat mengembangkan formula, tetapi hasil aktualnya dapat lebih rendah atau lebih tinggi. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Ketidakmerataan lapisan produk

Sunscreen harus membentuk lapisan yang merata agar radiasi UV tidak mudah melewati bagian yang tipis. Produk yang menggumpal, sulit diratakan, atau membentuk lapisan tidak seragam dapat menghasilkan perlindungan yang tidak konsisten.

Perubahan stabilitas formula

Paparan suhu, cahaya, oksigen, dan interaksi dengan kemasan dapat memengaruhi kestabilan bahan serta struktur formula. Jika produk berubah selama penyimpanan, performa SPF juga berpotensi mengalami perubahan.

Perbedaan jumlah pemakaian

Nilai SPF diperoleh menggunakan jumlah aplikasi yang dikendalikan. Dalam penggunaan sehari-hari, konsumen sering mengaplikasikan sunscreen lebih sedikit daripada jumlah yang digunakan dalam pengujian.

Sebuah penelitian pada mahasiswa Eropa menemukan jumlah aplikasi median sekitar 0,39 mg/cm², jauh di bawah jumlah 2 mg/cm² yang digunakan dalam metode uji FDA.

Pengaruh bentuk sediaan

Krim, gel, losion, stik, dan spray memiliki pola penyebaran yang berbeda. Oleh karena itu, bentuk sediaan perlu dipertimbangkan ketika memilih metode uji dan mengevaluasi kemungkinan penggunaan produk oleh konsumen.

Pengujian Pendukung untuk Produk Sunscreen SPF 50

Selain uji SPF, produsen dapat mempertimbangkan beberapa pengujian pendukung.

Uji perlindungan UVA

Pengujian ini diperlukan untuk menilai cakupan perlindungan terhadap UVA dan mendukung klaim seperti broad spectrum atau indikator perlindungan UVA lainnya.

Uji stabilitas

Uji stabilitas membantu mengevaluasi perubahan warna, aroma, pH, viskositas, homogenitas, pemisahan fase, serta kadar bahan selama penyimpanan.

Uji fotostabilitas

Pengujian ini mengevaluasi kemampuan formula mempertahankan perlindungannya setelah terpapar radiasi. Penelitian terhadap produk dengan nilai SPF label yang sama menunjukkan bahwa tingkat fotoproteksi dan fotostabilitasnya dapat berbeda.

Uji keamanan kulit

Karena sunscreen merupakan produk leave-on, evaluasi keamanan dapat mencakup uji iritasi, sensitisasi, atau kompatibilitas kulit sesuai karakteristik produk dan target pengguna.

Uji mikrobiologi dan efektivitas pengawet

Produk berbasis air perlu dievaluasi untuk memastikan mutu mikrobiologi serta kemampuan sistem pengawet mengendalikan kontaminasi selama masa penggunaan.

Dari Label SPF 50 Menuju Bukti Laboratorium

Pencantuman angka SPF merupakan klaim manfaat yang perlu didukung oleh data yang relevan. BPOM juga melarang klaim yang menyiratkan bahwa kosmetik mampu melindungi 100% dari sinar UVA atau UVB maupun membuat penggunaan ulang tidak diperlukan.

Karena itu, produsen harus menyusun komunikasi produk secara jujur dan sesuai dengan hasil pengujian. Produk berlabel SPF 50 tetap perlu digunakan mengikuti petunjuk, diaplikasikan secara merata, dan digunakan kembali sesuai kondisi pemakaian.

Pengujian bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dokumentasi. Data uji membantu perusahaan:

  • menentukan klaim yang sesuai;
  • mengevaluasi formula sebelum produksi massal;
  • membandingkan performa antarbatch;
  • mendukung pengembangan dan registrasi produk;
  • mengurangi risiko klaim yang tidak sesuai;
  • meningkatkan kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.

Lakukan Pengujian Sunscreen SPF 50 di IML Testing & Research

Jangan hanya mengandalkan target formula atau angka yang direncanakan pada kemasan. Konsultasikan dan lakukan pengujian sunscreen bersama IML Testing & Research untuk memastikan nilai SPF, perlindungan UVA, stabilitas, keamanan, serta parameter mutu lainnya sesuai dengan kebutuhan produk.

Pemilihan metode dapat disesuaikan dengan bentuk sediaan, target klaim, formula akhir, dan kebutuhan dokumentasi. Data laboratorium yang tepat membantu memperkuat kredibilitas klaim dan kesiapan sunscreen sebelum dipasarkan.

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

International Organization for Standardization. (2019). ISO 24444:2019—Cosmetics: Sun Protection Test Methods—In Vivo Determination of the Sun Protection Factor (SPF). Confirmed in 2026.

International Organization for Standardization. (2022). ISO 24444:2019/Amd 1:2022—In Vivo Determination of the Sun Protection Factor—Amendment 1.

International Organization for Standardization. (2024). ISO 23675:2024—Cosmetics: Sun Protection Test Methods—In Vitro Determination of Sun Protection Factor.

International Organization for Standardization. (2024). ISO 23698:2024—Cosmetics: Measurement of Sunscreen Efficacy by Diffuse Reflectance Spectroscopy.

International Organization for Standardization. (2021). ISO 24443:2021—Cosmetics: Determination of Sunscreen UVA Photoprotection In Vitro, including Amendment 1:2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2023). Penjelasan BPOM tentang Informasi Kosmetik Tabir Surya dengan Klaim SPF.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2024). Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik.

United States Food and Drug Administration. Labeling and Effectiveness Testing: Sunscreen Drug Products for Over-the-Counter Human Use.

Autier, P., Boniol, M., Severi, G., & Doré, J. F. (2001). Quantity of sunscreen used by European students. British Journal of Dermatology, 144(2), 288–291.

Gaspar, L. R., & Maia Campos, P. M. B. G. (2003). Rheological behavior and the SPF of sunscreens. International Journal of Pharmaceutics, 250(1), 35–44.

Hojerová, J., Medovcíková, A., & Mikula, M. (2011). Photoprotective efficacy and photostability of fifteen sunscreen products having the same label SPF. Photodermatology, Photoimmunology & Photomedicine, 27(2), 95–102.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak