Membongkar Rahasia di Balik Uji Kehalalan

Kehalalan makanan bukan hanya perkara agama, melainkan juga menjadi simbol kualitas, keamanan, dan integritas dalam rantai pasok pangan global. Seiring meningkatnya populasi Muslim di dunia yang diperkirakan mencapai 2,2 miliar jiwa pada tahun 2030, nilai pasar makanan halal secara global diproyeksikan akan melebihi USD 1.400 miliar pada 2020 dan bisa meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2050. Hal ini menempatkan kehalalan makanan sebagai isu strategis dalam industri pangan dunia.  

Kehalalan tidak bisa ditentukan hanya dengan rasa, aroma, atau tampilan. Saat ini, konsumen Muslim sangat bergantung pada label dan sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti JAKIM di Malaysia atau MUI di Indonesia. Tetapi, banyaknya kejadian seperti pemalsuan status kehalalan, kontaminasi silang, dan kurangnya transparansi dalam rantai pasok membuat keaslian produk halal kerap diragukan.  

Tipe-tipe Makanan yang Memerlukan Autentikasi Kehalalan

Penting diketahui jenis makanan apa saja yang perlu diperhatikan soal kehalalan. Makanan tersebut adalah produk daging dan olahannya, produk gelatin, minuman dan produk fermentasi, produk makanan olahan campuran, produk berbasis transgenik (GMO), dan produk susu serta turunannya. Produk daging, seperti daging sapi, ayam, kambing, cincang, sosis, dan bakso memerlukan autentikasi kehalalan karena daging merupakan makanan yang rentan terhadap pemalsuan dengan daging babi karena alasan ekonomi, yaitu harga yang lebih murah dibandingkan daging lainnya. 

Hal yang menjadi tantangannya adalah sulit membedakan antar daging secara visual, serta proses penyembelihan yang harus sesuai syarat Islam. Produk gelatin, seperti permen karet, marshmallow, dan kapsul farmasi juga perlu autentikasi halal karena bahan gelatin bisa berasal dari babi. Gelatin babi adalah yang paling sering digunakan karena murah dan mudah diperoleh. 

Namun, gelatin sulit dideteksi setelah diproses, dan seringkali tidak dicantumkan secara spesifik dalam label. Produk fermentasi bisa mengandung alkohol sebagai bahan tambahan atau hasil samping fermentasi. Alkohol dalam produk fermentasi dikatakan tidak halal jika ditambahkan secara sengaja, memberi efek memabukkan, dan kadarnya melebihi 0.5% (MUI). 

Produk GMO, seperti kedelai, jagung, atau bahan pangan hasil rekayasa genetika bisa dianggap tidak halal jika gen yang digunakan berasal dari organisme haram. Namun, tantangannya memerlukan uji DNA khusus dan modifikasi genetik tidak terlihat secara fisik. Selain itu, keju, yoghurt, dan es krim bisa mengandung enzim (rennet) yang berasal dari babi atau sapi yang tidak disembelih secara halal.  

Teknologi Modern untuk Memverifikasi Makanan Halal

Untuk memastikan kehalalan produk, peneliti telah mengembangkan berbagai metode autentikasi. Teknik konvensional seperti elektroforesis dan analisis fisikokimia kini didampingi oleh teknologi canggih seperti PCR (Polymerase Chain Reaction), yang mampu mendeteksi jejak DNA babi dalam produk daging dan gelatin. PCR juga digunakan dalam format multiplex untuk mengidentifikasi beberapa sumber gelatin (sapi, babi, dan ikan) dalam satu kali uji.

Baca juga:
Perbedaan PCR Konvensional dan Real-Time PCR

Selain itu, alat seperti electronic nose (E-nose) dan biosensor menjadi terobosan baru dalam autentikasi halal karena kemampuannya mendeteksi senyawa volatil secara cepat.

  • E-nose dapat mengidentifikasi aroma khas daging babi atau alkohol dalam makanan dan minuman, bahkan dalam jumlah sangat kecil.
  • Biosensor berbasis enzim, seperti alkohol oksidase, memungkinkan deteksi etanol dengan cepat dalam produk fermentasi.

Teknologi lain yang juga digunakan adalah Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS), berfungsi untuk memisahkan dan mengidentifikasi senyawa aroma serta lemak hewan seperti lard, yang sering dicampurkan dalam produk olahan karena alasan biaya. Dengan sensitivitas tinggi, GC-MS mampu mendeteksi kontaminasi yang tidak terlihat secara kasat mata. Kemajuan ini sangat membantu industri dalam mempertahankan integritas produk halal.

Namun, tantangan tetap ada: biaya tinggi, kebutuhan pelatihan teknis, dan keterbatasan akses di negara berkembang membuat teknologi ini belum sepenuhnya merata. Maka dari itu, integrasi teknologi canggih dengan kebijakan sertifikasi yang ketat, serta edukasi bagi konsumen dan produsen, menjadi langkah penting dalam menjamin kehalalan makanan secara global.

Pastikan kehalalan produk pangan Anda terjamin secara ilmiah. Lakukan uji kehalalan di IML Research dengan metode modern seperti PCR, GC-MS, dan biosensor untuk mendeteksi kontaminasi bahan non-halal dengan akurasi tinggi. Percayakan uji kehalalan produk Anda pada IML Research, laboratorium terakreditasi dengan hasil uji yang akurat, komprehensif, dan dapat diandalkan.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Ng, P. C., Ruslan, N. A. S. A., Chin, L. X., Ahmad, M., Hanifah, S. A., Abdullah, Z., & Khor, S. M. (2022). Recent advances in halal food authentication: Challenges and strategies. Journal of Food Science, 87(1), 8–35. https://doi.org/10.1111/1750-3841.15998 

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak