
Hand Sanitizer Alkohol vs Non-Alkohol, Pilih Hand Sanitizer yang Mana?

- Penyebaran Mikroba di Sekitar Kita
- Cara Tepat Menjaga Kebersihan Tangan
- Perbedaan Hand Rubs dan Hand Sanitizer
- Mekanisme Kerja Bahan Antiseptik
- Pilih Jenis Pembersih Tangan dengan Bijak
Penyebaran Mikroba di Sekitar Kita
Bakteri, virus, dan jamur dapat dengan mudah menyebar melalui berbagai cara termasuk bersin dan batuk. Karena mikroba memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu kurang dari 5 mikron, maka penyebaran mikroba dapat terjadi melalui aliran udara dari orang yang terinfeksi ke individu yang sehat.
Infeksi yang dapat menyebar melalui udara adalah cacar air, influenza, campak, cacar, tuberkulosis, dan COVID-19. Tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang menjadi vektor utama penyebaran mikroba karena sering bersentuhan dengan benda-benda yang terkontaminasi. Oleh karena itu, pentingnya menjaga kebersihan tangan.
Cara Tepat Menjaga Kebersihan Tangan
Berbagai cara dapat dilakukan dalam menjaga kebersihan tangan, yang meliputi mencuci tangan dengan sabun ataupun antiseptik serta membersihkan tangan. Menurut WHO, mencuci tangan didefinisikan sebagai “mencuci tangan dengan sabun biasa atau sabun antimikroba dan air”.
Dengan kita mencuci tangan sudah dapat mengurangi infeksi diare sebesar 23% dan infeksi saluran pernapasan sebesar 51%. Pembersihan tangan didefinisikan sebagai “tindakan melakukan kebersihan tangan bertujuan untuk menghilangkan kotoran, bahan organik, dan/atau mikroorganisme secara fisik atau mekanis.”
Perbedaan Hand Rubs dan Hand Sanitizer
1. Hand Rubs
Hand rubs adalah “perlakuan terhadap tangan dengan antiseptik berbentuk gosokan tangan untuk mengurangi flora transien. Sediaan ini dapat bekerja cepat.” Hand rubs mengandung alkohol dengan bentuk sediaannya dapat berupa cair, gel, atau busa yang dirancang untuk dioleskan pada tangan.
Formulasi hand rubs mengandung lebih dari satu tipe alkohol, bahan aktif lain dengan eksipien, dan humektan. Jika hand rubs merupakan antiseptik berbasis alkohol, hand sanitizer merupakan antiseptik yang dapat berbasis alkohol maupun non alkohol.
2. Hand Sanitizer
Hand sanitizer berbasis non alkohol mengandung benzalkonium klorida. Walaupun memiliki fungsi yang sama dalam menjaga kebersihan tangan, hand sanitizer berbasis non alkohol dianggap kurang efektif untuk menghilangkan mikroba patogen. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan hand sanitizer sejumlah penuh telapak tangan dan memerlukan waktu 10-15 detik supaya efektif.
Konsentrasi alkohol yang direkomendasikan adalah 60-95%. Hand sanitizer diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), sehingga diwajibkan memiliki tanggal kadaluarsa. Semua hand sanitizer memiliki tanggal kadaluarsa sekitar 2-3 tahun, yang ditunjukkan berdasarkan penurunan persentase alkohol hingga 90% dari persentase yang tercantum pada label. Namun, penggunaan hand sanitizer setelah tanggal kadaluarsa tidak menimbulkan bahaya, hanya efektivitasnya dalam membunuh mikroba bisa berkurang, terutama jika kadar alkohol turun di bawah 60%.
Selain hand rubs dan hand sanitizer, produk antiseptik lain, seperti chlorhexidine gluconate, turunan klorin, iodin, triklosan, dan chloroxylenol, juga digunakan dalam pembersihan tangan. Humektan sendiri ditambahkan pada formulasi untuk melembapkan kulit.
Mekanisme Kerja Bahan Antiseptik
Bahan antiseptik yang terdapat pada hand sanitizer memiliki mekanisme yang berbeda-beda. Alkohol memiliki aktivitas antibakteri dengan cara mendenaturasi dan koagulasi protein yang ada pada bakteri. Sehingga terjadi gangguan metabolisme seluler dan sel mengalami lisis. Namun, aktivitas ini tidak efektif pada konsentrasi alkohol yang lebih tinggi karena alkohol merupakan senyawa yang mudah menguap.
Sehingga pada konsentrasi tinggi tidak cukup sampai menembus dinding sel bakteri. Umumnya, hand sanitizer berbasis alkohol mengandung 60% – 95%, dan dikombinasikan dengan berbagai bahan tambahan seperti parfum dan pewarna. Hidrogen peroksida bekerja dengan menghasilkan radikal bebas hidroksil yang menyerang lipid membran, DNA, dan komponen sel lainnya. Pada alcohol-based hand sanitizer terdapat gliserol yang memiliki efek emolien pada kulit untuk melindungi kulit dari kekeringan dan dermatitis.
Pilih Jenis Pembersih Tangan dengan Bijak
Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air atau hand sanitizer merupakan cara efektif untuk melawan mikroba patogen dan infeksi seperti COVID-19. Penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol lebih efektif membunuh mikroba dibandingkan hand sanitizer berbasis non alkohol dan produk herbal lainnya. Namun, pemilihan dan penggunaan jenis pencuci tangan yang tepat menjadi kriteria penting yang perlu dipertimbangkan, karena kandungan alkohol berlebih dapat menyebabkan alkoholisme.
Jumlah pemakaian hand sanitizer berbasis alkohol yang direkomendasikan adalah 30 kali per hari. Menjaga kebersihan tangan memang penting, tetapi memastikan efektivitas produk pembersih tangan jauh lebih penting lagi. Setiap formulasi, baik berbasis alkohol maupun non alkohol, perlu melalui uji laboratorium untuk memastikan kemampuannya membunuh mikroba tanpa menimbulkan iritasi atau efek samping pada kulit.
Di IML Research, pengujian produk dilakukan secara komprehensif dan akurat, mencakup uji efektivitas antimikroba, stabilitas, serta keamanan bahan aktif. Dengan hasil uji yang dapat diandalkan, Anda dapat membuktikan klaim produk secara ilmiah dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek Anda.
Author: Safira
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Annegowda, H. V., Zuber, M., Darshan, J. C., Ghosh, S., & Paul, P. (2021). Hand Sanitizer: A Comprehensive Narrative Review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 66(1), 109–114. https://doi.org/10.47583/ijpsrr.2021.v66i01.017



