Gatal Tak Biasa? Bisa Jadi Itu Skabies!

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia hidup berdampingan dengan parasit karena tanpa kita sadari banyak parasit yang hidup di dalam atau di luar tubuh manusia. Hal ini merupakan bagian dari keseimbangan ekosistem mikroorganisme yang menyertai kehidupan manusia. Namun di sisi lain, parasit ini dapat bersifat patogen karena dapat menginfeksi tubuh dan menyebabkan penyakit. 

Salah satu penyakit yang cukup umum dan dapat ditemukan di seluruh dunia akibat infeksi oleh parasit adalah skabies. Apakah anda sudah familiar dengan penyakit skabies atau apakah anda pernah terserang skabies sebelumnya? Jika anda penasaran dan ingin mencari tahu lebih lanjut, mari simak uraian artikel berikut.  

Apa Itu Skabies dan Bagaimana Penularannya?

Skabies merupakan penyakit kulit yang ditandai oleh ruam merah disertai gatal hebat yang disebabkan oleh infeksi parasit Sarcoptes scabiei. Parasit ini dapat ditularkan secara langsung melalui kontak kulit atau melalui benda atau permukaan yang sudah terkontaminasi sebelumnya. Setelah tertular, S.scabiei akan masuk ke tubuh inangnya dengan cara menggali atau membuat lubang pada lapisan kulit. 

Parasit S.scabiei betina kemudian akan menetaskan telur – telurnya pada lapisan kulit tersebut dan akan berkembang menjadi parasit dewasa dalam waktu sekitar dua minggu. Keberadaan telur, S.scabiei dewasa, kotoran yang dihasilkan, hingga bangkai S.scabiei ini lah yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada tubuh berupa ruam – ruam merah yang disertai gatal pada kulit. 

Metode Diagnosis Skabies

skabies
Seorang yang mengalami skabies Source: Pexel

Untuk mengetahui apakah ruam merah gatal yang diderita seseorang merupakan skabies atau tidak, metode paling mendasar dan bersifat klasik dengan cara mengenali tampilan ruam yang muncul, lokasi terjadinya ruam, dan anamnesis penderita oleh tenaga profesional. Selain metode tersebut, skabies juga dapat didiagnosis dengan melihat parasit secara langsung pada kerokan kulit penderita menggunakan mikroskop. 

Namun perlu diperhatikan, metode pengecekan menggunakan mikroskop bisa memberikan hasil yang salah karena parasit bisa saja tidak ikut terambil saat pengambilan kerokan kulit. Hal ini terjadi karena reaksi alergi pada skabies disebabkan oleh sistem imun yang tidak merespons secara lokal, namun menyeluruh di area kulit, sehingga ruam kulit yang muncul tidak bisa menandakan bahwa parasit juga berada di area tersebut. 

Pengobatan Skabies

Jika sudah terkena skabies, pengobatan lini pertama yang dilakukan dengan memberikan krim permetrin 5% atau tablet oral ivermektin. Permetrin merupakan bahan sintetis yang bekerja dengan cara menyerang sistem saraf S.scabiei hingga menyebabkan kematian parasit. Sama halnya dengan permetrin, ivermektin juga mengganggu S.scabiei melalui sistem saraf, namun pada target yang berbeda. 

Selain kedua obat tersebut, juga terdapat obat alternatif lain jika penggunaan kedua obat sebelumnya tidak menunjukkan perkembangan. Obat alternatif tersebut antara lain losion atau krim krotamiton 10%; salep sulfur 5-10%; losion malation 0,5%; suspensi topikal spinosad 0,9%; atau losion lindan 1%. Untuk skabies yang tergolong berat dengan jumlah parasit yang sangat banyak, dianjurkan menggunakan obat oral dan topikal secara bersamaan untuk meningkatkan efektivitas dan mencegah kegagalan pengobatan. 

Namun, perlu diperhatikan penggunaan obat – obatan tersebut harus disesuaikan dengan resep dokter agar diperoleh efektivitas terapi tanpa menimbulkan efek samping yang signifikan.

Pentingnya Pencegahan Penyakit Skabies

Meskipun skabies bukan penyakit yang mematikan, namun tetap perlu ditegakkan terkait pencegahan dan diagnosisnya karena jika dibiarkan skabies dapat mengganggu kualitas hidup akibat rasa gatal yang dihasilkan dan bisa berkembang menjadi bentuk yang lebih parah. Oleh karena itu penting juga untuk menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan, serta mengobati semua kontak erat sebagai bentuk pencegahan dan penularan skabies.

Tertarik mengetahui lebih banyak tentang penyakit akibat infeksi parasit dan mikroorganisme lainnya? Baca artikel menarik lainnya di IML Research untuk menambah wawasan Anda seputar kesehatan dan pentingnya uji laboratorium. Temukan berbagai insight ilmiah dan edukatif hanya di IML Research.

Author: Devira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (n.d.). Clinical care for scabies. Diakses 30 April 2024, dari https://www.cdc.gov/scabies/hcp/clinical-care/index.html.

Murray RL, Crane JS. Scabies. [Updated 2023 Jul 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544306/.

Salavastru, C. M., Chosidow, O., Boffa, M. J., Janier, M., & Tiplica, G. S. (2017). European guideline for the management of scabies. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, 31(8). https://doi.org/10.1111/jdv.14351.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak