
Es Batu Berbahaya Bagi Kesehatan : Mitos atau Fakta?

Di tengah cuaca yang panas, minuman dingin yang ditambahkan es batu dianggap sebagai penyegar yang dapat membuat tubuh terasa lebih nyaman. Namun, muncul berbagai anggapan bahwa kebiasaan mengonsumsi atau mengunyah es batu dapat berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi di sisi lain juga muncul anggapan bahwa kebiasaan tersebut tidak berbahaya dan dapat memberikan kesenangan bagi yang mengonsumsi. Lalu, apakah benar mengonsumsi es batu berbahaya bagi kesehatan atau hanya mitos belaka? untuk mengetahui jawabannya mari simak uraian artikel berikut.
- Mengenal Pagofagia, Kebiasaan Mengonsumsi Es Batu Berlebih
- Risiko Kesehatan Akibat Pagofagia
- Kapan Harus Waspada terhadap Kebiasaan Ini?
Mengenal Pagofagia, Kebiasaan Mengonsumsi Es Batu Berlebih
Kebiasaan mengonsumsi atau mengunyah es batu berlebih merupakan suatu kondisi yang dalam istilah medis disebut dengan pagofagia. Penyebab dari kondisi ini belum diketahui secara pasti, namun beberapa sumber ilmiah menyatakan kondisi ini bisa disebabkan oleh defisiensi zat besi, gangguan psikologis, kebiasaan sensorik, atau kondisi medis lainnya.
Namun belum diketahui secara pasti juga mengapa penderita defisienzi zat besi sangat berhubungan dengan kebiasaan mengonsumsi atau mengunyah es batu berlebih, kemungkinan penyebabnya karena pada orang yang mengalami defisiensi zat besi, bagian otak akan menerima pasokan oksigen yang lebih sedikit akibat rendahnya kadar hemoglobin dalam darah yang dapat menyebabkan gejala seperti lelah, sulit konsentrasi, dan kelelahan mental.
Pada sebuah penelitian ditemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi atau mengunyah es batu dapat memperbaiki kelelahan mental tersebut dalam jangka pendek. Sedangkan pada penderita gangguan psikologis, pagofagia diyakini merupakan cara mereka untuk meredakan stress atau mengatasi masalah psikologis.
Risiko Kesehatan Akibat Pagofagia
Meskipun tampak sepele, pagofagia dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius, seperti ketidakseimbangan elektrolit, misalnya karena terlalu banyak cairan dingin masuk atau karena kebiasaan yang mengganggu keseimbangan tubuh. Ketidakseimbangan elektrolit tersebut dapat mengarah pada hiponatremia yang merupakan kondisi di mana kadar natrium dalam darah terlalu rendah. Gejala – gejala hiponatremia yang terjadi bervariasi mulai dari ringan hingga parah, seperti mual, kejang, hingga koma.
Namun perlu diperhatikan, kondisi hiponatremia ini tergantung pada jumlah es yang dikonsumsi dan frekuensinya, kondisi ini dapat terjadi dalam kasus ekstrem jika seseorang mengonsumsi es dalam jumlah yang sangat besar dan terus – menerus. Selain dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, pagofagia juga dapat menyebabkan gangguan metabolisme terutama bila berkaitan dengan masalah gizi atau kondisi medis yang belum dapat ditangani.
Kapan Harus Waspada terhadap Kebiasaan Ini?
Dengan adanya risiko – risiko tersebut, penting bagi kita untuk tidak menganggap sepele pagofagia, terlebih jika dilakukan secara berlebihan dan terus – menerus. Dalam konteks tertentu, kebiasaan ini bisa menjadi fakta medis yang perlu diwaspadai. Lalu jika pagofagia mulai terjadi pada diri anda secara terus – menerus dan disertai gejala kesehatan lain, sebaiknya segera periksakan diri ke tenaga medis untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.
Jangan lewatkan artikel informatif lainnya dari IML Research agar Anda selalu mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia laboratorium dan kesehatan. Follow Instagram kami di @imlresearch untuk konten edukatif lainnya,
Author: Devira
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Akbaba, A., Bogan, M., Karakeçili, C., Boğan, F., & Sultanoglu, H. (2023). Pagophagia-Induced Hyponatremia: An Unusual Case. Sudan Journal of Medical Sciences, 18(3). https://doi.org/10.18502/sjms.v18i3.14090.
Bedanie, G., Tikue, A. G., Thongtan, T., Zitun, M., & Nugent, K. (2020). Pica/Pagophagia-Associated Hyponatremia: Patient Presenting With Seizure. Cureus. https://doi.org/10.7759/cureus.9330.
Borgna-Pignatti, C., & Zanella, S. (2016). Pica as a manifestation of iron deficiency. In Expert Review of Hematology (Vol. 9, Issue 11). https://doi.org/10.1080/17474086.2016.1245136.



