Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan “Dermatologically Tested”?

Apa Arti Label “Dermatologically Tested”?

Pernahkah kamu melihat label “teruji oleh dermatolog” ‘Dermatologically Tested’? Pengujian produk perawatan kulit oleh dermatologis bertujuan untuk memastikan produk tersebut layak dan aman digunakan pada kulit. Label “Dermatologically tested” tidak diberikan langsung tanpa adanya pengujian langsung terhadap kulit manusia. Pengujian klinis wajib dilakukan untuk memperoleh label ini, sedangkan pengujian menggunakan instrumen kimia hanya menjadi data pendukung. 

Standar Pengujian dan Regulasi yang Berlaku

Pengujian ini penting dilakukan untuk memastikan keamanan pengguna, efektivitas produk, dan stabilitas produk. Laboratorium pengujian memiliki standar dan penilaian potensi iritasi dan alergi untuk menentukan produk tersebut aman digunakan atau tidak. Dengan menggunakan standar internasional seperti ISO/TR 24475:2021 dan EU Cosmetic Regulation (1223/2009), pengujian ini ditangani langsung oleh dokter spesialis kulit. 

Berdasarkan Peraturan Bahan Pengawaas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Persyaratan Teknis Klaim kosmetika menyatakan bahwa klaim yang memberikan fungsi kegunaan produk dengan masa waktu efikasi, klaim terkait dengan pengujian oleh dermatologist ‘dermatologically tested’, dan lain-lain harus disertai dengan laporan pengujian produk. 

Jenis-Jenis Uji Dermatologis

Jenis-jenis pengujian yang wajib dilakukan untuk memperoleh label “Dermatologically tested” antara lain uji tempel, repeated insult patch test (RIPT/HRIPT), stinging test, dan in-use test. Rangkaian pengujian ini dilakukan untuk melihat dan mengevaluasi efek yang disebabkan ketika produk diaplikasikan pada kulit manusia. Parameter yang dilihat antara lain tanda-tanda iritasi seperti kemerahan, gatal, ruam, perih,  atau reaksi alergi (sensitisasi). Uji klinis pada subjek dengan kulit sensitif melibatkan partisipan yang memiliki riwayat dermatitis dan rosacea. 

Terutama produk yang ditujukan untuk kulit sensitif perlu dilakukan stinging test. Objek yang digunakan adalah orang berkulit sensitif, penilaian sensasi menyengat atau perih dilakukan oleh pengguna dalam jangka waktu tertentu dan dibawah pengawasan dermatolog. Selain itu, pengujian ini juga mempertimbangkan penggunaan produk secara berulang dalam kondisi nyata sehari-hari. 

Oleh karena itu, uji penggunaan (in-use test) menjadi bagian penting dalam proses penilaian. Subjek akan menggunakan produk seperti biasa selama beberapa minggu, dan selama periode ini kulit mereka akan diamati oleh dokter spesialis kulit untuk melihat apakah muncul reaksi merugikan jangka panjang. 

Pentingnya Klaim “Dermatologically Tested” bagi Konsumen dan Produsen

Klaim “dermatologically tested” tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab produsen dalam menjamin keselamatan produk. Label tersebut menjadi indikator awal konsumen dalam memilih produk yang aman. Maka dari itu, klaim ini harus didukung oleh data ilmiah dan proses uji yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis maupun regulasi. 

Baca juga:
Kupas Tuntas Skincare Overclaim: Modus Marketing atau Ancaman untuk Konsumen?

Namun perlu dipahami, label ini tidak serta merta berarti produk bebas dari bahan iritan atau alergen, melainkan hanya menunjukkan bahwa produk telah melalui uji coba terbatas pada kelompok tertentu tanpa menunjukkan reaksi yang signifikan. Karena kondisi dan respon kulit setiap individu dapat berbeda, tidak menutup kemungkinan produk perawatan kulit dengan label “dermatologically tested” bisa menyebabkan reaksi buruk terhadap kulit. 

Sehingga disarankan untuk konsultasi mandiri ke dermatologis atau mencoba produk perawatan kulit mandiri dengan test patch pada bagian tubuh seperti belakang telinga, tangan, atau punggung sebelum pemakaian di area penuh. Serta membaca komposisi bahan yang tertera pada kemasan dapat menjadi langkah preventif untuk menghindari bahan alergen terhadap individu. Konsumen tetap perlu waspada, terutama bagi yang memiliki kondisi kulit khusus, seperti alergi, eksim, atau sensitivitas tinggi terhadap bahan tertentu. 

Baca juga:
3 Ciri Laboratorium Uji Kosmetik yang Layak Dipercaya Brand Anda

Pastikan produk Anda telah melalui pengujian dermatologis di laboratorium terpercaya. Uji di laboratorium menjadi langkah penting untuk memastikan produk benar-benar aman digunakan dan layak mendapatkan klaim “dermatologically tested”. Dengan hasil uji yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan, kepercayaan konsumen terhadap produk Anda pun akan semakin kuat.

Author: Delfia
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 2022. Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 3 Tahun 2022 Tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Diakses pada 24 April 2025. Tautan dapat diakses pada : https://standar-otskk.pom.go.id/storage/uploads/9fafd640-6c8b-4853-ae1f-9a2f9255db46/PerBPOM-No.-3-tahun-2022.pdf

Europian Union. 2009. Regulation (EC) No. 1223/2009 of the European Parliament and of the Council of 30 November 2009 on Cosmetic Products. Official Journal of the European Union. Diakses pada 24 April 2025. Tautan dapat diakses pada : https://health.ec.europa.eu/system/files/201611/cosmetic_1223_2009_regulation_en_0.pdf

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak