Dibuka Berkali-kali, Tetap Aman? Pentingnya Uji Efektivitas Pengawet pada Obat Multi Dose

Menurut farmakope, obat multi dose harus mampu menunjukkan efektivitas pengawet terhadap berbagai jenis mikroorganisme. Hal ini penting karena produk yang digunakan berulang kali memiliki risiko terkontaminasi mikroba setiap kali kemasan dibuka atau digunakan.

Pada produk obat multi dose pemilihan pengawet menjadi tantangan karena perlu mempertimbangkan keseimbangan antara efektivitas antimikroba dan stabilitas bahan aktif biologis yang terdapat dalam produk obat, seperti obat yang mengandung protein, peptida, atau antibodi. Di artikel ini akan dijelaskan mengenai pengawet yang cocok untuk produk obat multi dose dan penjelasan mengenai uji efektivitasnya.

Daftar isi:

Memilih Pengawet yang Tepat untuk Menjaga Stabilitas dan Keamanan Obat Multi Drug

Zat antimikroba atau bisa disebut juga sebagai zat pengawet pada obat multi-dose sangat penting ditambahkan dalam produk untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme (bakteri, khamir, dan jamur), tetap stabil selama masa penyimpanan, tidak merusak bahan aktif biologis seperti protein atau peptida.

Zat pengawet dapat dibedakan menjadi mikrobiostatik, yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme, dan mikrobisidal, yang membunuh mikroorganisme secara permanen. Namun, penggunaan pengawet tidak dapat menggantikan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan proses produksi aseptik yang baik.

Zat pengawet dikelompokkan menjadi turunan fenol, alkohol, turunan asam benzoat (paraben), dan Quaternary Ammonium Compounds (QAC). Masing-masing golongan memiliki spektrum aktivitas yang berbeda terhadap bakteri, khamir, dan jamur. Namun, sebagian besar pengawet tersebut tidak efektif terhadap spora bakteri.

Spora bakteri memiliki struktur pelindung berlapis yang membuatnya lebih resisten terhadap zat antimikroba dibandingkan sel vegetatif. Selain berfungsi sebagai penghalang fisik, lapisan tersebut juga mengandung enzim yang dapat membantu melindungi spora dari kerusakan akibat bahan kimia.

Beberapa pengawet yang umum digunakan dalam formulasi biologis antara lain phenoxyethanol (PE), methylparaben (MP), propylparaben (PP), benzyl alcohol (BA), phenol (PH), m cresol (CR), chlorobutanol (CB), dan benzalkonium chloride (BAK). Di antara pengawet tersebut, phenoxyethanol dianggap menjanjikan karena memiliki aktivitas antimikroba yang baik dengan risiko destabilisasi protein yang lebih rendah dibandingkan beberapa pengawet lainnya.

Ada istilah nilai logP yang menunjukkan tingkat hidrofobisitas suatu pengawet, yaitu kecenderungannya untuk berada dalam fase minyak dibandingkan fase air. Parameter ini penting karena memengaruhi interaksi pengawet dengan protein atau peptida dalam formulasi biologis.

Semakin tinggi nilai logP, semakin besar kecenderungan pengawet berikatan dengan protein dan menyebabkan ketidakstabilan, seperti agregasi atau perubahan struktur. Oleh karena itu, pemilihan pengawet harus mempertimbangkan keseimbangan antara efektivitas antimikroba dan stabilitas protein.

Bagaimana Efektivitas Pengawet Dibuktikan? Mengenal Uji Antimikroba pada Obat Multi Dose

Efektivitas pengawet dipengaruhi oleh faktor intrinsik yang berasal dari mikroorganisme, seperti jenis mikroba, struktur dinding sel, dan mekanisme resistensinya. Beberapa mikroorganisme bahkan mampu menghasilkan enzim yang dapat menguraikan pengawet sehingga aktivitasnya berkurang.

Ada juga faktor ekstrinsik seperti konsentrasi pengawet, pH formulasi, bahan kemasan, kondisi penyimpanan, dan interaksi dengan komponen lain juga memengaruhi kinerja pengawet. Oleh karena itu, seluruh faktor tersebut perlu dipertimbangkan dan diuji untuk mengetahui efektivitasnya.

Uji efektivitas pengawet (preservative efficacy test atau antimicrobial effectiveness test) digunakan untuk memastikan bahwa sistem pengawet dalam sediaan multi dose mampu mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme selama masa penggunaan produk. Tiga farmakope utama yang menjadi acuan adalah European Pharmacopoeia (Ph. Eur.), United States Pharmacopeia National Formulary (USP-NF), dan Japanese Pharmacopoeia (JP).

Ketiga farmakope memiliki prinsip pengujian yang serupa, yaitu dengan menginokulasikan mikroorganisme uji ke dalam produk dan memantau jumlah mikroorganisme yang bertahan selama periode tertentu. Efektivitas pengawet kemudian dievaluasi berdasarkan kemampuan produk menurunkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme tersebut.

Perbedaan pertama terletak pada jenis mikroorganisme yang digunakan. Ph. Eur. menggunakan Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Candida albicans, dan Aspergillus brasiliensis, sedangkan USP menambahkan Escherichia coli untuk semua kategori produk. JP menggunakan spektrum yang lebih luas dengan menambahkan Bacillus subtilis dan bakteri anaerob Clostridium sporogenes.

Perbedaan berikutnya terdapat pada pengelompokan produk. Ph. Eur. membagi produk menjadi tiga kategori berdasarkan rute pemberian, sedangkan USP membaginya menjadi empat kategori dengan kategori khusus untuk antasida. JP tidak menekankan sistem kategori seperti Ph. Eur. dan USP, tetapi lebih berfokus pada kemampuan formulasi mempertahankan kondisi bebas pertumbuhan mikroba.

Metode pengujian yang digunakan pada ketiga farmakope juga relatif serupa, yaitu metode filtrasi membran dan metode hitung cawan atau inokulasi langsung. Namun, JP secara khusus mensyaratkan penggunaan kontrol negatif dan menekankan bahwa seluruh proses pengujian harus dilakukan dalam kondisi steril.

Perbedaan utama dalam penilaian hasil terletak pada kriteria keberhasilannya. Ph. Eur. menggunakan Kriteria A dan Kriteria B berdasarkan tingkat reduksi mikroba yang harus dicapai, USP menetapkan batas reduksi mikroba yang berbeda untuk setiap kategori produk, sedangkan JP menggunakan pendekatan yang lebih sederhana, yaitu tidak boleh ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama periode pengujian agar formulasi dianggap memiliki perlindungan yang memadai.

Uji Dulu, Baru Klaim Aman

Kalau produk obat multi-dose kamu sering dibuka dan digunakan berulang, pastikan keamanannya tidak hanya berdasarkan asumsi. Melalui uji efektivitas pengawet, brand bisa membuktikan bahwa produk tetap terlindungi dari risiko kontaminasi selama masa penggunaan.

Bersama IML Testing and Research, pengujian produkmu bisa dilakukan secara profesional untuk mendukung keamanan, kualitas, dan kepercayaan konsumen.

Author: Dherika
Editor: Alphi

Referensi

European Pharmacopeia. EP <5.1.3>Efficacy of antimicrobial preservatives.

Japanese Pharmacopeia. JP <19>Preservative effectiveness tests.

Stroppel, L., Schultz-Fademrecht, T., Cebulla, M., Blech, M., Marhöfer, R.J., Selzer, P.M., Garidel, P. (2023). Antimicrobial Preservatives for Protein and Peptide Formulations: An Overview. Pharmaceutics, 15, 563.

United States Pharmacopeia. USP <51>. Antimicrobial effectiveness testing. Rockville, MD.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak