Tren Terbaru dalam Industri Parfum!

Berbagai Aroma Parfum di Dunia

Parfum adalah cairan yang memberikan aroma wangi untuk digunakan pada pakaian, tubuh, dan ruangan. Umumnya, aroma wangi dapat dihasilkan dari bahan alami, sintetis, dan hewani. Bahan alami yang dapat digunakan untuk membuat aroma pada parfum adalah ekstrak bunga (mawar, melati, lavender, ylang-ylang). Buah-buahan, rempah-rempah, dan daun dan herbal juga merupakan bahan alami yang dapat menghasilkan aroma wangi untuk parfum. 

Selain bahan alami, bahan hewani, seperti Ambergis (dari sperma paus), kasturi/musk (dari rusa), dan sivet (dari kucing musang) juga dapat digunakan sebagai bahan parfum. Ketersediaan bahan alami dan hewani di alam terbatas. Sehingga aroma yang sulit didapatkan dari alam dapat digantikan dengan bahan sintetis. 

Bahan sintetis juga tergolong lebih murah dan mudah didapatkan. Contoh bahan sintetis yang dapat menghasilkan aroma wangi adalah aldehida (segar dan bersih), coumarin (vanilla/almond), dan calone (ozonik seperti laut). Namun, bahan sintetis tidak bersifat eco friendly. 

Rekayasa Genetik dalam Produksi Wewangian

Tingkat kepedulian dan ketertarikan masyarakat akan kesehatan dan produk berbasis bahan alami, penggunaan aroma dari sumber daya alam menjadi tantangan besar dalam pembuatan parfum. Mikroba telah diteliti dapat memproduksi metabolit sekunder, yaitu senyawa aromatik dan wewangian melalui proses fermentasi, biokatalisis (enzim), atau rekayasa genetik. Keuntungan menggunakan mikroba dalam memproduksi wewangian dan aroma adalah eco-friendly, natural, dapat memproduksi lebih besar tanpa harus panen jenis tumbuhan yang langka, dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.  

Penggunaan teknik rekayasa genetik strain bakteri dalam memproduksi wewangian terjadi pada 2010 ketika terjadi kekurangan produksi minyak atsiri yang dihasilkan dari ekstrak tanaman Pogostemon cablin (Patchouli). Tanaman patchouli menghasilkan minyak esensial yang digunakan sebagai wewangian dalam batang dupa serta produk perawatan pribadi dan kesehatan lainnya. Cuaca hujan di Indonesia merusak semak obat tersebut, sehingga menyebabkan panen minyak wangi menurun. Kondisi ini semakin memburuk ketika terjadi letusan gunung berapi dan gempa bumi yang memperparah masalah pasokan. Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minyak wangi, mikroba dan ragi yang dimodifikasi secara genetik dirancang khusus untuk menghasilkan wewangian dari tanaman patchouli tersebut. 

Beberapa perusahaan bioteknologi seperti Allylix, Isobionics, Givaudan, Firmenich, Evolva, dan International Flavors & Fragrances memproduksi parfum dan rasa berbasis mikroba dari proses fermentasi gula. Produk pertama yang dihasilkan dari mikroba adalah valencene, sebuah molekul citrus yang biasanya ditemukan pada kulit jeruk Valencia, dan yang lainnya adalah nootkatone yang terdapat pada kulit jeruk bali. 

Senyawa-senyawa ini umumnya digunakan dalam minuman beraroma buah dan parfum. Scent vanila yang umumnya diproduksi secara sintetik, juga dapat dihasilkan dari fermentasi oleh mikroba. Selain itu, telah dilakukan rekayasa metabolik untuk membuat E. coli menghasilkan aroma pisang sintetis (nama kimia: Isoamil asetat) dan disebut sebagai “Eau d coli”. Candida tropicalis atau Yarrowia lipolytica, memiliki kemampuan untuk mendegradasi asam risinoleat dan mengakumulasi δ-decalactone, yang berkontribusi pada rasa buah dan berminyak yang biasa ditemukan dalam aroma persik, aprikot, dan stroberi.

uji parfum bt jurnal Zijian et al., 2021
Industri Parfum dalam Mengadaptasi Teknologi Mikroba

Pandangan industri parfum terhadap penggunaan mikroba sebagai bahan alami pembuatan parfum sudah terbuka karena kemajuan dalam bioteknologi dan rekayasa genetika. Hal ini menjadi peluang besar untuk inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan. Namun, terdapat tantangan yang masih harus diatasi, yaitu regulasi, etika, dan penerimaan konsumen. Jika diterima secara luas, penggunaan mikroba dapat membawa perubahan yang signifikan dalam cara memproduksi dan menikmati aroma dan wewangian yang unik, sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan sumber daya alam yang semakin terbatas.  

Oleh karena itu, industri parfum harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi ini, memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi ekspektasi konsumen, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

Siap berinovasi dengan parfum berbasis mikroba? Uji kualitas dan keamanan produk parfum Anda di IML Research untuk memastikan keunggulan dan keberlanjutannya. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis dan uji produk Anda.

Tunggu artikel kami selanjutnya untuk informasi menarik lainnya!

Referensi:

Gupta, S., Gupta, C., Garg, A. P., dan Prakash, D. 2015. A biotechnological approach to microbial based perfumes and flavours. Journal of Microbiology & Experimentation, 2(1): 11-18.

Heraldscotland. 2023. Researchers use bacteria in efforts to make perfumes more sustainable. Available at: https://www.heraldscotland.com/news/23350806.researchers-use-bacteria-efforts-make-perfumes-sustainable/, accessed on 24th November 2024.

Mahajan, G. B. dan Phatak, D. R. 2019. Perfume Manufacturing Microbes. Acta Scientific Microbiology, vol. 2(8): 70-72.

Richmond, Ben. 2014. How to Make Perfume Out of Bacteria Instead of Oil. Available at: https://www.vice.com/en/article/how-to-make-perfume-out-of-bacteria-instead-of-oil/, accessed on 24th November 2024. 

Zijian Liang, Hang Zhi, Zhongxiang Fang, Pangzhen Zhang. 2021. Genetic engineering of yeast, filamentous fungi and bacteria for terpene production and applications in food industry. Food Research International, Vol. 147. 

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak