Rahasia Mencuci Pakaian untuk Mengurangi Mikroba

Mencuci pakaian merupakan langkah penting dalam mengontrol penyebaran penyakit serta menghilangkan mikroorganisme penyebab bau. Pakaian yang digunakan dalam berbagai aktivitas seringkali memiliki bau apek dan bau keringat. Bau ini disebabkan oleh Mycobacterium osloensis, bakteri utama yang menghasilkan senyawa volatil 4-methyl-3-hexenoic acid (4M3H), yang menciptakan bau khas tersebut. 

Mikroflora yang menempel pada pakaian bervariasi antara rumah, komunitas, atau wilayah tertentu. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti metode pencucian, kondisi sosial ekonomi, ketersediaan fasilitas pencucian, dan pemilihan produk pencuci. Saat ini, pencucian pakaian umumnya dilakukan menggunakan mesin cuci, bahkan di negara berkembang.

Namun, pencucian dengan tangan juga masih banyak digunakan, terutama untuk pakaian berbahan halus atau yang tidak dapat dicuci dengan mesin. Proses pencucian melibatkan beberapa tahapan yang berpengaruh terhadap pelepasan mikroba dari pakaian serta keberagaman mikroflora yang menempel pada tekstil. 

Mikroba Pada Pakaian

Menurut studi epidemiologi, kain dapat menjadi media penyebaran infeksi melalui pencucian. Sebagian besar patogen ditemukan pada pakaian dan tekstil lainnya sebelum dicuci. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bakteri Salmonella ditemukan pada 15% spons rumah tangga dan 3% handuk tangan atau wajah.Keberadaan mikroba pada pakaian dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Ketebalan kain, semakin tebal kain, semakin tinggi ketahanan bakteri dalam pakaian, baik saat pencucian maupun penjemuran. 
  • Area tubuh tempat pemakaian, pakaian dalam dan handuk wajah mengandung lebih banyak bakteri dibandingkan kemeja atau pakaian luar. 
  • Cuaca dan suhu lingkungan, cuaca panas meningkatkan produksi keringat, yang mendukung pertumbuhan bakteri. 
  • Durasi dan suhu pencucian serta pengeringan, mikroba lebih bertahan pada suhu rendah dengan waktu pengeringan yang lebih singkat. 

Cara Mencuci Pakaian Agar Mikroba Hilang

A woman pours detergent into a washing machine for a laundry cycle.
Seorang wanita menggunakan detergen untuk mencuci pakaian. Sumber: Pexel

Efektivitas pencucian dalam menghilangkan mikroba patogen sangat bergantung pada praktik pencucian dan pengeringan. Suhu pencucian yang direkomendasikan untuk mengurangi jumlah mikroba adalah antara 40°C hingga 60°C. Namun, beberapa bakteri, seperti Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus aureus, termasuk dalam kelompok bakteri non-spora yang resisten terhadap panas dan pengeringan. 

Oleh karena itu, pencucian dengan suhu di atas 60°C diperlukan untuk mengurangi 99,9% dari jenis mikroba ini. Selain suhu, pemilihan deterjen dan pemutih juga memengaruhi efektivitas penghilangan patogen. Beberapa deterjen diketahui mampu melepaskan dan menonaktifkan virus seperti SARS-CoV-2 dan influenza. 

Menurut Gerba dan Kennedy, pemutih berbasis oksigen aktif (activated-oxygen bleach atau AOB) lebih efektif dalam mengurangi Mycobacterium dan virus dibandingkan pemutih berbasis klorin jika digunakan bersama deterjen. Hal ini dikarenakan pH deterjen yang tinggi serta keberadaan kotoran yang dapat mengurangi efektivitas pemutih klorin. Selain pencucian, agitasi yang dihasilkan oleh mesin cuci juga berperan dalam membantu menghilangkan mikroba dari pakaian. 

Pentingnya Pengeringan Pakaian

Setelah pencucian, proses pengeringan menjadi langkah krusial dalam mereduksi mikroba. Metode pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara utama, yaitu pengeringan menggunakan mesin dengan suhu tinggi (>60°C) dapat menghilangkan mikroba secara signifikan, termasuk Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus aureus. Selain itu, pengeringan dengan paparan sinar matahari, sinar matahari membantu membunuh sebagian mikroba, meskipun dalam kondisi lembab pertumbuhan mikroba masih dapat terjadi. 

Sinar matahari mengandung sinar ultraviolet (UV) yang memiliki sifat germicidal atau mampu membunuh bakteri dan virus. Sinar UV-C, yang memiliki panjang gelombang paling pendek dan energi tertinggi, merupakan jenis UV yang paling efektif dalam membunuh mikroba dengan cara merusak DNA dan RNA mereka. Pencucian pakaian yang efektif melibatkan beberapa tahapan, mulai dari pemilihan suhu yang tepat, penggunaan deterjen yang sesuai, hingga metode pengeringan yang efektif. 

Kombinasi suhu tinggi, bahan pencuci yang mengandung pemutih oksigen aktif, serta pengeringan yang optimal akan meningkatkan efektivitas penghilangan mikroba, menjaga kebersihan pakaian, serta mengurangi risiko penyebaran penyakit dan bau tidak sedap. Setiap produk pencuci memiliki klaim efektivitas berbeda, mulai dari menghilangkan bau hingga membasmi mikroba penyebab penyakit. Agar klaim tersebut benar-benar terbukti, diperlukan uji laboratorium yang dapat memberikan data akurat dan terpercaya.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Abney, S. E., Ijaz, M. K., McKinney, J., dan Gerba C. P. 2021. Laundry Hygiene and Odor Control: State of The Science. Applied and Environmental Microbiology, vol. 87(14). 

Theseepcompany. 2025. Does The Sun Kill Bacteria: Exploring The Sun’s Natural Disinfecting Power. Tersedia: https://theseepcompany.com/blogs/the-seep-blog/does-the-sun-kill-bacteria#:~:text=Hanging%20clothes%20out%20to%20dry,which%20harbour%20bacteria%20more%20easily, diakses pada 5 Maret 2025.  

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak