Probiotik Sebagai Perawatan Kulit: Pendekatan Baru untuk Kulit Sehat

Pernahkah kita berpikir bahwa kulit bukan hanya sekadar lapisan pelindung tubuh, tetapi juga menjadi tempat hidup bagi jutaan mikroorganisme dan probiotik bisa mengupgrade nya? Di permukaan kulit terdapat komunitas mikroorganisme yang dikenal sebagai skin microbiome atau mikrobioma kulit, yang terdiri atas berbagai bakteri, jamur, dan mikroba lain.

Dalam kondisi seimbang, mikroorganisme ini bekerja layaknya penjaga alami yang membantu melindungi kulit dari patogen sekaligus menjaga fungsi pelindung kulit tetap optimal. Namun, keseimbangan tersebut tidak selalu terjaga.

Ketika jumlah atau jenis mikroorganisme pada kulit berubah kondisi yang dikenal sebagai disbiosis fungsi perlindungan kulit dapat terganggu. Akibatnya, kulit menjadi lebih rentan mengalami peradangan dan infeksi, yang sering kali berkaitan dengan berbagai gangguan kulit seperti jerawat (acne), dermatitis atopik, psoriasis, hingga rosacea.

Pemahaman yang semakin berkembang mengenai peran mikrobioma kulit mendorong munculnya cara pandang baru dalam dunia perawatan kulit. Jika sebelumnya perawatan kulit lebih berfokus pada menghilangkan mikroorganisme, kini perhatian mulai bergeser pada upaya menjaga keseimbangan ekosistem kulit.

Dalam konteks inilah probiotik mulai dilirik sebagai pendekatan baru dalam perawatan kulit, karena berpotensi membantu menyeimbangkan kembali mikrobioma kulit dan mendukung kesehatan kulit secara lebih menyeluruh.

Daftar Isi :

Mengenal Probiotik dalam Kesehatan Kulit

Banyak ilmuwan yang tertarik meneliti mengenai hubungan antara usus dan kulit, yang dikenal sebagai gut skin axis, dalam berbagai gangguan kulit. Hal ini berhubungan dengan menjaga keseimbangan mikrobioma di dalam tubuh.

Salah satu pendekatan yang menarik dikaji adalah penggunaan probiotik, yaitu bakteri baik yang membantu memulihkan keseimbangan flora alami tubuh. Saat ini, penggunaan probiotik untuk perawatan kulit mengalami peningkatan yang signifikan.

Literatur mengenai topik ini pun terus berkembang. Hal tersebut menunjukkan bahwa bakteri baik menjadi bidang riset yang semakin mendapat perhatian dalam dermatologi modern.

Sebagai contoh, berbagai spesies Lactobacillus telah dimanfaatkan sebagai bakteri baik dalam bentuk topikal maupun oral untuk mendukung kesehatan kulit. Bakteri tersebut sudah banyak digunakan dalam produk krim, losion, serum, hingga suplemen. 

Bakteri baik dapat dimanfaatkan untuk membantu menenangkan peradangan sekaligus memperbaiki keseimbangan mikrobioma kulit. Beberapa kondisi kulit yang dilaporkan dapat memperoleh manfaat dari konsumsi bakteri baik antara lain jerawat, dermatitis atopik, rosacea, kulit sensitif, hingga tanda-tanda penuaan dini.

Melalui mekanisme tersebut, bakteri baik berpotensi mendukung kesehatan kulit dengan menjaga keseimbangan mikroorganisme yang hidup secara alami di permukaannya. Pemanfaatan probiotik ini menegaskan bahwa bakteri baik tidak hanya bekerja di saluran pencernaan, tetapi juga dapat memberikan dampak biologis langsung pada kulit.

Pemanfaatan Probiotik untuk Mengatasi Berbagai Permasalahan Kulit

Penggunaan probiotik topikal mulai banyak diteliti sebagai pendekatan baru dalam menangani berbagai gangguan kulit. Beberapa penelitian pada manusia maupun hewan menunjukkan bahwa probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit serta menekan proses peradangan.

Pada kondisi kulit berjerawat, individu umumnya memiliki komposisi mikrobioma kulit yang berbeda dibandingkan kulit sehat. Perawatan jerawat sering kali menyebabkan kulit menjadi kering dan iritasi karena merusak lapisan pelindung kulit. 

Penggunaan probiotik secara topikal dapat membantu memperbaiki fungsi skin barrier serta meningkatkan produksi peptida antimikroba. Contohnya, asam laktat dari Streptococcus thermophiles sebagai probiotik akan meningkatkan produksi ceramide yang dapat membantu menjaga kelembapan kulit sekaligus menghambat pertumbuhan Cutibacterium acnes.

Kondisi ini akan merawat kulit terhindar dari jerawat. Dermatitis atopik juga berkaitan dengan ketidakseimbangan mikrobioma kulit. Juga adanya peningkatan kolonisasi dari bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus.

Lactobacillus sakei dan Lactobacillus johnsonii berperan sebagai probiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus penyebab dermatitis atopik, sehingga membantu menurunkan peradangan pada kulit penderita. Seborrheic dermatitis dan ketombe sering dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih jamur pada kulit kepala serta berkurangnya keragaman mikrobioma.

Manfaat Probiotik Lainnya Untuk Permasalahan Kulit

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan probiotik seperti Vitreoscilla filiformis secara topikal dapat membantu mengurangi kemerahan, pengelupasan kulit, dan rasa gatal. Masalah kulit kepala ini juga dapat dikurangi dengan memanfaatkan Lactobacillus paracasei sebagai probiotik yang diaplikasikan secara oral.

Luka di kulit mengakibatkan perubahan komposisi mikrobioma dan meningkatkan risiko infeksi. Beberapa studi pada model hewan menunjukkan bahwa bakteri baik seperti Lactiplantibacillus plantarum, Lactobacillus fermentum, Saccharomyces cerevisiae, serta mikroorganisme dalam kefir dapat membantu meningkatkan pembentukan jaringan granulasi, memperbaiki deposisi kolagen, dan merangsang angiogenesis.

Selain itu, bakteri baik juga berpotensi menghambat pembentukan biofilm oleh bakteri patogen yang dapat menghambat proses penyembuhan luka.  Pemanfaatan probiotik topikal juga mulai dikaji dalam konteks penuaan kulit dan photoaging.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bakteri baik dapat membantu mengurangi stres oksidatif, memperbaiki fungsi skin barrier, serta berkontribusi pada perbaikan tampilan kulit seperti pengurangan kerutan dan hiperpigmentasi.

Pastikan produk perawatan kulit Anda benar-benar efektif dan aman.
Lakukan uji efikasi, uji keamanan, dan pengujian laboratorium bersamaIML Testing and Research untuk membuktikan kualitas dan kinerja produk secara ilmiah.

Author : Dherika
Editor : Alphi

Referensi

França, K. (2021). Topical Probiotics in Dermatological Therapy and Skincare: A Concise Review. Dermatol. Ther, 11, 71–77.

Habeebuddin, M., Karnati, R.K., Shiroorkar, P.N., Nagaraja, S., Asdaq, S.M.B., Khalid Anwer, M. Fattepur, S. (2022). Topical Probiotics: More Than a Skin Deep. Pharmaceutics, 14, 557. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics14030557.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak