
Mikroba Sengaja Ditambahkan ke Produk: Memahami Tanda Antimicrobial Effectiveness Test (AET)

Pengawet antimikroba ditambahkan ke dalam produk untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang dapat masuk secara tidak sengaja selama penggunaan berulang. Beberapa pengawet yang umum digunakan antara lain fenol, m kresol, benzyl alcohol, chlorobutanol, phenoxyethanol, methylparaben, propylparaben, dan thimerosal.
Senyawa-senyawa ini bekerja dengan menghambat atau membunuh mikroorganisme sehingga kualitas dan keamanan produk tetap terjaga selama masa penggunaan. Efektivitas pengawet antimikroba dievaluasi melalui Antimicrobial Effectiveness Test (AET) atau Preservative Effectiveness Test (PET).
Metode dan kriteria penerimaan pengujian ini diatur dalam United States Pharmacopeia (USP) <51>, European Pharmacopoeia (Ph. Eur.) 5.1.3, dan Japanese Pharmacopoeia (JP) 19. Meskipun ketiganya memiliki prosedur yang hampir sama, terdapat beberapa perbedaan pada interval pengamatan dan kriteria penerimaan hasil.
Daftar isi:
- Mengapa Kualitas Mikroorganisme Uji Menentukan Keberhasilan AET?
- Bagaimana AET Dilakukan pada Produk?
- Menilai Keberhasilan Pengawet pada Produk melalui Hasil AET
Mengapa Kualitas Mikroorganisme Uji Menentukan Keberhasilan AET?
Antimicrobial Effectiveness Test (AET) merupakan simulasi kontaminasi mikroba pada produk untuk mengevaluasi kemampuan sistem pengawet dalam menghambat atau menurunkan jumlah mikroorganisme dari waktu ke waktu. Keberhasilan pengujian sangat bergantung pada penggunaan mikroorganisme yang sehat, aktif, dan seragam sehingga hasil yang diperoleh akurat dan konsisten.
Mikroorganisme uji yang digunakan meliputi bakteri, khamir, dan kapang. Bakteri seperti S. aureus, P. aeruginosa, dan E. coli ditumbuhkan pada suhu 30–35°C selama 18–24 jam menggunakan Soybean-Casein Digest Medium (SCDM), sedangkan Candida albicans ditumbuhkan pada suhu 20–25°C selama sekitar 48 jam menggunakan Sabouraud Dextrose Agar (SDA).
Aspergillus brasiliensis juga ditumbuhkan pada media SDA hingga menghasilkan spora yang melimpah, umumnya setelah inkubasi selama 6–7 hari. Setelah pertumbuhan mikroorganisme optimal tercapai, suspensi mikroba distandarisasi hingga konsentrasi sekitar 10⁸ CFU/mL untuk memastikan jumlah mikroba awal yang seragam pada setiap pengujian.
Proses ini umumnya menggunakan saline steril 0,9% sebagai pengencer, sedangkan JP juga memperbolehkan penggunaan air pepton 0,1%; khusus untuk A. brasiliensis ditambahkan polysorbate 80 guna mencegah penggumpalan spora.
Suspensi mikroba yang telah distandarisasi harus segera digunakan agar viabilitas dan aktivitas sel tetap terjaga. Penyimpanan pada suhu 2–8°C dapat membantu mempertahankan kualitas suspensi, sementara spora A. brasiliensis diketahui tetap stabil hingga tujuh hari dalam kondisi tersebut.
Tahap berikutnya adalah enumerasi awal untuk menentukan jumlah mikroorganisme yang akan diinokulasikan ke dalam produk. Enumerasi dapat dilakukan menggunakan metode pour plate, spread plate, atau membrane filtration, sedangkan metode cepat seperti ATP bioluminescence dan flow cytometry dapat digunakan untuk mempercepat deteksi pertumbuhan mikroba.
Bagaimana AET Dilakukan pada Produk?
AET idealnya dilakukan menggunakan produk dalam kemasan akhir (marketed container) agar kondisi pengujian menyerupai penggunaan sebenarnya. Namun, jika volume produk tidak mencukupi, farmakope memperbolehkan produk dikeluarkan dari kemasan, digabungkan (pooling), dan dipindahkan ke wadah steril yang sesuai untuk pengujian.
Mikroorganisme uji kemudian diinokulasikan ke dalam produk untuk mensimulasikan kontaminasi. Volume inokulum tidak boleh melebihi 1% dari total volume produk agar tidak mengencerkan produk, menurunkan konsentrasi pengawet, atau mengubah formulasi.
Setelah inokulasi, produk disimpan pada suhu 20–25°C selama masa pengujian. Jumlah mikroorganisme selanjutnya dievaluasi pada beberapa titik waktu, yaitu hari ke-0, 7, 14, dan 28, untuk menentukan nilai log reduction sebagai indikator efektivitas pengawet.
Menilai Keberhasilan Pengawet pada Produk melalui Hasil AET
Dalam Antimicrobial Effectiveness Test (AET), jumlah mikroorganisme dievaluasi pada beberapa titik waktu untuk menilai kecepatan dan efektivitas sistem pengawet dalam mengendalikan kontaminasi. Waktu pengamatan berbeda antar farmakope; Ph. Eur. mensyaratkan evaluasi pada 6 jam dan 24 jam setelah inokulasi, sedangkan USP dan JP lebih berfokus pada pengamatan setelah beberapa hari.
Untuk memenuhi seluruh persyaratan, laboratorium umumnya melakukan enumerasi pada 6 jam, 24 jam, hari ke-7, hari ke-14, dan hari ke-28. Hasil pengujian dinilai berdasarkan penurunan jumlah mikroorganisme (log reduction) dibandingkan jumlah awal.
Pengamatan pada berbagai waktu memungkinkan evaluasi kemampuan pengawet dalam menurunkan populasi mikroba sekaligus mencegah pertumbuhan kembali selama masa pengujian. Ph. Eur. membagi kriteria penerimaan menjadi Criteria A dan Criteria B.
Criteria A merupakan standar yang lebih ketat karena mengharuskan pengawet bekerja cepat dalam menurunkan jumlah mikroorganisme pada 6 dan 24 jam pertama. Sebaliknya, Criteria B lebih realistis dan umum diterapkan, yaitu mensyaratkan penurunan minimal 1 log dalam 24 jam pertama serta kemampuan pengawet mencegah proliferasi mikroorganisme hingga hari ke-28.
Baca juga:
Kontaminasi Mikroba pada Kosmetik: Kebiasaan Umum yang Wajib Diwaspadai.
Sudah Tahu Sistem Pengawet Produk Anda Benar-Benar Bekerja?
Menambahkan pengawet ke dalam formula adalah satu hal membuktikan bahwa sistem pengawet tersebut efektif melindungi produk dari kontaminasi mikroba adalah hal yang sama sekali berbeda. Tanpa data AET yang valid, klaim keamanan produk Anda hanya berdiri di atas asumsi, bukan fakta ilmiah.
IML Testing & Research siap membantu brand owner dari skala apapun untuk menjalankan Antimicrobial Effectiveness Test sesuai standar farmakope yang diakui secara internasional, dengan hasil yang dapat digunakan untuk keperluan registrasi dan dokumentasi regulasi BPOM RI. Konsultasikan kebutuhan pengujian AET produk Anda bersama tim ahli kami gratis, dan disesuaikan dengan jenis serta kategori produk Anda.
Author: Dherika
Editor: Alphi
Referensi
European Pharmacopeia. EP <5.1.3>Efficacy of antimicrobial preservatives.
Japanese Pharmacopeia. JP <19>Preservative effectiveness tests.
Moser, C.L. & Meyer, B.K. (2011). Comparation of Compendial Antimicrobial Effectiveness Tests: A Review. AAPS PhamSciTech, 12(1), 1-5. Doi: 10.1208/s12249-010-9575-9.
United States Pharmacopeia. USP <51>. Antimicrobial effectiveness testing. Rockville, MD



