
Mengobati Luka Bakar dengan Pasta Gigi? Apa Kata Uji Laboratorium

Luka bakar merupakan salah satu kondisi yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari akibat air panas, minyak panas, hingga tidak sengaja terpapar benda bersuhu tinggi. Luka bakar menyebabkan kerusakan pada kulit. Kerusakan pada kulit ini menyebabkan kematian sel-sel kulit dan hilangnya cairan tubuh dalam jumlah besar, yang kemudian dapat memicu dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta kegagalan fungsi ginjal dan sistem sirkulasi.
Infeksi juga menjadi ancaman bagi seseorang yang terkena luka bakar, karena kulit yang terbakar sangat rentan terhadap bakteri dan patogen lain akibat hilangnya lapisan kulit. Maka dari itu, penanganan luka bakar harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Beredar di masyarakat, salah satu cara mengobati luka bakar yaitu dengan menggunakan pasta gigi.
Pasta gigi mengandung bahan seperti menthol yang memberikan sensasi dingin saat dioleskan. Rasa dingin ini membuat rasa nyeri pada sebagian orang akibat luka bakar berkurang. Pasta gigi juga adalah barang yang hampir selalu ada di setiap rumah, sehingga pasta gigi menjadi pilihan cepat saat terjadi luka bakar mendadak.
Selain itu, saran menggunakan pasta gigi sebagai penolongan pertama saat terkena luka bakar telah menjadi tradisi dan kebiasaan turun temurun. Namun, penting untuk diketahui bahwa penggunaan pasta gigi untuk luka bakar tidak disarankan dan dapat memperburuk kondisi luka.
Mengapa Pasta Gigi Berbahaya untuk Luka Bakar?
Kulit yang terbakar kehilangan lapisan pelindungnya dan sangat rentan terhadap infeksi. Pengaplikasian pasta gigi pada luka bakar dapat meningkatkan risiko masuknya bakteri dan patogen ke dalam luka. Kandungan gliserol yang umumnya terdapat pada pasta gigi dapat berperan sebagai media tumbuh bakteri, sehingga dapat mendorong perkembangan kolonisasi bakteri.
Selain itu, komposisi pasta gigi lain, mengandung bahan abrasif seperti kalsium karbonat, detergen seperti natrium lauril sulfat, serta zat beraroma seperti menthol dan mint dapat menyebabkan iritasi tambahan pada jaringan yang mengalami kerusakan. Lapisan pasta gigi yang menutupi luka juga dapat memerangkap panas di bawah permukaan kulit, sehingga menghambat proses pendinginan yang penting untuk menghentikan kerusakan jaringan lanjutan.
Bagaimana Penanganan Luka Bakar yang Baik?
Saat kulit terbakar, pertolongan pertama untuk mengatasinya yaitu siram luka bakar dengan air dingin untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Jika area luka bakar terbatas, rendam bagian yang terkena dengan air dingin selama 30 menit untuk mengurangi nyeri, pembengkakan, dan kerusakan jaringan.
Jika luka bakar luas, balut area di sekitar luka dengan kain bersih untuk mencegah kehilangan panas tubuh secara menyeluruh. Perawatan luka bakar memerlukan penanganan harian yang cermat untuk mencegah komplikasi.
Balutan luka harus diganti secara rutin, idealnya dua kali sehari atau lebih sering jika mulai lembap oleh cairan luka. Saat mengganti balutan, jaringan kulit yang sudah mati harus dibersihkan, dan luka perlu diperiksa untuk melihat adanya perubahan warna atau pendarahan, karena kondisi tersebut dapat mengindikasikan infeksi.
Selain itu, penggunaan obat salep, seperti perak sulfadiazine juga disarankan. Obat salep sulfadiazine merupakan antibiotik sulfonamida topikal yang bekerja pada dinding sel dan membran sel bakteri. Sulfadiazine bekerja secara efektif melawan berbagai jenis bakteri, termasuk bakteri Gram positif dan Gram negatif yang umum ditemukan pada luka bakar, misalnya seperti Staphylococcus aureus.
Selengkapnya:
Peran Validasi dalam Menjamin Mutu Produk Farmasi
Berbagai mitos pertolongan pertama pada luka bakar masih banyak dipercaya dan dipraktikkan hingga saat ini, meskipun tidak semuanya didukung oleh bukti ilmiah. Di balik kemudahan dan kebiasaan turun-temurun, pemilihan bahan yang tidak tepat justru berisiko memperparah kerusakan jaringan dan meningkatkan potensi infeksi.
Oleh karena itu, pemahaman berbasis sains menjadi kunci dalam menentukan penanganan luka bakar yang aman dan efektif. Keamanan dan efektivitas produk yang digunakan pada luka bakar harus didukung oleh data ilmiah melalui uji laboratorium.
Pengujian mikrobiologi, efektivitas antibakteri, serta evaluasi keamanan sediaan topikal membantu memastikan produk benar-benar aman digunakan pada kulit yang rusak. IML Testing and Research menyediakan layanan uji laboratorium untuk mendukung pengembangan dan evaluasi produk perawatan luka yang andal dan berbasis sains.
Author: Jihan
Editor: Sabilla Reza
References:
Burn and Reconstructive Centers of America. (2022). Why You Shouldn’t Put Toothpaste on Burns – Harmful Home Remedies to Avoid. Diakses pada tanggal 14 November 2025 dari https://burncenters.com/community/why-you-shouldnt-put-toothpaste-on-burns-harmful-home-remedies-to-avoid/
Oaks RJ, Cindass R. Silver Sulfadiazine. (2023). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK556054/
Shpichka, A., Butnaru, D., Bezrukov, E.A. et al. Skin tissue regeneration for burn injury. Stem Cell Res Ther 10, 94 (2019). https://doi.org/10.1186/s13287-019-1203-3
World Health Organization. (2025). Burn Management.



