
Benarkah Obat Hipertensi Dikonsumsi Seumur Hidup dan Peran Uji Laboratorium di Baliknya?

Tekanan darah tinggi atau dikenal sebagai hipertensi merupakan suatu kondisi di mana tekanan darah di dalam arteri mengalami peningkatan secara konstan. Seseorang dinyatakan mempunyai hipertensi apabila tekanan darah sistoliknya (tekanan saat jantung berkontraksi) ≥130 mmHg dan tekanan diastoliknya (tekanan saat jantung istirahat) ≥80 mmHg. Hipertensi seringkali tidak menunjukkan gejala spesifik yang jelas namun berpotensi memicu komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal sehingga hipertensi sering disebut sebagai silent killer.
Lebih dari satu miliar orang dewasa di seluruh dunia diketahui menderita hipertensi. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2023, estimasi jumlah penderita hipertensi mencapai 63 juta orang, dengan angka kematian sebanyak 427 ribu orang. Tekanan darah ditentukan oleh dua hal utama, yakni, jumlah darah yang dipompa oleh jantung dan seberapa besar hambatan aliran darah di dalam arteri.
Semakin banyak darah yang dipompa oleh jantung dan semakin sempit pembuluh darah arteri, maka tekanan darah akan semakin tinggi. Terdapat dua jenis utama hipertensi, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada hipertensi primer, penyebab pasti dari hipertensi tidak dapat diidentifikasi.
Hipertensi jenis ini biasanya berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun. Sedangkan pada hipertensi sekunder, terdapat kondisi medis lain yang mendasari penyebab hipertensi seperti, penyakit ginjal, kelainan hormon, kehamilan, obat-obatan tertentu, dan lain sebagainya.
Apakah Obat Hipertensi Harus Diminum Terus Menerus?
Hipertensi primer biasanya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Pembuluh darah yang telah mengalami pengerasan atau penyempitan tidak dapat kembali normal dengan cepat, sehingga tekanan darah cenderung tetap tinggi tanpa pengobatan yang konsisten.
Obat antihipertensi bekerja dengan cara membantu melebarkan pembuluh darah, mengurangi volume darah, atau menurunkan kerja jantung agar tekanan darah tetap normal. Ketika pengobatan dihentikan secara tiba-tiba, tekanan darah bisa naik kembali dan meningkatkan risiko komplikasi. Artinya, mayoritas pasien hipertensi membutuhkan terapi obat jangka panjang untuk menjaga tekanan darah tetap di bawah batas aman.
Selengkapnya:
Bagaimana Pengujian Obat yang Presisi Mendukung Penanganan Hipertensi yang Lebih Aman?
Dapatkah Konsumsi Obat Hipertensi Dihentikan?
Terdapat beberapa penelitian yang membahas mengenai penghentian obat antihipertensi. Salah satu faktor penting yang memengaruhi tekanan darah adalah berat badan. Pada pasien yang berhasil menurunkan berat badan sekitar 7 kilogram atau lebih, pengurangan dosis obat dapat dipertimbangkan.
Gaya hidup dapat berperan penting dalam penghentian obat. Salah satu penelitian yang membahas peran gaya hidup terhadap penghentian obat menunjukkan bahwa pasien yang berhasil mempertahankan tekanan darah normal setelah menghentikan pengobatan adalah mereka yang berhasil menerapkan perubahan gaya hidup sehat—seperti menjaga berat badan, pola makan rendah garam, dan olahraga rutin. Sekitar 50% dari kelompok ini tetap bebas obat hingga tiga tahun.
Sebaliknya, pada pasien yang tidak melakukan perubahan gaya hidup, sekitar lima dari enam orang mengalami kekambuhan hipertensi dalam tiga tahun setelah obat dihentikan. Meskipun demikian, keputusan untuk menghentikan konsumsi obat antihipertensi tidak boleh dilakukan secara mandiri tanpa pengawasan tenaga medis karena setiap pasien memiliki kondisi tubuh dan faktor risiko yang berbeda. Pengendalian hipertensi adalah proses jangka panjang.
Tujuan utama dari mengendalikan hipertensi bukan untuk berhenti meminum obat, melainkan menjaga tekanan darah tetap normal untuk mencegah komplikasi serius di masa depan. Melihat kompleksitas pengendalian hipertensi yang bersifat jangka panjang, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada kepatuhan pasien dan perubahan gaya hidup, tetapi juga pada mutu obat yang dikonsumsi. Obat antihipertensi harus memiliki kandungan bahan aktif yang tepat, stabil, dan konsisten agar mampu menjaga tekanan darah tetap terkontrol tanpa meningkatkan risiko efek samping.
Untuk itu, pengujian obat antihipertensi di laboratorium menjadi langkah penting yang tidak dapat diabaikan. Bagi pelaku industri farmasi, memastikan kualitas, keamanan, dan kesesuaian kadar bahan aktif melalui uji laboratorium yang komprehensif bersama IML Testing and Research merupakan bagian dari komitmen dalam mendukung terapi hipertensi yang aman dan berkelanjutan.
Author: Jihan
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Hegde S, Ahmed I, Aeddula NR. Secondary Hypertension. [Updated 2023 Jul 30]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544305/
Iqbal AM, Jamal SF. Essential Hypertension. [Updated 2023 Jul 20]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539859/
Townsend R. R. (2003). Can I stop taking this blood pressure medicine?. Journal of clinical hypertension (Greenwich, Conn.), 5(3), 234. https://doi.org/10.1111/j.1524-6175.2003.02403.x
World Health Organization. (2023). Hypertension. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2025 dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension



