Mengenal DNA Barcoding dan Perannya sebagai Analisis Laboratorium di Berbagai Aspek Kehidupan

Perkembangan ilmu biologi molekuler dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan besar, khususnya cara mengidentifikasi dan memahami keanekaragaman hayati. Salah satu teknik yang terkait dalam bidang ini adalah DNA barcoding, yang memanfaatkan DNA untuk mengenali dan membedakan spesies makhluk hidup. 

DNA sendiri merupakan molekul yang membawa instruksi genetik untuk menjalankan fungsi, perkembangan, dan reproduksi di semua makhluk hidup. Dalam tubuh kita maupun makhluk hidup lain terdiri dari jutaan urutan DNA (barcode sequence) yang telah disimpan dalam basis data internasional. Teknologi ini dapat membantu para peniliti dalam identifikasi spesies, konservasi, ekologi, dan keamanan pangan. 

Apa itu DNA Barcoding?

DNA barcoding adalah teknik yang menggunakan satu atau beberapa bagian DNA standar untuk membedakan berbagai spesies di dunia. Sejak tahun 2003, teknik ini berkembang menjadi program riset global yang telah menghasilkan jutaan urutan DNA barcode. Bantuan teknologi yang berpotensi dalam pengembangan DNA barcoding salah satunya adalah Next Generation Sequencing (NGS)

NGS dapat membantu membaca DNA genom secara keseluruhan (seluruh genom organel) dan luas sehingga teknologi ini cocok untuk proyek skala besar. Metode ini juga dapat memberikan informasi DNA lebih panjang dan lebih kaya, yang mampu menjelaskan hubungan evolusi antar spesies dengan lebih baik. 

Bagaimana Cara Kerja DNA Barcoding?

Cara kerja dasar teknik DNA barcoding yang digunakan untuk mengidentifikasi spesies terdiri dari empat langkah sebagai berikut

  1. Ekstraksi DNA dari jaringan organisme, seperti kaki serangga, rambut/bulu, swab mulut, daun, kulit, dan lain-lain
  2. Amplifikasi fragmen DNA standar menggunakan primer khusus dan polymerase chain reaction (PCR). Pada tahap ini, kode di area spesifik suatu DNA akan diperbanyak jutaan kali untuk siap disekuensing
  3. Sekuensing fragmen DNA yang telah diperbanyak
  4. Perbandingan urutan yang didapat dengan database referensi untuk menentukan kecocokan spesies

Kelebihan DNA Barcoding

DNA barcoding memiliki banyak keunggulan karena memiliki ketepatan yang tinggi, kecepatan, dan kemampuan dalam membedakan berbagai spesies. Kelebihan utama metode ini adalah akurasi. DNA barcoding mampu melewati keterbatasan metode morfologi konvensional karena mampu mengidentifikasi yang konsisten, objektif, dan berbasis pada urutan genetik.

Lalu, kelebihan lainnya metode ini adalah cepat, karena hasil dapat diperoleh dalam hitungan jam hingga beberapa hari saja. Oleh karena itu, metode ini sangat berguna untuk penelitian ekologi yang berskala besar. DNA barcoding juga sangat bermanfaat untuk mengelola hama karena kemampuannya yang cepat dan tepat, petani bisa mengetahui jenis hama secara akurat, sehingga tindakan pengendalian hama dapat dilakukan dengan cepat dan efektif. Manfaat lainnya untuk petani, DNA barcoding mampu mengidentifikasi berbagai tahap kehidupan serangga (telur, larva, atau spesimen yang sudah rusak). 

Keterbatasan DNA Barcoding

Meskipun DNA barcoding memiliki banyak keunggulan, metode ini juga memiliki beberapa beberapa kelemahan atau keterbatasan. Keterbatasan metode ini salah satunya tidak memiliki primer universal yang bisa digunakan untuk semua jenis serangga. Artinya, satu jenis marker DNA tidak cukup untuk mengidentifikasi semua kelompok serangga. 

Keterbatasan ini membuat peneliti harus menggunakan beberapa marker atau primer khusus untuk mengidentifikasi kelompok organisme tertentu. Selain itu, database referensi DNA yang belum lengkap menyulitkan peneliti dalam proses identifikasi spesies dengan tepat. Tantangan yang sering muncul juga adalah spesimen yang dikumpulkan dari lingkungan sering memiliki DNA yang sudah rusak. 

Hal ini menyebabkan kesulitan mendapatkan urutan DNA dengan kualitas yang tinggi (diperlukan dalam proses barcoding). Keterbatasan-keterbatasan ini menunjukkan bahwa DNA barcoding masih perlu dikembangkan pada marker, peningkatan teknik laboratorium, dan perluasan database referensi supaya DNA barcoding dapat digunakan secara lebih efektif. 

Melihat potensi dan keterbatasannya, penerapan DNA barcoding tidak hanya bergantung pada konsep teoritis, tetapi juga pada ketepatan metode laboratorium, pemilihan marker yang sesuai, serta kualitas data sekuensing yang dihasilkan. Oleh karena itu, dukungan fasilitas dan kompetensi laboratorium menjadi faktor kunci agar hasil identifikasi spesies dapat diandalkan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Coissac, E., Hollingsworth, P. M., Lavergne, S., & Taberlet, P. (2016). From barcodes to genomes: Extending the concept of DNA barcoding. Molecular Ecology, 25(7), 1423–1428. https://doi.org/10.1111/mec.13549

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak