Kosmetik Berbahaya Kembali Ditemukan BPOM, Seberapa Penting Uji Laboratorium Sebelum Produk Beredar?

Industri kosmetik terus berkembang dengan hadirnya berbagai produk baru, mulai dari skincare, makeup, perawatan rambut, hingga produk perawatan tubuh. Namun, perkembangan tersebut juga perlu diimbangi dengan pengendalian keamanan dan mutu yang memadai.

Pada Juli 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali mengumumkan temuan kosmetik berbahaya dalam pengawasan rutin periode April–Juni 2026. Sebanyak 14 produk terbukti mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetik.

Dari 14 produk tersebut, 11 merupakan produk lokal yang dibuat berdasarkan kontrak produksi, satu produk impor, dan dua produk tidak memiliki izin edar. Seluruh produk telah melalui pengujian laboratorium dan dinyatakan tidak memenuhi ketentuan keamanan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengujian laboratorium memiliki peran penting dalam memberikan data objektif mengenai karakteristik suatu produk. Bagi produsen, pengujian juga dapat menjadi bagian dari pengendalian mutu dan evaluasi formulasi sebelum produk beredar.

Daftar Isi:

Apa Saja Bahan Kosmetik Berbahaya yang Ditemukan BPOM?

Berdasarkan hasil pengawasan Triwulan II 2026, BPOM menemukan beberapa bahan berbahaya dan/atau dilarang dalam produk kosmetik, yaitu:

  • asam retinoat;
  • hidrokinon;
  • klobetasol propionat;
  • mometason furoat;
  • pewarna merah K10; dan
  • merkuri.

Bahan-bahan yang ditemukan dalam kosmetik berbahaya tersebut memiliki karakteristik dan risiko kesehatan yang berbeda. BPOM menjelaskan bahwa asam retinoat dapat menyebabkan kulit kering dan sensasi terbakar serta memiliki risiko teratogenik.

Dalam temuan kosmetik berbahaya, hidrokinon berpotensi menyebabkan hiperpigmentasi dan ochronosis. Sementara itu, klobetasol propionat dan mometason furoat dapat menyebabkan atrofi kulit.

BPOM juga menyebutkan bahwa pewarna merah K10 memiliki risiko karsinogenik dan dapat mengganggu fungsi hati, sedangkan paparan merkuri dapat menimbulkan iritasi dan bintik hitam pada kulit hingga kerusakan ginjal. Temuan kosmetik berbahaya tersebut menunjukkan bahwa penampilan fisik produk saja tidak cukup untuk memastikan keamanan komposisinya.

Kosmetik Terlihat Normal Belum Tentu Komposisinya Sesuai

Produk kosmetik berbahaya dengan kandungan yang tidak sesuai tidak selalu menunjukkan perubahan warna, aroma, atau tekstur yang mudah dikenali konsumen. Krim dapat tetap terlihat putih dan lembut.

Lipstik tetap dapat memberikan warna yang menarik, meskipun berpotensi termasuk kosmetik berbahaya apabila mengandung bahan yang tidak sesuai ketentuan. Nail polish juga dapat memiliki tampilan yang secara kasatmata tidak berbeda dari produk lainnya.

Permasalahannya terletak pada komposisi kimia yang tidak dapat dipastikan hanya melalui pengamatan visual. Inilah salah satu alasan analisis laboratorium menjadi penting.

Melalui metode analisis yang sesuai, laboratorium dapat membantu mengidentifikasi atau menentukan kadar senyawa tertentu dalam bahan baku maupun produk akhir, termasuk mendeteksi kandungan yang berpotensi menyebabkan produk tergolong sebagai kosmetik berbahaya.

Mengapa Uji Laboratorium Penting Sebelum Produk Beredar?

Pengujian laboratorium bukan sekadar tahapan untuk mendapatkan angka pada certificate of analysis. Data pengujian dapat membantu perusahaan memahami karakteristik bahan dan produk secara lebih objektif sekaligus mengidentifikasi potensi kandungan yang dapat menyebabkan produk tergolong sebagai kosmetik berbahaya.

Berikut beberapa alasan mengapa pengujian perlu menjadi bagian dari sistem pengendalian produk kosmetik.

Membantu Mengidentifikasi Kandungan yang Tidak Diinginkan

Salah satu fungsi analisis laboratorium adalah membantu mengidentifikasi keberadaan senyawa tertentu yang berpotensi berkaitan dengan kosmetik berbahaya. Metode analisis dapat dipilih berdasarkan target yang ingin diperiksa.

Teknik seperti kromatografi dan spektrometri, misalnya, dapat digunakan untuk analisis berbagai senyawa organik, sedangkan teknik analisis unsur dapat digunakan untuk mengevaluasi logam tertentu. Pemilihan metode harus mempertimbangkan karakteristik analit, matriks kosmetik, konsentrasi yang diperkirakan, serta tujuan pengujian.

Dalam kasus kosmetik berbahaya, analisis yang tepat dapat membantu mendeteksi senyawa yang tidak seharusnya terdapat dalam formulasi atau mengevaluasi kandungan tertentu terhadap spesifikasi yang berlaku.

Memverifikasi Kesesuaian Bahan Baku

Keamanan produk akhir dimulai dari bahan baku. Untuk mengurangi risiko menghasilkan kosmetik berbahaya, produsen perlu mengetahui identitas dan karakteristik bahan yang digunakan dalam formulasi.

Mengandalkan nama bahan pada kemasan atau dokumen pemasok saja mungkin belum memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk pengendalian mutu. Bergantung pada jenis material, evaluasi dapat mencakup:

  • identitas bahan;
  • kadar bahan aktif;
  • kemurnian;
  • pengotor tertentu;
  • logam tertentu;
  • karakteristik fisikokimia; dan
  • parameter lain berdasarkan spesifikasi.

Pengujian bahan baku dapat membantu perusahaan memastikan material yang masuk ke proses produksi sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

Mengevaluasi Produk Akhir

Formula yang baik tetap membutuhkan pengendalian selama proses produksi untuk meminimalkan risiko terbentuknya kosmetik berbahaya. Kesalahan penimbangan, variasi bahan baku, kontaminasi silang, perubahan proses, atau ketidaksesuaian prosedur dapat menyebabkan karakteristik produk akhir berbeda dari yang direncanakan.

Karena itu, finished product testing menjadi bagian penting dalam pengendalian mutu. Parameter yang diuji dapat berbeda berdasarkan jenis produk.

Produsen dapat mengevaluasi karakteristik kimia, fisik, mikrobiologis, maupun parameter lain yang relevan. Evaluasi produk akhir membantu memastikan bahwa produk yang akan dilepas ke pasar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

Membantu Mengendalikan Variasi Antar-Batch

Satu batch yang memenuhi spesifikasi tidak otomatis menjamin semua batch berikutnya memiliki karakteristik identik. Perubahan kecil pada bahan baku, pemasok, proses pencampuran, temperatur, waktu produksi, atau kondisi penyimpanan dapat memengaruhi produk akhir.

Pengujian antar-batch dapat memberikan data untuk memantau konsistensi. Misalnya, perusahaan dapat membandingkan:

  • kadar senyawa tertentu;
  • profil pengotor;
  • karakteristik fisikokimia;
  • parameter stabilitas; atau
  • parameter mutu lainnya.

Pendekatan tersebut penting untuk mengurangi kemungkinan produk yang tidak sesuai spesifikasi terdistribusi kepada konsumen.

Mendukung Evaluasi Keamanan Produk

Keamanan kosmetik tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu parameter. Literatur mengenai cosmetic safety assessment menekankan bahwa evaluasi keamanan perlu mempertimbangkan profil fisikokimia dan toksikologi bahan serta skenario paparan konsumen.

Karena itu, pengujian laboratorium merupakan salah satu sumber data yang dapat mendukung evaluasi keamanan, tetapi hasil laboratorium perlu diinterpretasikan bersama informasi lain yang relevan. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai produk sebelum dipasarkan.

Membantu Mendeteksi Kontaminasi

Masalah pada kosmetik tidak selalu berasal dari bahan yang sengaja dimasukkan ke dalam formulasi. Kontaminasi dapat muncul dari:

  • bahan baku;
  • air;
  • peralatan produksi;
  • lingkungan produksi;
  • kemasan;
  • penyimpanan; atau
  • kontaminasi silang.

Kontaminan dapat berupa mikroorganisme maupun senyawa kimia tertentu. Karena itu, penerapan proses produksi yang baik perlu didukung dengan pengendalian bahan baku, lingkungan, proses, dan pengujian yang sesuai.

Apakah Produk yang Sudah Memiliki Izin Edar Tidak Perlu Diuji Lagi?

Pengendalian mutu tidak berhenti ketika produk memperoleh izin edar. BPOM sendiri melakukan pengawasan terhadap produk yang telah beredar.

Dalam temuan Triwulan II 2026, BPOM menyatakan 11 dari 14 item merupakan produk lokal berdasarkan kontrak produksi dan satu merupakan produk impor, sementara dua produk tidak memiliki izin edar. Artinya, pengawasan post-market tetap penting.

Bagi perusahaan, hal tersebut juga menegaskan pentingnya menjaga konsistensi produksi setelah produk dipasarkan. Perubahan pemasok, bahan baku, proses produksi, fasilitas, atau karakteristik formula perlu dikelola dengan baik agar mutu produk tetap konsisten.

Regulasi Bahan Kosmetik Juga Terus Berkembang

Produsen juga perlu memperhatikan bahwa persyaratan teknis bahan kosmetik dapat mengalami pembaruan. Saat ini, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik berstatus berlaku dan menggantikan Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahannya.

Karena itu, formulasi yang dikembangkan perusahaan perlu mengacu pada ketentuan yang berlaku saat produk dikembangkan dan diedarkan. Perusahaan tidak cukup hanya memastikan suatu bahan memiliki fungsi yang diinginkan.

Batas penggunaan, kategori bahan, pembatasan, dan ketentuan lain yang relevan juga perlu diperhatikan.

Jangan Menunggu Produk Ditemukan Bermasalah

Temuan kosmetik berbahaya seharusnya menjadi pengingat bagi industri bahwa pengendalian mutu idealnya dilakukan sejak sebelum produk memasuki pasar. Pendekatan reaktif—baru melakukan investigasi setelah muncul keluhan atau temuan regulator—dapat memberikan konsekuensi yang jauh lebih besar.

Produk yang tidak memenuhi persyaratan dapat menimbulkan risiko kesehatan sekaligus berdampak pada:

  • penarikan produk;
  • penghentian distribusi;
  • kerugian finansial;
  • reputasi merek;
  • kepercayaan konsumen; dan
  • tindakan regulatori.

Sebaliknya, pendekatan preventif memungkinkan perusahaan mengidentifikasi potensi masalah lebih awal.

Pengujian Apa yang Bisa Dilakukan pada Kosmetik?

Jenis pengujian perlu ditentukan berdasarkan karakteristik produk dan tujuan evaluasi. Untuk mengevaluasi kandungan kimia tertentu, kemurnian bahan, kadar senyawa, atau keberadaan komponen yang tidak diinginkan, perusahaan dapat menggunakan Uji Senyawa Kimia dengan metode analisis yang sesuai.

Jika tujuan evaluasi berkaitan dengan potensi efek keamanan suatu bahan, Uji Toksisitas dapat menjadi bagian dari strategi pengujian sesuai kebutuhan. Sementara itu, Uji Efikasi dapat digunakan ketika perusahaan perlu memperoleh data mengenai performa atau efektivitas produk terhadap klaim tertentu.

Dalam kondisi tertentu, Biologi Molekuler juga dapat digunakan apabila parameter pengujian memang memerlukan pendekatan berbasis DNA atau RNA. Artinya, tidak ada satu jenis pengujian yang otomatis cocok untuk semua kosmetik.

Strategi pengujian perlu ditentukan berdasarkan formula, parameter, klaim, risiko, dan tujuan evaluasi.

Pastikan Kualitas dan Keamanan Kosmetik melalui Pengujian Laboratorium

Jangan menunggu produk ditemukan bermasalah setelah beredar. Evaluasi bahan baku dan produk kosmetik dengan pengujian laboratorium yang sesuai untuk memperoleh data objektif mengenai kualitas, keamanan, dan karakteristik produk.

IML Testing & Research menyediakan layanan Uji Senyawa Kimia, Uji Toksisitas, Uji Efikasi, dan Biologi Molekuler yang dapat disesuaikan dengan parameter serta tujuan pengujian produk Anda. Hubungi IML Testing & Research sekarang dan konsultasikan kebutuhan pengujian kosmetik bersama tim kami!

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2026). BPOM Temukan Kembali 14 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya dan Bahan Dilarang pada Triwulan II Tahun 2026. Siaran Pers BPOM, 13 Juli 2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Badan POM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik.

Rogiers, V., & Pauwels, M. (Eds.). (2008). Safety Assessment of Cosmetics in Europe. Current Problems in Dermatology, Vol. 36. Karger.

Rogiers, V., et al. (2010). Human health safety evaluation of cosmetics in the EU: A legally imposed challenge to science. Toxicology and Applied Pharmacology, 243(2), 260–274.

Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS), Rogiers, V., et al. (2026). The way forward for assessing the human health safety of cosmetics in the EU: Proceedings of Workshop 2. Archives of Toxicology, 100, 1637–1655.

Barel, A. O., Paye, M., & Maibach, H. I. (Eds.). Handbook of Cosmetic Science and Technology. CRC Press.

Schlossman, M. L. (Ed.). The Chemistry and Manufacture of Cosmetics. Allured Publishing.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak