
Bakteri Staphylococcus aureus menyebabkan penyakit apa?

Penyakit kulit akibat infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemukan pada anak-anak maupun orang dewasa. Bakteri patogen yang paling dominan menyerang kulit manusia adalah Staphylococcus aureus, padahal bakteri ini secara alami juga ditemukan pada kulit kita dalam kondisi normal.
Bakteri ini bisa berubah menjadi patogen invasif ketika kulit dalam kondisi tertentu yang menyebabkan jumlah koloni bakteri ini menjadi lebih banyak dari biasanya. Keunikan bakteri ini terletak pada kemampuannya menghasilkan berbagai toksin, seperti Panton-Valentine leukocidin (PVL), exfoliatin, enterotoksin, dan toxic shock syndrome toxin-1 (TSST-1).
Toksin ini bisa menyebabkan infeksi lokal ringan seperti impetigo dan folikulitis, hingga infeksi berat seperti toxic shock syndrome dan staphylococcal scalded skin syndrome. Dalam dekade terakhir, muncul penyakit serius yang menjadi tantangan besar dalam pengendaliannya, yaitu community-acquired methicillin-resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA).
Oleh karena itu, pemahaman luas mengenai penyakit kulit akibat S. aureus dan mekanisme patogenesisnya sangat penting untuk menunjang diagnosis, terapi, dan pencegahan yang tepat.
- Penyebab S. aureus Mengkolonisasi Kulit
- Jenis-jenis Penyakit Infeksi Kulit oleh S. aureus
- Cara Pencegahan
Penyebab S. aureus Mengkolonisasi Kulit
S. aureus memiliki mekanisme adaptasi biologis unik yang mampu bertahan, melekat, dan berinteraksi dengan lingkungan kulit. Sebenarnya, kulit manusia memiliki kondisi pH yang tidak ramah bagi bakteri karena cenderung memiliki pH yang relatif asam, permukaan yang kering dan kaya garam, dan adanya asam lemak, peptida antimikroba, serta sistem imun bawaan.
Tetapi, karena mekanisme adaptasi yang unik, S. aureus mampu bertahan dan berkolonisasi. Mekanisme tersebut adalah dengan memproduksi protein adhesin yang berfungsi untuk perlekatan pada sel kulit atau jaringan permukaan.
Jika perlekatan ini cukup kuat, bakteri bisa tetap bertahan walau terjadi gesekan atau proses pencucian. Setelah itu, bakteri ini memiliki toleransi garam tinggi sehingga cocok dengan keringat manusia.
Kulit manusia dihuni oleh mikrobiota normal seperti Staphylococcus epidermidis dan Cutibacterium acnes yang menghambat pertumbuhan bakteri patogen (termasuk S. aureus) pada kondisi kulit seimbang. Namun, apabila terjadi gangguan keseimbangan mikrobiota (akibat antibiotik, luka, dermatitis, atau kelembapan berlebih), pertumbuhan S. aureus akan mendominasi kulit.
Kolonisasi S. aureus sering ditemukan pada area hidung, ketiak dan lipatan kulit, selangkangan, dan kulit yang rusak atau peradangan. Kolonisasi dapat berubah menjadi infeksi ketika terjadi luka atau kerusakan barrier kulit, sistem imun melemah, dan produksi faktor virulensi dan toksin oleh bakteri.
Jenis-jenis Penyakit Infeksi Kulit oleh S. aureus
Infeksi kulit lokal oleh S. aureus diantaranya adalah impetigo, yaitu infeksi yang terjadi pada anak-anak dan ditandai oleh lepuh rapuh, pustul, dan krusta kekuningan. Infeksi ini disebabkan oleh toksin exfoliatin A dan B yang dihasilkan oleh bakteri dan merusak protein, sehingga lapisan epidermis terlepas.
Infeksi lainnya adalah folikulitis yang menginfeksi pada folikel rambut disertai eritema di sekitarnya. Infeksi terjadi pada area tubuh yang memiliki rambut, seringnya di area janggut yang disebabkan oleh aktivitas mencukur.
Infeksi dengan tingkat yang parah disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri, seperti Toxic Shock Syndrome (TTS), diakibatkan oleh enterotoksin stafilokokus. Gejala yang dialami adalah kulit mengalami eritema yang menyerupai sunburn.
Selain itu, Staphylococcal scarlet fever yang disebabkan juga oleh enterotoksin. Penyebaran toxin exfoliatin dapat menyebabkan infeksi Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS), yang ditandai dengan kulit melepuh terbakar dan umumnya menyerang pada anak kecil.
Cara Pencegahan
Cara pencegahan penyakit kulit akibat Staphylococcus aureus adalah dengan menjaga kelembapan kulit supaya skin barrier membaik. Menjaga kebersihan dengan mandi, terutama setelah berkeringat, tidak berbagi handuk, pakaian, atau alat cukur dengan orang lain, dan menjaga kebersihan area lipatan kulit (ketiak dan selangkangan), yang merupakan lokasi kesukaan bagi S. aureus.
Infeksi S. aureus sering terjadi dalam lingkungan yang ramai seperti keluarga, sekolah, asrama, dan tim olahraga. Cara penangan ini adalah menghindari kontak langsung dengan lesi infeksi aktif, membersihkan permukaan yang sering disentuh, dan menutupi lesi kulit yang bernanah.
Infeksi kulit akibat Staphylococcus aureus tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga dapat menjadi risiko serius di lingkungan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga industri. Ketika kolonisasi berubah menjadi infeksi, penanganan yang cepat dan berbasis bukti ilmiah menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serta penyebaran yang lebih luas.
Baca juga:
Perbedaan Teknik Uji Antimikroba: Metode Klasik dan Metode Modern
Oleh karena itu, identifikasi bakteri secara tepat dan uji laboratorium yang akurat sangat diperlukan untuk memastikan langkah terapi dan pencegahan berjalan efektif. IML Testing and Research siap mendukung Anda melalui layanan pengujian mikrobiologi, identifikasi bakteri patogen, serta uji sensitivitas antibiotik yang terstandar.
Dengan metode analisis yang komprehensif dan hasil yang dapat diandalkan, kami membantu Anda mengambil keputusan berbasis data untuk pengendalian infeksi yang lebih optimal. Konsultasikan kebutuhan pengujian Anda bersama IML Testing and Research sekarang juga.
Author: Safira
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Del Giudice, P. (2020). Skin infections caused by Staphylococcus aureus. Acta Dermato-Venereologica, 100(9).



