Kemasan Ramah Lingkungan Belum Tentu Aman untuk Pangan: Apa yang Perlu Diuji?

Kemasan ramah lingkungan semakin diminati industri makanan dan minuman sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan. Berbagai bahan, seperti kertas daur ulang, bioplastik, serat tebu, dan kemasan berbasis pati, mulai digunakan sebagai alternatif kemasan konvensional.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: kemasan ramah lingkungan belum tentu aman untuk bersentuhan langsung dengan pangan. Keamanan kemasan tidak hanya ditentukan oleh bahan dasarnya.

Produsen juga perlu mempertimbangkan zat tambahan, proses produksi, kemungkinan perpindahan senyawa ke makanan, serta kondisi penggunaan kemasan. Oleh karena itu, pengujian laboratorium berperan penting untuk membantu memastikan bahwa kemasan tidak melepaskan zat berbahaya ke dalam pangan dalam kondisi penggunaan yang dimaksudkan.

Daftar Isi:

Apa yang Dimaksud dengan Kemasan Ramah Lingkungan?

Kemasan ramah lingkungan merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan kemasan yang dirancang agar memiliki dampak lingkungan lebih rendah, misalnya melalui pengurangan penggunaan material, pemanfaatan bahan daur ulang, atau peningkatan kemampuan kemasan untuk didaur ulang maupun dikomposkan.

Contohnya meliputi:

  • Kemasan kertas dan karton daur ulang.
  • Wadah makanan berbahan serat tebu atau bagasse.
  • Bioplastik berbasis pati atau polylactic acid (PLA).
  • Kemasan berbahan serat tumbuhan.
  • Kemasan guna ulang yang dirancang untuk pemakaian berulang.

Meskipun memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda, seluruh kemasan tersebut tetap perlu memenuhi persyaratan keamanan apabila digunakan untuk kontak langsung dengan makanan atau minuman.

Label biodegradable, compostable, atau recyclable tidak dapat dijadikan bukti bahwa suatu kemasan aman untuk pangan. Klaim lingkungan dan keamanan kontak pangan merupakan dua aspek evaluasi yang berbeda.

Mengapa Kemasan Ramah Lingkungan Belum Tentu Aman untuk Pangan?

1. Bahan kemasan dapat mengandung senyawa yang bermigrasi

Salah satu perhatian utama dalam keamanan kemasan pangan adalah migrasi, yaitu perpindahan zat dari material kemasan ke makanan atau minuman. Zat yang bermigrasi dapat berasal dari bahan baku, zat tambahan, tinta, perekat, lapisan pelindung, maupun hasil degradasi selama proses produksi.

Penelitian Muncke (2009) membahas potensi paparan bahan kimia dari material kontak pangan, termasuk senyawa yang dapat berpindah dari kemasan ke makanan. Besarnya migrasi dipengaruhi oleh sifat bahan, jenis pangan, suhu, waktu kontak, dan kondisi penggunaan.

Kemasan yang digunakan untuk makanan panas, misalnya, dapat menghadapi kondisi paparan berbeda dibandingkan kemasan untuk makanan kering pada suhu ruang.

2. Bahan daur ulang dapat membawa kontaminan

Penggunaan material daur ulang dapat membantu mengurangi kebutuhan bahan baku baru. Akan tetapi, bahan tersebut mungkin memiliki riwayat penggunaan dan sumber kontaminasi yang beragam.

Pada kemasan berbasis kertas daur ulang, misalnya, perhatian dapat mencakup residu tinta cetak, minyak mineral, dan senyawa lain dari bahan asal maupun proses pengolahan. Pivnenko dan rekan-rekan (2016) mengkaji keberadaan berbagai zat kimia dalam kertas dan karton serta implikasinya terhadap proses daur ulang.

Oleh karena itu, penggunaan bahan daur ulang untuk kemasan pangan membutuhkan pengendalian bahan baku, proses produksi, dan evaluasi kesesuaian untuk kontak pangan.

3. Bioplastik tetap dapat mengandung bahan tambahan

Istilah bioplastik tidak merujuk pada satu jenis material dengan komposisi yang seragam. Produk berbasis PLA, pati, atau campuran polimer dapat menggunakan plasticizer, bahan pengisi, pewarna, serta zat tambahan lainnya untuk memperoleh karakteristik tertentu.

Meskipun bahan dasarnya berasal dari sumber terbarukan, keamanan produk akhir tetap dipengaruhi oleh keseluruhan formulasi. Dengan demikian, evaluasi keamanan perlu mempertimbangkan material akhir yang benar-benar digunakan, bukan hanya bahan baku utamanya.

4. Kondisi penggunaan memengaruhi keamanan kemasan

Kemasan dapat digunakan untuk menyimpan makanan berlemak, asam, berair, atau panas. Setiap jenis pangan memiliki karakteristik yang dapat memengaruhi perpindahan zat dari kemasan.

Selain itu, pemanasan, penyimpanan dalam waktu lama, dan penggunaan berulang dapat mengubah kondisi kontak. Karena itu, hasil pengujian perlu dikaitkan dengan tujuan penggunaan.

Kemasan yang sesuai untuk makanan kering pada suhu ruang belum tentu sesuai untuk makanan panas atau penggunaan dalam microwave.

5 Pengujian Penting untuk Mengevaluasi Keamanan Kemasan Pangan

Uji Migrasi Total

Uji migrasi total mengevaluasi jumlah keseluruhan zat yang berpindah dari kemasan ke media simulasi pangan dalam kondisi pengujian tertentu. Pengujian ini membantu menilai kesesuaian material dengan batas migrasi total yang berlaku, jika dipersyaratkan untuk jenis material tersebut.

Uji Migrasi Spesifik

Uji migrasi spesifik mengukur perpindahan senyawa tertentu dari kemasan ke pangan atau simulannya. Parameter dipilih berdasarkan komposisi material, zat tambahan, potensi kontaminan, dan persyaratan yang relevan.

Contohnya dapat mencakup monomer residu, plasticizer tertentu, atau senyawa lain yang memiliki batas migrasi spesifik.

Uji Kandungan Logam Berat

Bahan baku, pigmen, atau kontaminasi selama produksi dapat menjadi sumber unsur logam tertentu. Analisis laboratorium dapat digunakan untuk menentukan kandungan logam yang relevan, seperti timbal (Pb) atau kadmium (Cd), sesuai karakteristik material dan ketentuan yang berlaku.

Namun, hasil uji kandungan logam tidak otomatis menunjukkan jumlah yang berpindah ke pangan. Jika diperlukan, pengujian migrasi atau pelepasan logam perlu dilakukan secara terpisah.

Analisis Kontaminan Kimia

Kemasan tertentu memerlukan pemeriksaan senyawa yang berpotensi berasal dari tinta, perekat, pelapis, bahan baku daur ulang, atau proses manufaktur.

Parameter dapat meliputi minyak mineral, pelarut residu, atau senyawa kimia lain berdasarkan identifikasi risiko material.

Pemilihan metode, seperti GC-MS, LC-MS, atau teknik analisis lainnya, harus disesuaikan dengan karakteristik senyawa target.

Uji Mikrobiologi dan Evaluasi Kesesuaian Penggunaan

Untuk kemasan tertentu, terutama yang berpotensi terkontaminasi selama penyimpanan atau proses produksi, pengujian mikrobiologi dapat dipertimbangkan berdasarkan risiko dan spesifikasi produk. Selain itu, evaluasi ketahanan terhadap panas, minyak, air, dan kondisi penggunaan membantu menentukan apakah kemasan sesuai untuk jenis pangan yang dituju.

Pengujian mikrobiologi maupun sifat fisik tidak menggantikan uji migrasi kimia.

Bagaimana Menentukan Pengujian yang Tepat?

Tidak semua kemasan ramah lingkungan membutuhkan rangkaian pengujian yang sama. Produsen sebaiknya menentukan parameter berdasarkan beberapa pertimbangan utama:

  • Jenis material dan komposisi bahan.
  • Penggunaan bahan baru atau bahan daur ulang.
  • Jenis makanan yang akan dikemas.
  • Suhu dan durasi kontak.
  • Penggunaan sekali pakai atau berulang.
  • Persyaratan keamanan pangan dan spesifikasi produk yang berlaku.

Sebagai contoh, kemasan berbahan kertas daur ulang mungkin memerlukan perhatian khusus terhadap kontaminan dari bahan asal. Sementara itu, kemasan bioplastik dapat membutuhkan evaluasi terhadap monomer residu, bahan tambahan, dan migrasi senyawa yang relevan.

Untuk pengujian migrasi, pemilihan simulasi pangan dan kondisi pengujian juga harus mewakili penggunaan yang dimaksudkan.

Kesimpulan

Kemasan ramah lingkungan dapat membantu mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan. Namun, karakteristik tersebut tidak secara otomatis menjamin keamanan ketika material bersentuhan dengan makanan.

Potensi migrasi senyawa, kontaminan bahan daur ulang, bahan tambahan, serta kondisi penggunaan perlu dievaluasi melalui pendekatan pengujian yang sesuai. Dengan dukungan data laboratorium, produsen dapat mengambil keputusan yang lebih objektif mengenai pemilihan material, pengendalian mutu, dan kesesuaian kemasan untuk penggunaan pangan.

Pastikan Kemasan Ramah Lingkungan Aman untuk Kontak Pangan melalui Pengujian Laboratorium

Jangan hanya mengandalkan klaim ramah lingkungan. Evaluasi kandungan dan potensi migrasi senyawa kimia pada material kemasan ramah lingkungan untuk mendukung keamanan produk pangan Anda!

Melalui Uji Senyawa Kimia, produsen dapat memperoleh data analitik yang relevan untuk mendukung evaluasi material dan pengendalian mutu kemasan. Hubungi IML Testing & Research sekarang dan konsultasikan kebutuhan pengujian kemasan ramah lingkungan Anda bersama tim kami!

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

Muncke, J. (2009). Exposure to endocrine disrupting compounds via the food chain: Is packaging a relevant source? Science of the Total Environment, 407(16), 4549–4559. DOI .

Geueke, B., Groh, K., & Muncke, J. (2018). Food packaging in the circular economy: Overview of chemical safety aspects for commonly used materials. Journal of Cleaner Production, 193, 491–505. DOI .

Groh, K. J., Backhaus, T., Carney-Almroth, B., et al. (2019). Overview of known plastic packaging-associated chemicals and their hazards. Science of the Total Environment, 651, 3253–3268. DOI .

Pivnenko, K., Olsson, M. E., Götze, R., Eriksson, E., & Astrup, T. F. (2016). Quantification of chemical contaminants in the paper and board fractions of municipal solid waste. Waste Management, 51, 43–54.

Robertson, G. L. (2013). Food Packaging: Principles and Practice (3rd ed.). CRC Press.

Piringer, O. G., & Baner, A. L. (Eds.). (2008). Plastic Packaging: Interactions with Food and Pharmaceuticals (2nd ed.). Wiley-VCH.

Marsh, K., & Bugusu, B. (2007). Food packaging—Roles, materials, and environmental issues. Journal of Food Science, 72(3), R39–R55. DOI .

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak