Pewarna Merah K10 Ditemukan dalam Kosmetik: Bagaimana Keamanannya Diuji?

Warna menjadi salah satu aspek penting dalam kosmetik dekoratif. Lipstik, blush on, eyeshadow, hingga produk pewarna rambut menggunakan bahan pewarna untuk menghasilkan tampilan yang menarik dan konsisten.

Namun, tidak semua zat pewarna dapat digunakan secara bebas dalam formulasi kosmetik. Salah satu bahan yang kembali menjadi perhatian adalah pewarna merah K10.

Dalam database kosmetik mengandung bahan berbahaya BPOM, Merah K10 tercantum sebagai Rhodamin B, yaitu zat warna sintetis yang telah ditemukan pada sejumlah produk kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan. BPOM kembali melaporkan keberadaan bahan ini dalam temuan kosmetik pada pengawasan Triwulan I dan II tahun 2026.

Keberadaan pewarna tersebut tentu tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan seberapa merah atau cerah suatu produk. Diperlukan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi senyawa dan, jika diperlukan, menentukan kadarnya secara lebih objektif.

Lantas, bagaimana pewarna merah K10 dapat dideteksi dan bagaimana keamanannya dievaluasi?

Daftar Isi:

Apa Itu Pewarna Merah K10?

Pewarna merah K10 dikenal dalam temuan BPOM sebagai Rhodamin B. Rhodamin B merupakan zat warna sintetis yang menghasilkan warna merah hingga merah muda yang kuat dan dapat menunjukkan karakteristik fluoresensi.

Dalam berbagai penelitian, Rhodamin B banyak dikenal sebagai bahan pewarna yang digunakan pada aplikasi industri tertentu, seperti tekstil dan kertas. Namun, keberadaannya dalam kosmetik menjadi perhatian karena bahan ini tidak diperuntukkan sebagai pewarna kosmetik sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.

BPOM sejak lama menemukan penyalahgunaan Merah K10 terutama pada kosmetik dekoratif seperti lipstik, perona pipi, dan produk rias lainnya. Oleh karena itu, warna produk yang tampak menarik belum tentu menjadi indikator bahwa bahan pewarna di dalam formulasi sesuai untuk penggunaan kosmetik.

Mengapa Pewarna Merah K10 Menjadi Perhatian?

BPOM menyatakan bahwa pewarna merah K10 berpotensi menyebabkan kanker dan dapat mengganggu fungsi hati. Karena alasan tersebut, keberadaannya dalam kosmetik menjadi perhatian dalam pengawasan keamanan produk.

Pada tingkat ilmiah, bahan pewarna sintetis yang tidak sesuai penggunaannya perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan identitas kimia, tingkat paparan, rute paparan, metabolisme, serta data toksikologinya. Kosmetik dekoratif tertentu juga dapat memiliki pola paparan yang khas.

Lipstik, misalnya, diaplikasikan secara berulang pada bibir sehingga sebagian kecil produk berpotensi tertelan secara tidak sengaja selama penggunaan. Karena itu, pengendalian bahan pewarna tidak hanya berkaitan dengan estetika produk, tetapi juga merupakan bagian dari pengendalian keamanan formulasi.

Apakah Pewarna Merah K10 Bisa Dikenali dari Warna Kosmetik?

Tidak secara pasti, lipstik yang memiliki warna merah terang belum tentu mengandung pewarna merah K10. Sebaliknya, keberadaan senyawa tersebut juga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual.

Kosmetik dapat mengandung kombinasi beberapa pigmen atau zat warna yang menghasilkan karakter warna serupa. Selain itu, matriks kosmetik seperti minyak, wax, emolien, filler, dan bahan lainnya dapat memengaruhi tampilan akhir suatu warna.

Karena itu, dugaan berdasarkan warna perlu dikonfirmasi menggunakan metode analisis laboratorium.

Bagaimana Pewarna Merah K10 Diuji di Laboratorium?

Analisis pewarna merah K10 dapat melibatkan beberapa tahapan, mulai dari preparasi sampel hingga identifikasi menggunakan teknik analisis yang sesuai. Pemilihan metode bergantung pada tujuan pengujian, karakteristik sampel, konsentrasi target, dan tingkat kepastian hasil yang dibutuhkan.

Berikut beberapa pendekatan yang telah digunakan dalam penelitian terhadap Rhodamin B pada kosmetik.

1. Preparasi Sampel

Sebelum dianalisis, senyawa target perlu dipisahkan terlebih dahulu dari matriks kosmetik. Tahap ini penting karena produk seperti lipstik mengandung wax, minyak, pigmen, dan berbagai bahan tambahan yang dapat mengganggu proses analisis.

Preparasi dapat melibatkan proses seperti:

  • ekstraksi;
  • pelarutan;
  • pemisahan komponen;
  • penyaringan; atau
  • pemekatan analit.

Jenis pelarut dan prosedur ekstraksi harus disesuaikan dengan karakteristik senyawa serta matriks produk. Penelitian oleh Shi dan Chen menunjukkan bahwa Rhodamin B dalam lipstik dapat diekstraksi sebelum dianalisis menggunakan high-performance liquid chromatography atau HPLC.

Metode tersebut memberikan recovery sekitar 95% pada kondisi penelitian mereka.

2. Kromatografi Lapis Tipis untuk Identifikasi Awal

Salah satu teknik yang banyak digunakan dalam penelitian untuk mendeteksi Rhodamin B adalah Kromatografi Lapis Tipis (KLT) atau Thin Layer Chromatography. Pada prinsipnya, ekstrak sampel dan larutan standar ditempatkan pada pelat kromatografi.

Fase gerak kemudian membawa komponen sampel melalui fase diam sehingga senyawa dapat terpisah berdasarkan interaksinya dengan kedua fase tersebut. Identifikasi dapat dilakukan dengan membandingkan karakteristik bercak sampel dengan standar, termasuk nilai Rf dan respons visual atau fluoresensi pada kondisi tertentu.

Beberapa penelitian terhadap lipstik di Indonesia menggunakan metode KLT untuk mengidentifikasi Rhodamin B. KLT dapat menjadi metode yang berguna untuk proses skrining, tetapi hasil analisis tetap perlu disesuaikan dengan tujuan pengujian dan metode yang telah diverifikasi atau divalidasi.

3. Spektrofotometri UV-Vis untuk Evaluasi Kuantitatif

Rhodamin B memiliki gugus yang mampu berinteraksi dengan radiasi pada wilayah UV-Vis sehingga dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri. Dalam metode ini, intensitas cahaya yang diserap oleh larutan diukur pada panjang gelombang tertentu.

Nilai absorbansi kemudian dapat dibandingkan dengan kurva kalibrasi standar untuk memperkirakan konsentrasi senyawa. Penelitian pada lipstik impor di Batam menggunakan KLT untuk identifikasi dan spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan kadar Rhodamin B.

Pada penelitian tersebut, pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum sekitar 548,5 nm. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa metode berbasis ekstraksi yang dikombinasikan dengan UV-Vis dapat digunakan untuk analisis Rhodamin B dalam sampel kosmetik.

Namun, panjang gelombang dan kondisi metode tidak sebaiknya langsung diterapkan pada setiap sampel tanpa evaluasi, karena matriks dan kondisi instrumen dapat memengaruhi hasil.

4. HPLC untuk Pemisahan dan Penentuan Kadar

Untuk analisis yang membutuhkan pemisahan lebih selektif, High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) dapat digunakan. HPLC memisahkan komponen dalam sampel sebelum senyawa target dideteksi.

Hal ini menjadi penting karena kosmetik merupakan matriks kompleks yang dapat mengandung berbagai bahan dengan karakteristik kimia berbeda. Shi dan Chen mengembangkan metode HPLC untuk menentukan Rhodamin B pada sampel lipstik setelah proses ekstraksi.

Dalam penelitian tersebut, metode mencapai batas deteksi 0,01 µg/g dengan recovery sekitar 95%. Metode kromatografi dapat membantu meningkatkan selektivitas analisis karena senyawa target dipisahkan dari komponen lain sebelum dilakukan pengukuran.

5. Konfirmasi Identitas Senyawa

Dalam analisis laboratorium, kemiripan warna saja tidak cukup untuk memastikan identitas suatu senyawa. Metode analisis idealnya memiliki kemampuan untuk membedakan pewarna merah K10 dari zat warna lain yang mungkin memiliki karakteristik visual serupa.

Karena itu, hasil skrining dapat dilanjutkan dengan metode yang memiliki selektivitas lebih tinggi apabila tujuan pengujian membutuhkan konfirmasi lebih lanjut. Pemilihan metode harus mempertimbangkan:

  • spesifisitas atau selektivitas;
  • sensitivitas;
  • rentang konsentrasi;
  • jenis matriks kosmetik;
  • kemungkinan interferensi; dan
  • tujuan pengujian.

Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa hasil yang diperoleh benar-benar berkaitan dengan senyawa target.

Mengapa Validasi Metode Penting?

Instrumen yang canggih tidak otomatis menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan apabila metode analisis tidak sesuai. Metode untuk menentukan pewarna merah K10 perlu memiliki performa analitik yang memadai.

Bergantung pada jenis analisis, parameter yang dapat dievaluasi antara lain:

  • selektivitas;
  • linearitas;
  • akurasi;
  • presisi;
  • limit of detection (LOD);
  • limit of quantification (LOQ);
  • rentang analisis; serta
  • ketahanan metode terhadap perubahan kondisi tertentu.

Validasi membantu memastikan bahwa metode dapat memberikan hasil yang konsisten dan sesuai untuk tujuan penggunaannya. Hal ini menjadi semakin penting ketika pengujian digunakan sebagai bagian dari pengendalian mutu, investigasi produk, atau dokumentasi regulatori.

Pengujian Tidak Hanya Dilakukan pada Produk Akhir

Upaya mencegah keberadaan bahan yang tidak sesuai sebaiknya dimulai sebelum produk selesai diproduksi. Pengendalian dapat dilakukan sejak tahap bahan baku.

Produsen dapat menetapkan spesifikasi terhadap:

  • identitas zat warna;
  • kemurnian;
  • kandungan senyawa tertentu;
  • profil pengotor;
  • karakteristik fisikokimia; serta
  • kesesuaian dokumen bahan.

Bahan baku dari pemasok yang berbeda juga dapat memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, incoming material control dapat menjadi bagian penting dari strategi pengendalian mutu agar bahan yang tidak sesuai tidak masuk ke dalam proses formulasi.

Apakah Certificate of Analysis Saja Sudah Cukup?

Certificate of Analysis atau CoA merupakan dokumen penting yang memberikan informasi mengenai hasil analisis suatu bahan atau produk. Namun, dalam sistem pengendalian mutu, perusahaan dapat membutuhkan verifikasi tambahan sesuai tingkat risiko, spesifikasi internal, pemasok, dan kebutuhan regulatori.

Hal tersebut terutama relevan ketika bahan memiliki pengaruh besar terhadap keamanan atau kualitas produk akhir. Pengujian independen terhadap parameter tertentu dapat memberikan data tambahan untuk mengonfirmasi karakteristik bahan yang digunakan.

Mengapa Produk Kosmetik Jadi Tetap Perlu Dievaluasi?

Bahan baku yang sesuai merupakan langkah awal, tetapi pengendalian tidak berhenti di sana. Selama produksi, beberapa faktor dapat memengaruhi produk akhir, termasuk:

  • kesalahan penimbangan;
  • kontaminasi silang;
  • pencampuran bahan;
  • kesalahan penggunaan bahan baku;
  • variasi proses; dan
  • ketidaksesuaian prosedur produksi.

Karena itu, pengujian produk akhir dapat menjadi bagian dari sistem quality control. Dalam konteks pewarna merah K10, analisis produk jadi dapat membantu memastikan bahwa senyawa yang tidak sesuai tidak terdapat pada kosmetik yang akan didistribusikan.

Kenapa Pengujian Laboratorium Penting bagi Industri Kosmetik?

Temuan BPOM menunjukkan bahwa bahan pewarna yang tidak sesuai masih dapat ditemukan pada kosmetik yang beredar. Pada pengawasan Triwulan I 2026, BPOM melaporkan 11 kosmetik mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang.

Salah satu bahan yang ditemukan adalah pewarna merah K10. Seluruh produk tersebut disebut telah melalui pengujian laboratorium BPOM dan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan keamanan. Temuan kembali dilaporkan pada periode berikutnya, termasuk keberadaan Merah K10 dalam produk yang diawasi BPOM.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengendalian bahan baku, proses produksi, dan produk akhir secara konsisten. Laboratorium dapat menyediakan data objektif untuk membantu produsen melakukan evaluasi berdasarkan hasil analisis, bukan hanya berdasarkan tampilan produk atau informasi pada label.

Pastikan Bahan Pewarna Kosmetik Sesuai melalui Pengujian Laboratorium

Jangan hanya mengandalkan warna, dokumen pemasok, atau tampilan produk untuk memastikan kesesuaian bahan pewarna.

Identifikasi dan evaluasi kandungan pewarna merah K10 serta senyawa kimia lainnya melalui Uji Senyawa Kimia untuk memperoleh data analitik yang lebih objektif mengenai produk Anda.

Hubungi IML Testing & Research sekarang dan konsultasikan kebutuhan pengujian bahan pewarna serta produk kosmetik Anda bersama tim kami!

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

Shi, J., & Chen, L. (2014). Determination of rhodamine B in lipsticks by high performance liquid chromatography after extraction with AOT reversed micelles. Analytical Methods, 6, 8627–8632.

Wahyuningsih, E., Sari, A. K., Samlan, K., & Hanistya, R. (2022). Identifikasi Rhodamin B pada lipstik di pasar tradisional sekitar Universitas Muhammadiyah Surabaya menggunakan metode KLT-densitometri. Camellia: Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal, 1(1).

Elfasyari, T. Y., Putri, M. A., & Andayani, R. (2020). Analisis Rhodamin B pada lipstik impor yang beredar di Kota Batam secara kromatografi lapis tipis dan spektrofotometri UV-Vis. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia, 17(1).

Devi, N. N. A. S., et al. (2020). Penetapan Rhodamin B pada sampel lipstik dengan menggunakan KLT-spektrofotodensitometri. Jurnal Kimia, 14(1), 77–81.

Soylak, M., et al. (2018). A novel and simple deep eutectic solvent-based liquid phase microextraction method for rhodamine B in cosmetic products and water samples prior to its spectrophotometric determination. Spectrochimica Acta Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy.

Barel, A. O., Paye, M., & Maibach, H. I. (Eds.). Handbook of Cosmetic Science and Technology. CRC Press.

Schlossman, M. L. (Ed.). The Chemistry and Manufacture of Cosmetics. Allured Publishing.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak