Analisis Niacinamide: Metode Uji, Bahan Kimia, dan Penetapan Kadarnya dalam Kosmetik 

Dalam beberapa tahun terakhir, niacinamide atau vitamin B3 telah menjadi salah satu bahan aktif yang paling populer dalam industri perawatan kulit. Keberadaannya yang meluas dalam berbagai produk mulai dari serum, pelembap, hingga tabir surya menuntut adanya kontrol kualitas yang ketat.

Analisis kadar bahan aktif ini bukan hanya sekadar prosedur laboratorium, tetapi merupakan langkah penting untuk memastikan keamanan, khasiat, dan kepatuhan terhadap regulasi produk kosmetik.

Daftar Isi:

Manfaat dan Fungsi Niacinamide dalam Produk Skincare 

Popularitas niacinamide tidak terlepas dari manfaatnya bagi kulit. Secara fungsional, senyawa ini bersifat serbaguna. Niacinamide bekerja dengan memperkuat lapisan pelindung kulit (skin barrier), membantu mengurangi kemerahan dan peradangan, serta mengatur produksi sebum.

Manfaat lainnya termasuk memudarkan hiperpigmentasi dengan menghambat transfer melanin ke permukaan kulit dan meminimalkan tampilan pori-pori. Sifatnya yang anti-inflamasi juga membuatnya menjadi andalan untuk mengatasi kulit berjerawat, menjadikannya bintang utama dalam formulasi kosmetik modern.

Karakteristik Kimia Niacinamide yang Perlu Diketahui 

Untuk dapat menganalisisnya dengan akurat, seorang analis kimia perlu memahami karakteristik dasar niacinamide. Senyawa ini adalah turunan dari vitamin B3 dengan rumus molekul C₆H₆N₂O.

Niacinamide memiliki stabilitas yang baik terhadap panas dan cahaya dibandingkan bentuk vitamin B3 lainnya, seperti asam nikotinat. Senyawa ini juga mudah larut dalam air dan etanol, tetapi tidak larut dalam pelarut non-polar seperti minyak.

Stabilitas ini merupakan nilai tambah dalam analisis, karena memungkinkan berbagai metode pengujian dengan risiko degradasi yang minimal, asalkan kondisi penyimpanan sampel terkontrol dengan baik.

Mengapa Kadar Niacinamide dalam Kosmetik Perlu Diuji? 

Pengujian kadar bahan aktif ini merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar dalam industri kosmetik. Pertama, dari sisi keamanan, meskipun termasuk bahan yang relatif aman, penggunaannya pada kadar tertentu (biasanya 2–5%) dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif jika konsentrasinya melebihi batas yang sesuai.

Kedua, dari aspek khasiat, kadar yang tertera pada label harus sesuai dengan konsentrasi efektif di dalam produk. Jika kadarnya di bawah klaim, produk tidak akan memberikan manfaat optimal bagi konsumen.

Terakhir, dari sisi regulasi, badan pengawas obat dan makanan (seperti BPOM di Indonesia) mewajibkan setiap produsen untuk memastikan bahwa produk yang beredar memiliki kandungan bahan aktif yang sesuai dengan label, sehingga menghindari praktik pernyataan yang menyesatkan.

Metode Analisis Niacinamide dalam Kosmetik 

penetapan kadar bahan aktif umumnya dilakukan dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Metode ini dipilih karena sensitivitas dan akurasinya yang tinggi dalam memisahkan bahan aktif ini dari bahan-bahan lain yang ada dalam formulasi kosmetik seperti pengawet, emulsifier, dan pewangi.

Prosesnya diawali dengan tahap ekstraksi sampel menggunakan pelarut yang sesuai, biasanya campuran air dan metanol. Sampel yang telah diekstraksi kemudian disuntikkan ke dalam sistem HPLC yang dilengkapi dengan kolom fase balik (C18) dan detektor UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 261 nm.

Pada panjang gelombang tersebut, senyawa target memberikan serapan maksimal. Waktu retensi dan luas area puncak yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan larutan standar untuk menentukan konsentrasinya secara kuantitatif.

Kesimpulan

Analisis bahan aktif tersebut merupakan bagian penting dalam pengendalian mutu kosmetik untuk memastikan kadarnya sesuai dengan spesifikasi, klaim produk, dan persyaratan yang berlaku. Penetapan kadar dapat dilakukan menggunakan metode HPLC/KCKT yang memiliki kemampuan pemisahan dan kuantifikasi yang baik. Hasil analisis dipengaruhi oleh pemilihan bahan kimia, preparasi sampel, kondisi kromatografi, serta validasi metode.

Dengan pengujian yang tepat, produsen dapat memastikan konsistensi kualitas, keamanan, dan kesesuaian kandungan niacinamide pada setiap produk. 

Pastikan Kadar Niacinamide Produk Kosmetik Sesuai

Verifikasi kandungan niacinamide dalam formulasi melalui pengujian laboratorium untuk mendukung kualitas dan konsistensi produk.
Konsultasikan kebutuhan pengujian kosmetik bersama IML Research.

Author: Elmira
Editor: Lina

Daftar Pustaka 

Hakozaki, T., Minwalla, L., Zhuang, J., Chhoa, M., Matsubara, A., Miyamoto, K., Greatens, G., Hillebrand, G. G., Bissett, D. L., & Boissy, R. E. (2002). The effect of niacinamide on reducing cutaneous pigmentation and suppression of melanosome transfer. British Journal of Dermatology, 147(1), 20–31.

Mohammed, D., Crowther, J. M., Matts, P. J., Hadgraft, J., & Lane, M. E. (2013). Influence of niacinamide containing formulations on the molecular and biophysical properties of the stratum corneum. International Journal of Pharmaceutics, 441(1–2), 192–201. https://doi.org/10.1016/j.ijpharm.2012.11.043

Tanno, O., et al. (2000). Nicotinamide increases biosynthesis of ceramides as well as other stratum corneum lipids to improve the epidermal permeability barrier. British Journal of Dermatology.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 3 Tahun 2022 tentang persyaratan teknis klaim kosmetika. Badan POM Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2024). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 18 Tahun 2024 tentang penandaan, promosi, dan iklan kosmetik. Badan POM Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2024). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 16 Tahun 2024 tentang batas cemaran dalam kosmetik. Badan POM Republik Indonesia.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak