
2 Cara Pengujian Antimikroba: Broth Macrodilution vs Microdilution, Mana yang Lebih Tepat?

Pengujian antimikroba merupakan langkah penting untuk mengetahui kemampuan suatu bahan dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme. Metode ini banyak digunakan dalam penelitian, pengembangan produk, hingga pengendalian mutu pada industri farmasi, kosmetik, pangan, dan kesehatan.
Salah satu pegujian antimikroba yang umum digunakan adalah metode dilusi, yaitu broth macrodilution dan broth microdilution. Meskipun keduanya memiliki prinsip kerja yang serupa untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC), terdapat perbedaan pada volume pengujian, kebutuhan sampel, efisiensi kerja, serta aplikasi praktisnya di laboratorium.
Daftar Isi:
- Mengenal Perbedaan Metode Broth Macrodilution dan Broth Microdilution.
- Memahami Penentuan Nilai MIC, MBC, dan MFC.
- Kelebihan dan Kekurangan Metode Broth Macrodilution dan Broth Microdilution.
Mengenal Perbedaan Metode Broth Macrodilution dan Broth Microdilution.
Metode dilusi merupakan salah satu pengujian antimikroba yang paling banyak digunakan untuk menentukan aktivitas pengujian antimikroba secara kuantitatif. Melalui metode ini, peneliti dapat menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC).
Saat ini, prosedur pengujiannya telah distandardisasi oleh berbagai organisasi internasional, seperti Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) dan European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing (EUCAST), sehingga hasil yang diperoleh dapat dibandingkan secara lebih konsisten antar laboratorium. Pada prinsipnya, metode broth macrodilution dan broth microdilution menggunakan tahapan yang sama, yaitu membuat serangkaian pengenceran bertingkat dari bahan antimikroba dalam media pertumbuhan.
Konsentrasi yang umum digunakan disusun secara dua kali lipat (two-fold dilution), misalnya 1, 2, 4, 8, 16, hingga 32 mg/mL, untuk memudahkan penentuan konsentrasi hambat minimum. Perbedaan utama kedua metode tersebut terletak pada volume pengujian dan wadah yang digunakan.
Broth macrodilution umumnya dilakukan dalam tabung reaksi dengan volume media minimal sekitar 2 mL per tabung, sedangkan broth microdilution menggunakan microtiter plate 96 sumur dengan volume yang jauh lebih kecil. Setelah ditambahkan suspensi mikroba yang telah distandardisasi, seluruh tabung atau sumur diinkubasi pada kondisi yang sesuai hingga dapat diamati adanya pertumbuhan atau penghambatan mikroorganisme.
Selain melalui pengamatan visual, penentuan nilai MIC pada metode broth microdilution dapat dibantu menggunakan perangkat pembaca khusus (microplate reader) yang mampu mendeteksi pertumbuhan mikroorganisme pada setiap sumur dengan lebih objektif. Penggunaan alat ini membantu meningkatkan konsistensi pembacaan hasil, terutama ketika tingkat pertumbuhan mikroba sulit dibedakan secara kasat mata.
Berbagai metode kolorimetri juga telah dikembangkan untuk mempermudah interpretasi hasil pengujian. Beberapa indikator yang sering digunakan adalah garam tetrazolium seperti MTT dan XTT, serta resazurin (Alamar Blue), yang akan mengalami perubahan warna sebagai respons terhadap aktivitas metabolik mikroorganisme sehingga titik akhir MIC dapat diamati dengan lebih jelas.
Baca Juga:
Kontaminasi Mikroba pada Kosmetik: Kebiasaan Umum yang Wajib Diwaspadai.
Memahami Penentuan Nilai MIC, MBC, dan MFC.
Penentuan nilai MIC merupakan salah satu tahap utama dalam pengujian aktivitas antimikroba. Nilai MIC didefinisikan sebagai konsentrasi terendah suatu agen pengujian antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme secara sempurna pada tabung atau sumur mikrodilusi yang diamati secara visual.
Hasil MIC dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah inokulum, jenis media pertumbuhan, lama inkubasi, serta metode persiapan suspensi mikroba yang digunakan. Setelah nilai MIC diperoleh, pengujian antimikroba biasanya dapat dilanjutkan dengan penentuan Minimum Bactericidal Concentration (MBC) atau Minimum Fungicidal Concentration (MFC) yang juga dikenal sebagai Minimum Lethal Concentration (MLC).
MBC merupakan konsentrasi terendah agen antimikroba yang mampu membunuh sedikitnya 99,9% populasi bakteri awal, sedangkan MFC menunjukkan konsentrasi terendah yang dapat membunuh sekitar 98–99,9% populasi jamur dibandingkan jumlah awal inokulum. Penentuan MBC maupun MFC umumnya dilakukan setelah pengujian makrodilusi atau mikrodilusi selesai.
Sampel dari tabung atau sumur yang tidak menunjukkan pertumbuhan kemudian diinokulasikan kembali pada media agar non-selektif dan diinkubasi untuk melihat apakah masih terdapat mikroorganisme yang mampu tumbuh. Apabila tidak ditemukan pertumbuhan koloni atau jumlah sel hidup berkurang sesuai kriteria yang ditetapkan, maka konsentrasi tersebut dapat ditetapkan sebagai nilai MBC atau MFC.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Broth Macrodilution dan Broth Microdilution.
Broth macrodilution memiliki keunggulan berupa prosedur yang relatif sederhana untuk diamati dan memungkinkan penggunaan volume sampel yang lebih besar. Metode ini juga sering dipilih ketika peneliti memerlukan suspensi uji dalam jumlah cukup banyak untuk analisis lanjutan, seperti penentuan MBC atau MFC melalui proses subkultur.
Di sisi lain, metode broth macrodilution memiliki beberapa keterbatasan, seperti proses pengerjaan yang lebih manual, kebutuhan ruang inkubasi yang lebih besar, serta penggunaan media dan reagen yang lebih banyak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan waktu kerja dan risiko kesalahan selama proses persiapan pengenceran antimikroba, terutama ketika jumlah sampel yang diuji cukup banyak.
Metode broth microdilution menawarkan efisiensi yang lebih tinggi karena menggunakan volume uji yang jauh lebih kecil dan dilakukan dalam microplate 96 sumur. Penggunaan reagen yang lebih hemat, kapasitas pengujian antimikroba yang lebih besar, serta kemudahan dalam pengolahan data menjadikan metode ini pilihan utama untuk penelitian dengan jumlah sampel yang banyak.
Namun, untuk memperoleh hasil yang konsisten dan dapat direproduksi, setiap tahapan pengujian perlu dilakukan secara terstandarisasi dan dikontrol dengan baik, baik dalam satu laboratorium maupun antar laboratorium.
Buktikan Efektivitas Pengujian Antimikroba Produk Anda dengan Pengujian Laboratorium
IML Testing and Research siap membantu kebutuhan uji efektivitas antimikroba untuk berbagai produk, seperti kosmetik, farmasi, alat kesehatan, disinfektan, hingga produk perawatan pribadi. Dapatkan data ilmiah yang akurat untuk mendukung kualitas produk, klaim efektivitas, dan proses pengembangan produk Anda. Konsultasikan kebutuhan pengujian bersama tim IML Testing and Research.
Author: Dherika
Editor: Lina
Referensi
Balouiri, M., Sadiki, M., & Saad, K.I. (2016). Methods for In Vitro Evaluating Antimicrobial Activity: A Review. Journal of Pharmaceutical Analysis, 6, 71-79. http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/.
Tankeshwar, A. (Jul 5th, 2026). Broth Dilution Method for MIC: Macrodilution vs Microdilution, Procedure & Troubleshooting. Retrieved from https://microbeonline.com/minimum-inhibitory-concentration-mic-broth-dilution-method-procedure-interpretation/ (Accessed: Jul 11th, 2026).



