
Suppositoria: Mengenal Lebih Dalam dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam kehidupan sehari-hari, obat hadir dalam berbagai bentuk atau sediaan yang dirancang agar mudah digunakan dan bekerja secara optimal di dalam tubuh. Bentuk yang paling umum dikenal masyarakat adalah tablet dan kapsul yang diminum, sirup untuk anak-anak, serta salep atau krim yang dioleskan pada kulit. Bahkan ada yang namanya suppositoria.
Selain itu, terdapat pula obat tetes, inhaler, hingga suntikan yang digunakan pada kondisi tertentu. Beragamnya sediaan farmasi ini bukan tanpa alasan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan pasien, cara kerja obat, serta lokasi kerja obat yang diinginkan di dalam tubuh.
Namun, tidak semua kondisi memungkinkan obat diberikan melalui mulut atau dioleskan pada kulit. Pada situasi tertentu, seperti saat pasien sulit menelan, mengalami muntah, membutuhkan efek obat yang lebih cepat dan spesifik, atau hal-hal lainnya, diperlukan alternatif sediaan lain. Pernah mendengar soal suppositoria?
Salah satu alternatifnya adalah suppositoria, yaitu obat yang digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh melalui lubang tertentu, seperti rektum (anus), vagina, atau uretra. Obat suppositoria digunakan untuk pasien yang tidak bisa menelan obat, muntah berat, kejang, atau untuk aksi lokal yang cepat, seperti mengatasi sembelit, ambeien, atau infeksi.
Daftar isi :
Apa Itu Suppositoria?
Suppositoria berasal dari bahasa latin supponere yang berarti “mengganti” atau “menyisipkan”. Secara umum, bentuknya padat dan biasanya memiliki ujung yang membulat seperti peluru agar mudah dimasukkan ke dalam tubuh. Bagian belakang umumnya dibuat sedikit lebih besar supaya obat tidak mudah keluar kembali setelah dimasukkan.
Di pasaran, obat ini umumnya tersedia dalam ukuran standar yang aman dan nyaman digunakan, sehingga dapat membantu obat bekerja secara efektif sesuai dengan tujuannya.
Bagaimana Cara Kerjanya di Dalam Tubuh?
Setelah dimasukkan, obat akan bereaksi dengan suhu tubuh. Bahan dasar suppositoria dirancang agar dapat meleleh, melunak, atau larut ketika berada di dalam tubuh.
Ketika proses ini terjadi, zat aktif obat akan dilepaskan dan obat dapat mulai bekerja. Pada beberapa kasus, obat bekerja secara lokal, yaitu langsung di area tempat obat itu digunakan. Contohnya adalah obat wasir yang mengandung obat pereda nyeri atau antiinflamasi untuk mengurangi nyeri, bengkak, dan peradangan di sekitar anus.
Selain itu, suppositoria vagina yang mengandung antijamur juga bekerja langsung di area kewanitaan untuk mengatasi infeksi. Pada kasus lainnya, obat dapat diserap ke aliran darah dan memberikan efek sistemik, yaitu zat aktif obat masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek pada seluruh tubuh.
Contoh obat suppositoria dengan efek sistemik adalah parasetamol yang digunakan untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri, terutama pada anak-anak atau pasien yang sulit menelan obat. Dengan mekanisme ini, obat ini dapat menjadi alternatif yang efektif ketika pemberian obat melalui mulut tidak memungkinkan.
Cara Menggunakan Suppositoria
Agar dapat bekerja dengan baik, cara penggunaan yang benar menjadi sangat penting. Suppositoria digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh sesuai dengan jenisnya, paling umum melalui anus (rektal). Sebelum digunakan, cuci tangan terlebih dahulu hingga bersih.
Keluarkan suppositoria dari kemasannya, lalu posisikan tubuh dengan nyaman, misalnya berbaring miring dengan satu kaki sedikit ditekuk. Masukkan secara perlahan ke dalam anus dengan ujung yang runcing terlebih dahulu hingga seluruh bagian obat masuk.
Setelah itu, tetaplah berbaring selama beberapa menit agar tidak keluar kembali dan dapat bekerja dengan baik. Setelah selesai, cuci tangan kembali. Obat ini sebaiknya digunakan sesuai petunjuk dokter atau aturan pakai yang tertera pada kemasan.
Dalam pengembangan produk farmasi seperti suppositoria, setiap detail formulasi sangat menentukan keberhasilan produk di pasaran. Tanpa pengujian yang tepat, risiko ketidaksesuaian kualitas dan performa akan meningkat.
Lakukan pengujian di IML Testing and Research untuk memastikan produk Anda memenuhi standar kualitas dan dapat dipercaya oleh konsumen.
Author: Jihan
Editor: Alphi
Daftar Pustaka
Hua S. (2019). Physiological and Pharmaceutical Considerations for Rectal Drug Formulations. Frontiers in pharmacology, 10, 1196.
Kumar, A., Kolay, A., Havelikar, U. (2023). Modern Aspects of Suppositories: A Review. European Journal of Pharmaceutical Research.



