Uji Sitotoksisitas Pestisida dengan MTT Assay

Penggunaan pestisida yang semakin meluas akan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan akibat sifat toksiknya. Oleh karena itu, diperlukan metode pengujian yang efektif untuk mengevaluasi efek sitotoksik pestisida pada tingkat seluler.

Uji sitotoksisitas menggunakan MTT assay merupakan salah satu metode in vitro yang banyak digunakan untuk menilai pengaruh pestisida terhadap viabilitas dan aktivitas metabolik sel secara kuantitatif.

Apa itu MTT Assay Dalam Uji Sitotoksisitas?

MTT Assay merupakan uji kolorimetri kuantitatif yang digunakan untuk menilai toksisitas suatu sampel berdasarkan aktivitas metabolik sel hidup. Secara prinsip, metode ini melihat kemampuan sel hidup untuk mereduksi garam tetrazolium MTT menjadi senyawa berwarna ungu, yaitu formazan.

MTT (3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide) adalah garam tetrazolium berwarna kuning. Dalam sel yang masih hidup dan aktif secara metabolik, enzim-enzim yang berasosiasi dengan retikulum endoplasma dan sistem reduksi piridin (NADH/NADPH) akan mereduksi MTT menjadi formazan yang berwarna ungu tua dan tidak larut dalam air.

Reaksi reduksi senyawa MTT hanya terjadi pada sel hidup yang menandakan adanya sistem enzimatik yang aktif. Sel yang rusak atau sudah mati akibat toksin dari pestisida tidak mampu melakukan reaksi tersebut yang mengindikasikan penurunan viabilitas sel.

Dengan demikian, intensitas warna ungu yang terbentuk menunjukkan jumlah dan aktivitas sel hidup.

Aplikasi MTT Assay Untuk Melihat Tingkat Toksik Pestisida

Di bidang toksikologi, MTT Assay digunakan untuk mengevaluasi tingkat toksisitas berbagai senyawa kimia, termasuk pestisida, terhadap sel yang dikultur secara in vitro. MTT Assay mengestimasi parameter seperti IC₅₀ (konsentrasi yang menyebabkan penurunan viabilitas sel sebesar 50%). Informasi ini penting dalam penilaian risiko dan pengembangan standar keamanan suatu bahan pestisida.

Pada MTT Assay, sel hidup dan sampel pestisida mula-mula ditempatkan pada alat yang bernama 96-well microplate. Sampel pestisida yang diuji biasanya dibuat dalam beberapa tingkat pengenceran, sehingga dapat diketahui pengaruh konsentrasi yang berbeda terhadap sel. 

Dibutuhkan pula perlakuan kontrol yang hanya berisi sel tanpa sampel pestisida. Selain itu, satu kolom dibiarkan kosong sebagai blanko untuk pembacaan alat.

Pengaturan ini bertujuan agar hasil uji dapat dibandingkan dengan jelas antara sel normal dan sel yang terpapar sampel. Selanjutnya, plate diinkubasi dalam inkubator pada suhu 37°C dengan kadar CO₂ 5% agar kondisi mendekati kondisi tubuh.

Selama inkubasi, sel akan berinteraksi dengan sampel uji. Setelah masa inkubasi selesai, larutan MTT ditambahkan ke setiap sumur.

Larutan yang dihasilkan akan berwarna ungu dengan tingkat kepekatan yang berbeda-beda. Warna ini kemudian diukur menggunakan microplate reader.

Semakin pekat warna ungu, semakin banyak sel hidup yang masih aktif. Hasil MTT assay dinilai dengan membandingkan warna dan nilai absorbansi antara sumur kontrol dan sumur sampel.

Sumur kontrol biasanya berwarna ungu tua karena sel dalam kondisi sehat dan aktif. Sebaliknya, sumur yang mengandung sampel toksik akan menunjukkan warna yang lebih pucat atau hampir tidak berwarna.

Jika nilai viabilitas sel turun hingga kurang dari 50% dibandingkan kontrol, maka sampel tersebut dianggap bersifat sitotoksik. Secara keseluruhan, MTT Assay memberikan gambaran sederhana namun efektif tentang bagaimana suatu zat mempengaruhi kehidupan sel.

Oleh karena itu, metode ini banyak digunakan sebagai uji awal untuk menilai keamanan atau potensi toksik suatu senyawa pestisida sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut. Pengujian sitotoksisitas seperti MTT Assay memberikan gambaran awal yang krusial mengenai bagaimana suatu formulasi pestisida memengaruhi viabilitas sel.

Namun dalam pengembangan dan peredaran produk pestisida, evaluasi keamanan tidak dapat berhenti pada asumsi atau data internal semata. Diperlukan pengujian laboratorium yang terstandar, terdokumentasi dengan baik, dan dilakukan secara independen untuk memastikan bahwa produk memenuhi persyaratan keamanan serta regulasi yang berlaku.

Author: Dherika
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Sharma, R. (Feb 27th, 2025). MTT Cytotoxicity Assay Lab: Principle, Protocol & Applications. Retrieved from https://acmeresearchlabs.in/2025/02/27/mtt-cytotoxicity-assay-lab-principle-protocol-applications/ (Accessed: Dec 25th, 2025).

Twaruzek, M., Zastempowska, E., Ewelina, S., & Iwona, A. (2018). The Use of In Vitro Assays for the Assessment of Cytotoxicity on the Example of MTT Test. Folia Biologica et Oecologia, 14, 23-32. Doi: 10.1515/fobio-2017-0006.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak