Mengapa Uji Toksisitas Oral Akut Penting dalam Keamanan Biopestisida Mikroba?

Biopestisida mikroba semakin banyak dipilih sebagai agen pengendali hama yang lebih ramah lingkungan. Namun, meskipun berasal dari mikroorganisme alami, produk ini tetap perlu dipastikan keamanannya bagi manusia.

Salah satu aspek penting yang dinilai adalah potensi bahaya ketika produk tertelan secara tidak sengaja. Uji toksisitas oral akut berperan sebagai langkah awal untuk memahami bagaimana tubuh bereaksi terhadap paparan dosis tunggal biopestisida tersebut.

Hasilnya dapat menunjukkan ada tidaknya efek berbahaya dalam jangka pendek, termasuk indikasi keracunan.

Pentingnya Melakukan Uji Toksisitas Oral Akut dalam Penilaian Keamanan Biopestisida Mikroba

Ketika mendengar kata pestisida, banyak orang langsung terpikir bahan kimia. Padahal, saat ini semakin banyak pestisida berbahan dasar mikroorganisme, seperti bakteri atau jamur yang dinilai lebih ramah lingkungan. Meski begitu, “alami” tidak otomatis berarti “aman”.

Mikroorganisme tetap perlu dinilai apakah berpotensi menimbulkan efek toksik jika masuk ke dalam tubuh, terutama melalui mulut. Di sinilah pentingnya uji toksisitas oral akut.

Uji toksisitas oral akut dilakukan untuk melihat apakah ada efek berbahaya setelah seseorang (atau hewan) tak sengaja menelan produk biopestisida mikroba dalam jumlah tertentu. Ini penting karena berbagai skenario paparan bisa saja terjadi, mulai dari kesalahan penyimpanan hingga kontaminasi makanan secara tidak sengaja. 

Baca juga:
Ramah Lingkungan Bukan Berarti Tanpa Risiko Mengapa Biopestisida Fungi Perlu Uji Laboratorium?

Jika data atau informasi sebelumnya belum cukup untuk memastikan suatu mikroorganisme aman, maka uji toksisitas oral akut menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan terhadap pengguna dan konsumen.

Setiap negara atau lembaga regulasi memiliki panduan uji sendiri, namun untuk toksisitas akut, dua acuan yang digunakan adalah pedoman OECD dan US EPA. Dalam uji ini, hewan pengerat, biasanya tikus, diberi satu dosis tunggal bahan uji melalui mulut (oral gavage).

Hewan yang digunakan dipuasakan terlebih dahulu agar dosis dapat terserap secara optimal. Setelah itu, tikus diamati selama 14 hari penuh. 

Para peneliti mencatat berbagai hal mulai dari perubahan berat badan, tanda-tanda keracunan, hingga kematian, jika terjadi. Pada akhir periode, dilakukan nekropsi (semacam autopsi pada hewan) untuk melihat apakah ada kerusakan atau perubahan pada organ-organ penting.

Pedoman ini ditetapkan melalui beberapa standar, di antaranya OECD Test 420 dan 423, serta pedoman US EPA 870.1100. Meski tampak sederhana, uji ini memberikan gambaran langsung tentang bagaimana tubuh bereaksi terhadap suatu formulasi biopestisida mikroba.

Metode Acute Toxicity Estimate(ATE): Alternatif Tanpa Hewan yang Masih Dalam Perdebatan

Seiring berkembangnya teknologi, para ilmuwan dan regulator mulai mencari cara untuk mengurangi penggunaan hewan dalam pengujian. Salah satu pendekatan alternatif yang saat ini sedang banyak dibahas adalah Acute Toxicity Estimate (ATE). 

Alih-alih melakukan uji pada hewan, metode ATE menghitung potensi toksisitas dengan mengacu pada data masing-masing komponen dalam formulasi biopestisida. Prinsipnya adalah additivity, secara sederhana, “total bahaya” dianggap merupakan jumlah dari bahaya tiap bahan penyusunnya.

Sayangnya, berdasarkan berbagai penelitian, metode ATE belum sepenuhnya bisa diandalkan. Tingkat akurasinya bervariasi, ada studi yang menunjukkan akurasi 52%, ada juga yang hanya 43%, dan ada pula yang mencapai 75%. 

Yang lebih penting, metode ini cenderung meng-underestimate toksisitas pada formulasi yang lebih berbahaya. Artinya, dalam beberapa kasus, ATE dapat memberikan gambaran yang terlalu “aman” dibandingkan kondisi sebenarnya.

Karena itu, meskipun ATE memiliki potensi sebagai alat bantu dalam pendekatan weight of evidence, metode ini belum cukup kuat untuk menggantikan pengujian in vivo sepenuhnya. Khusus untuk biopestisida mikroba, yang punya sifat biologis unik, pencocokan data toksisitas juga menjadi jauh lebih rumit.

Dengan kompleksitas karakter biologis biopestisida mikroba serta keterbatasan metode alternatif seperti ATE, uji lab pestisida menjadi langkah penting dalam memastikan keamanan produk sebelum dipasarkan. Uji toksisitas oral akut memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk menilai potensi risiko paparan tidak sengaja, sekaligus menjadi bagian krusial dalam pemenuhan persyaratan regulasi dan proses registrasi.

Untuk mendukung kebutuhan uji lab pestisida tersebut, IML Testing and Research menyediakan layanan uji toksisitas oral akut sesuai pedoman OECD dan regulasi yang berlaku. Pengujian dilakukan secara terstandar dan terdokumentasi untuk menghasilkan data yang akurat, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Layanan ini membantu produsen biopestisida mikroba memastikan aspek keamanan produk sejak tahap pengembangan hingga perizinan.

Author: Dherika
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Hamm, J., Allen, D., Ceger, P., Flint, T., Lowit, A., O'Dell, L., Tao, J., & Kleinstreuer, N. (2021). Performance of the GHS Mixtures Equation for Predicting Acute Oral Toxicity. Regulatory toxicology and pharmacology : RTP, 125, 105007. https://doi.org/10.1016/j.yrtph.2021.105007.

Wend, K., Zorrilla, L., Freimoser, F.M., & Gallet, A. (2024). Microbial Pesticides – Challenges and Future Perspectives for Testing and Safety Assessment with Respect to Human Health. Environmental health, 23, 49, 1-29. https://doi.org/10.1186/s12940-024-01090-2.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak