
Mengapa Keamanan Obat Tetes Mata Harus Dibuktikan dengan Uji Laboratorium?

Mata merupakan organ sensorik kompleks dengan anatomi dan fisiologi khusus untuk melihat. Mata sangat sensitif terhadap berbagai faktor, mulai dari paparan lingkungan seperti debu, asap, polusi, penggunaan gawai dalam waktu lama, hingga kondisi medis seperti alergi, infeksi, atau mata kering.
Kondisi mata yang sensitif ini dapat menjadi gangguan ringan yang dapat menurunkan kenyamanan dan kualitas hidup, sehingga banyak orang memilih penanganan cepat menggunakan obat tetes mata.
- Ragam Jenis dan Fungsi Obat Tetes Mata
- Berapa Lama Obat Tetes Mata Aman Digunakan Setelah Dibuka?
- Tanda Obat Tetes Mata Tidak Lagi Layak Digunakan
Ragam Jenis dan Fungsi Obat Tetes Mata
Obat tetes mata menawarkan rute pemberian obat non invasif (metode pemberian obat yang tidak melibatkan penembusan kulit). Obat tetes mata tersedia dalam berbagai jenis dan formulasi, diantaranya, air mata buatan untuk melembapkan, larutan saline untuk membilas mata, antihistamin atau dekongestan untuk alergi, antibiotik untuk infeksi bakteri, kortikosteroid untuk peradangan, hingga obat-obatan khusus untuk para penderita glaukoma.
Formulasi obat tetes mata dirancang sedemikian rupa supaya aman digunakan langsung pada permukaan mata. Umumnya, tetes mata merupakan produk siap pakai yang dipasarkan dengan atau tanpa bahan pengawet.
Obat tetes mata tersedia dalam kemasan dosis tunggal dan multidosis. Setiap produk obat tetes mata yang diberikan dalam multidosis (penggunaan berulang) harus memiliki mekanisme untuk menjaga sterilitas selama jangka waktu penggunaannya.
Maka dari itu, banyak produk yang menambahkan bahan pengawet untuk menjaga produk tetap steril dan mencegah kontaminasi mikroba. Namun, karena digunakan langsung pada organ yang sangat sensitif, kualitas dan sterilitas obat tetes mata merupakan faktor yang sangat krusial.
Penggunaan obat tetes mata yang telah terkontaminasi atau melewati batas waktu aman dapat menyebabkan iritasi berat, infeksi baru, bahkan kerusakan permukaan mata. Oleh karena itu, memahami masa kedaluwarsa obat tetes mata, termasuk batas aman setelah kemasan dibuka, menjadi bagian penting dari penggunaan obat.
Berapa Lama Obat Tetes Mata Aman Digunakan Setelah Dibuka?
Setelah kemasan obat tetes mata dibuka, botol berisiko terpapar mikroorganisme dari lingkungan atau dari ujung penetes yang tidak sengaja menyentuh permukaan mata, kulit, atau tangan. Risiko kontaminasi meningkat pada botol multidosis yang digunakan berulang selama berminggu-minggu.
Untuk mengurangi risiko infeksi, banyak produk menambahkan pengawet benzalkonium chloride (BAK) atau pengawet lain. Namun, meskipun efektif sebagai antimikroba, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang BAK dapat menyebabkan toksisitas permukaan mata, mengganggu kestabilan lapisan air mata, dan memperparah gejala mata kering.
Karena itu, pada kasus penggunaan rutin jangka panjang (misalnya glaukoma atau dry-eye syndrome), dokter sering menyarankan mempertimbangkan formulasi preservative-free atau kemasan dosis tunggal. Menurut NHS Specialist Pharmacy Service, jika tidak ada instruksi khusus dari produsen, obat tetes mata multidosis umumnya disarankan untuk dibuang setelah 28 hari (± 4 minggu) sejak kemasan dibuka.
Pedoman ini bertujuan mencegah risiko kontaminasi mikroba selama penggunaan harian di rumah maupun fasilitas kesehatan. Namun, keputusan akhir tetap harus mengacu pada petunjuk resmi pabrik pada kemasan. Beberapa obat memiliki stabilitas lebih panjang atau justru masa pakai lebih pendek, terutama produk preservative-free, yang biasanya harus dibuang beberapa jam atau hari setelah dibuka.
Tanda Obat Tetes Mata Tidak Lagi Layak Digunakan
Adapun, tanda-tanda obat tetes mata tidak lagi sesuai untuk digunakan meliputi perubahan visual seperti kekeruhan, perubahan warna, terdapat endapan partikel atau partikel tidak larut, terdapat bau yang tidak biasa, terasa pedih berlebihan dibanding pemakaian sebelumnya, tanggal pemakaian yang sudah melewati 28 hari, serta kedaluwarsa berdasarkan tanggal pada kemasan.
Melihat tingginya risiko kontaminasi dan dampak serius yang dapat ditimbulkan pada kesehatan mata, keamanan obat tetes mata tidak cukup hanya bergantung pada klaim formulasi atau keberadaan bahan pengawet. Diperlukan pembuktian ilmiah melalui pengujian laboratorium untuk memastikan produk tetap steril, stabil, dan aman digunakan hingga akhir masa pakainya.
Baca juga:
TERKUAK! 4 Alasan Pentingnya Pengujian Laboratorium pada Obat Luar
Di sinilah peran uji laboratorium menjadi krusial, baik untuk produsen maupun pemilik merek, agar setiap produk yang beredar benar-benar memenuhi standar mutu dan keamanan. Risiko kontaminasi, penurunan sterilitas, hingga efek iritasi pada mata menunjukkan bahwa keamanan obat tetes mata tidak bisa hanya dinilai dari formulasi di atas kertas.
Setiap produk perlu dibuktikan keamanannya melalui uji laboratorium obat tetes mata untuk memastikan sterilitas tetap terjaga, kualitas produk stabil, dan tidak menimbulkan risiko bagi pengguna sepanjang masa simpannya.
IML Testing and Research menyediakan layanan uji laboratorium obat tetes mata yang komprehensif dan dapat diandalkan, meliputi uji sterilitas, uji cemaran mikroba, uji stabilitas, serta pengujian mutu sesuai standar regulasi. Pastikan obat tetes mata Anda telah melalui uji lab yang tepat sebelum dipasarkan, demi menjamin keamanan produk dan kepercayaan konsumen.
Author: Jihan
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Coroi, M. C., Bungau, S., & Tit, M. (2015). PRESERVATIVES FROM THE EYE DROPS AND THE OCULAR SURFACE. Romanian journal of ophthalmology, 59(1), 2–5.
Iskandar, K., Marchin, L., Kodjikian, L., Rocher, M., & Roques, C. (2022). Highlighting the Microbial Contamination of the Dropper Tip and Cap of In-Use Eye Drops, the Associated Contributory Factors, and the Risk of Infection: A Past-30-Years Literature Review. Pharmaceutics, 14(10), 2176. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics14102176
NHS Pharmaceutical Quality. (2025). Guidance on the in-use shelf life for eye drops and ointments.
Walsh, K., & Jones, L. (2019). The use of preservatives in dry eye drops. Clinical ophthalmology (Auckland, N.Z.), 13, 1409–1425. https://doi.org/10.2147/OPTH.S211611



