
Yuk Kenali Lebih Dekat Uji Iritasi Mata Pestisida dengan Metode Isolated Chicken Eye (ICE)!

Uji iritasi mata merupakan langkah penting dalam penilaian keamanan bahan kimia, termasuk bahan aktif pestisida, sebelum dipasarkan secara luas. Tujuan utama dari uji ini adalah untuk memastikan bahwa paparan terhadap suatu produk tidak menyebabkan kerusakan pada mata manusia, serta untuk memberikan dasar dalam pelabelan produk agar sesuai dengan standar keselamatan. Selama bertahun-tahun, metode Draize rabbit eye test telah menjadi acuan utama (gold standard) dalam pengujian iritasi mata.
Metode ini menggunakan kelinci hidup sebagai hewan uji, dengan sistem penilaian klinis yang mencatat tingkat keparahan dan durasi iritasi yang terjadi selama 1 hingga 21 hari setelah paparan bahan kimia. Namun, penggunaan hewan hidup dalam pengujian tersebut menimbulkan kekhawatiran etis dan isu kesejahteraan hewan, sehingga mendorong pengembangan berbagai metode alternatif yang lebih manusiawi. Salah satu metode yang kini mulai banyak digunakan adalah Isolated Chicken Eye (ICE) sebagai metode in vitro. Artikel ini akan membahas mengenai metode ICE yang dapat diaplikasikan untuk menguji produk pestisida.
- Pengembangan Metode In Vitro untuk Uji Iritasi Mata pada Produk Pestisida
- Isolated Chicken Eye (ICE) untuk Uji Iritasi Mata pada Produk Pestisida
Pengembangan Metode In Vitro untuk Uji Iritasi Mata pada Produk Pestisida
Seiring meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan hewan, berbagai metode in vitro telah dikembangkan dan divalidasi sebagai alternatif pengganti uji iritasi mata secara in vivo pada hewan hidup. Metode-metode ini bertujuan untuk mendeteksi senyawa yang bersifat korosif terhadap mata maupun senyawa yang tergolong sebagai iritan ringan hingga sedang, sesuai dengan klasifikasi Globally Harmonized System (GHS) untuk bahan kimia non-klasifikasi (Not Classified – NC) hingga iritan mata.
Agar metode in vitro dapat diterima sebagai pengganti uji iritasi mata pada kelinci, seperti tes Draize, terdapat sejumlah kriteria penting yang harus dipenuhi, sebagai berikut:
1. Penilaian Cedera Secara Tiga Dimensi
Metode tersebut harus mampu menilai cedera secara tiga dimensi, karena proses cedera mata tidak hanya terjadi di permukaan tetapi juga melibatkan lapisan-lapisan jaringan di bawahnya. Oleh karena itu, pengamatan tidak cukup dilakukan hanya pada lapisan luar, namun juga harus menjangkau lapisan dalam mata.
2. Pengukuran Tingkat Sitotoksisitas
Tingkat kerusakan atau cedera harus dapat diukur berdasarkan tingkat sitotoksisitas, yaitu sejauh mana bahan kimia merusak atau membunuh sel-sel di kornea. Ini penting untuk menggambarkan seberapa parah dampak bahan terhadap jaringan mata.
3. Evaluasi pada Seluruh Lapisan Utama Kornea
Penilaian harus mencakup seluruh lapisan utama kornea, yaitu epitel sebagai lapisan terluar, stroma sebagai lapisan tengah yang berperan dalam struktur, dan endotel sebagai lapisan terdalam yang menjaga keseimbangan cairan dan kejernihan kornea.
4. Identifikasi Pola Cedera Difus dan Fokal
Metode tersebut juga harus mampu membedakan antara cedera yang menyebar secara merata (difus) di seluruh bagian kornea dengan cedera yang bersifat lokal namun parah di area tertentu (fokal). Kemampuan ini penting untuk memberikan gambaran yang lebih detail tentang pola kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu bahan.
5. Pemantauan Cedera pada Beberapa Titik Waktu
Metode pengganti harus memungkinkan penilaian cedera pada beberapa titik waktu, misalnya satu jam setelah paparan, 24 jam, atau bahkan beberapa hari kemudian, agar dapat diketahui apakah cedera memburuk, tetap, atau mulai menunjukkan tanda pemulihan.
Kriteria-kriteria ini menjadi acuan penting dalam pengembangan dan evaluasi metode alternatif uji iritasi mata, agar hasilnya benar-benar mencerminkan risiko nyata terhadap manusia dengan cara yang lebih etis dan ilmiah. Melalui pendekatan ini, metode in vitro seperti ICE dapat diuji konsistensinya dalam memprediksi efek iritasi tanpa perlu melakukan pengujian baru pada hewan. Selain mendukung etika penelitian, strategi ini juga mendorong efisiensi, konsistensi, serta penerimaan secara internasional dalam penilaian risiko bahan kimia, termasuk bahan aktif dalam produk pestisida.
Isolated Chicken Eye (ICE) untuk Uji Iritasi Mata pada Produk Pestisida

Penggunaan metode Isolated Chicken Eye (ICE) memiliki potensi besar dalam pengujian bahan aktif pestisida, terutama dalam menilai potensi iritasi mata yang dapat ditimbulkan oleh produk pestisida sebelum digunakan oleh konsumen maupun tenaga pertanian. Produk pestisida umumnya mengandung senyawa kimia dengan potensi toksisitas yang tinggi, sehingga pengujian toksisitas lokal seperti iritasi mata menjadi langkah krusial dalam proses registrasi dan pelabelan produk. Isolated Chicken Eye (ICE), yaitu uji iritasi mata yang dilakukan pada mata ayam yang diperoleh dari rumah potong hewan.
Metode ini dianggap lebih etis karena tidak melibatkan hewan hidup secara langsung, serta mampu memberikan hasil yang relevan dalam menilai potensi iritasi bahan kimia, termasuk pestisida. Pada metode Isolated Chicken Eye (ICE) analisis berupa pengamatan opasitas, pembengkakan, dan kerusakan epitel kornea setelah paparan bahan pestisida. Metode ini dapat memberikan gambaran objektif mengenai tingkat bahaya yang mungkin ditimbulkan terhadap mata manusia, terutama bagi pengguna yang terpapar secara tidak sengaja melalui percikan atau uap pestisida selama proses penyemprotan.
Salah satu keunggulan metode ini dalam konteks pengujian pestisida adalah kemampuannya mendeteksi efek korosif atau iritasi berat dari senyawa kimia kategori 1 berdasarkan Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS), yang banyak ditemukan dalam formulasi pestisida dengan bahan aktif bersifat asam, basa kuat, atau pelarut organik tertentu. GHS (Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals) adalah sistem internasional yang digunakan untuk mengklasifikasikan bahan kimia berdasarkan tingkat bahayanya, serta memberikan standar global dalam pelabelan dan penyusunan lembar data keselamatan (Safety Data Sheet/SDS).
Dengan adanya GHS, informasi mengenai risiko bahan kimia dapat disampaikan secara konsisten dan mudah dipahami, baik oleh produsen, regulator, maupun pengguna di berbagai negara. Validasi melalui pedoman OECD 438 menunjukkan bahwa ICE memiliki akurasi yang tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar ilmiah dalam proses penilaian risiko dan pengambilan keputusan regulasi terhadap produk pestisida. OECD Test Guideline 438 (OECD TG 438) adalah pedoman uji resmi yang diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk metode Isolated Chicken Eye (ICE).
Pedoman ini menjelaskan cara melakukan pengujian iritasi dan korosivitas mata menggunakan mata ayam yang diperoleh dari hewan ternak (bukan hasil percobaan khusus). OECD 438 digunakan untuk:
- Menilai potensi bahan kimia, termasuk pestisida, dalam menyebabkan iritasi sedang hingga berat atau kerusakan permanen pada mata.
- Menjadi alternatif non-hewan hidup terhadap metode Draize rabbit eye test.
- Memberikan dasar ilmiah yang valid dan diakui internasional untuk keperluan regulasi dan penilaian risiko produk kimia.
Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa beberapa bahan pestisida berpotensi menghasilkan false negative dalam pengujian ICE. Hal ini berarti bahwa meskipun hasil uji menunjukkan tidak ada iritasi, bahan tersebut sebenarnya mungkin memiliki efek iritatif yang ringan hingga sedang. Oleh karena itu, data dari metode ICE sebaiknya dipadukan dengan informasi kimia tambahan dan data toksikologi lain untuk memastikan hasil yang komprehensif, terutama pada jenis formulasi pestisida tertentu.
Pastikan produk pestisida Anda aman digunakan dengan melakukan uji laboratorium sesuai standar keselamatan. Pengujian yang tepat membantu mendeteksi potensi bahaya sejak dini dan menjaga kepercayaan konsumen. Lakukan pengujian sekarang agar produk pestisida Anda siap beredar dengan laboratorium aman dan terpercaya.
Author: Dherika
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Europan Comission. Eye iritation: The Isolated Chicken Eye (ICE) Test. Retrieved from https://joint-research-centre.ec.europa.eu/ (Accessed: May 17th, 2025).
Lebrun, S., Nguyen, L., Sara, C., Roxanne, C., Debby, L., Minh, N., & James, V.J. (2021). Same-Chemical Comparison of Nonanimal Eye Irritation Test Methods: Bovine Corneal Opacity and Permeability, EpiOcular™, Isolated Chicken Eye, Ocular Irritection®, OptiSafe™, and Short Time Exposure. Toxicol In Vitro, 72. Doi:10.1016/j.tiv.2020.105070.Prinsen, M.K., Schipper, M.E.I., & Wijinands, M.V.W. (2011). Histopathology in the Isolated Chicken Eye Test and Comparison of Different Stainings of the Cornea. Toxicology in Vitro, 25, 1475-1479. Doi:10.1016/j.tiv.2011.04.028.



