Uji Efektivitas Pengawet: Langkah Penting Menjaga Produk Tetap Bersih dan Aman

Produk perawatan maupun kecantikan semakin populer di kalangan masyarakat saat ini, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dan penampilan. Berbagai jenis produk perawatan dan kecantikan diformulasikan menggunakan bahan aktif dan air yang mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. 

Bakteri dan jamur yang mengontaminasi produk dapat menurunkan kualitas produk yang dapat memperpendek masa simpan produk tersebut serta membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin masuk secara tidak sengaja saat produk diambil berulang kali perlu ditambahkan pengawet antimikroba ke produk.

Apa itu pengawet antimikroba?

Pengawet antimikroba merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam produk yang digunakan sehari-hari, seperti kosmetik, obat, makanan, atau produk perawatan kulit untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme (bakteri dan jamur) ini dapat menyebabkan kontaminasi yang menyebabkan produk rusak, perubahan warna, berbau tidak sedap, bahkan berbahaya bagi kesehatan manusia. 

Tanpa pengawet antimikroba, produk yang mengandung air, bahan alami, atau bahan organik akan sangat mudah ditumbuhi mikroba selama penyimpanan atau penggunaan. Pengawet antimikroba memiliki fungsi untuk mencegah pertumbuhan mikroba yang masuk secara tidak sengaja, memperpanjang umur simpan produk, menjaga keamanan dan kualitas produk selama pemakaian, dan melindungi pengguna dari risiko infeksi akibat mikroba patogen. 

Pengawet terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pengawet sintetis atau buatan dan pengawet alami. Pengawet sintetis merupakan bahan yang dibuat dari senyawa kimia. Contohnya adalah paraben, phenoxyethanol, benzyl alcohol, dan formaldehyde. 

Pengawet sintetis memiliki efektivitas yang tinggi dengan jumlah yang kecil. Sementara pengawet alami merupakan bahan yang berasal dari ekstrak tumbuhan, bahan-bahan organik, atau essential oil. Contohnya adalah ekstrak rosemary, teh hijau, kayu manis, asam benzoat, atau asam sorbat. Pengawet alami dianggap lebih aman dan ramah lingkungan, tetapi memiliki efektivitas yang lebih rendah dibandingkan pengawet sintetis. 

Cara kerja pengawet antimikroba

Secara umum, pengawet antimikroba baik itu sintetis maupun alami memiliki mekanisme kerja dalam mencegah kerusakan produk dan memperpanjang masa simpan melalui cara sebagai berikut.

  1. Merusak dinding sel mikroba. Pengawet, seperti fenol dan senyawa organomerkuri memiliki peran untuk menghancurkan membran sel mikroba yang menyebabkan organel-organel dalam membran keluar hingga mikroba mati
  2. Membentuk ikatan silang pada protein. Misalnya glutaraldehyde yang dapat mengganggu fungsi sel mikroba sehingga mikroba mati.
  3. Mengganggu struktur membran sel. Bekerja dengan merusak kestabilan membran sel mikroba yang membuat bocor dan tidak dapat berfungsi dengan baik
  4. Menghambat pembentukan asam folat. Pengawet paraben dan asam benzoat dapat menghambat proses pembentukan DNA dan sel mikroba sehingga mikroba tidak dapat tumbuh dengan baik.

Pengujian efektivitas pengawet 

Sebelum produk kecantikan mendapatkan izin edar dari lembaga regulasi, produk tersebut harus melalui serangkaian uji keamanan dan kualitas. Salah satu aspek penting yang dinilai adalah keamanan mikrobiologinya karena kandungan air dan bahan alami dalam produk yang rentan terhadap pertumbuhan mikroba. 

Untuk memastikan produk tetap aman digunakan dalam masa penyimpanan dan pemakaian maka perlu dilakukan pengujian efektivitas pengawet yang dilakukan oleh suatu lembaga pengujian. Pengujian efektivitas pengawet umumnya dilakukan menggunakan metode uji efektivitas antimikroba (AET). 

Prinsip dasar metode ini adalah menambahkan sejumlah mikroba uji ke dalam produk, lalu menghitung jumlah mikroba yang tumbuh dari waktu ke waktu, biasanya hari ke-2, 7, 14, dan 28 dengan metode perhitungan koloni pada media agar. Tujuan pengujian ini adalah untuk memantau produk uji mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur selama periode uji berlangsung.

Mikroba yang digunakan untuk pengujian merupakan spesies patogen yang umum digunakan oleh standar internasional, yaitu Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Candida albicans, dan Aspergillus niger/brasiliensis.  Pengawet antimikroba merupakan komponen penting dalam formulasi kecantikan untuk mempertahankan kualitas dan keamanan produk selama masa penyimpanan dan penggunaan.

Tanpa pengawet, produk kecantikan seperti krim, serum, atau lotion bisa menjadi tempat tumbuh bakteri dan jamur yang berbahaya bagi kulit. Penggunaan pengawet juga harus aman, sesuai standar, dan tidak berlebihan. Di sinilah pengujian efektivitas pengawet menjadi faktor penentu, bukan hanya untuk memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa formulasi produk benar-benar mampu menjaga keamanan selama masa simpan dan pemakaian.

Klaim “aman” atau “tahan lama” tidak cukup jika tidak didukung oleh data uji laboratorium yang terukur. Melalui pengujian efektivitas pengawet, produsen dapat memahami apakah sistem pengawet bekerja optimal terhadap bakteri dan jamur uji, sekaligus meminimalkan risiko penurunan kualitas produk saat digunakan berulang kali oleh konsumen.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Moser, C. L., & Meyer, B. K. (2011). Comparison of compendial antimicrobial effectiveness tests: A review. AAPS PharmSciTech, 12(1), 222–226. https://doi.org/10.1208/s12249-010-9575-9

Patil, A., & Khan, N. (2023). A review on microbial control and preservatives of cosmetics. International Journal of Research in Pharmacy and Allied Science (IJRPAS), 2(6), 1–15. Ideal Publication. ISSN: 2583-654413.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak