
Memahami Mycena chlorophos (Jamur yang Menyala dalam Gelap) melalui Uji Mikrobiologi

Makhluk hidup bioluminesen merupakan makhluk hidup yang mampu memancarkan cahaya sendiri dalam tubuhnya melalui reaksi kimia. Munculnya cahaya ini terjadi karena ada senyawa kimia (luciferin) yang bereaksi dengan oksigen melalui bantuan enzim luciferase. Mereka termasuk bagian penting dari kehidupan di bumi karena memiliki fungsi untuk menarik mangsa, sebagai pertahanan diri dari predator, alat komunikasi antar individu, dan membantu reproduksi melalui penyebaran spora (pada jamur).
Terdapat 700 genera makhluk hidup yang memiliki kemampuan bioluminesen, diantaranya jamur (sebanyak 98 jenis). Jamur yang bisa memancarkan cahaya sendiri termasuk ke dalam keluarga Mycenaceae (paling banyak), Omphalotaceae, Pleurotaceae, dan Physalacriaceae.
- Tidak Semua Jamur Bersinar dengan Cara yang Sama
- Mengenal Mycena chlorophos Lebih Dekat
- Habitat dan Persebaran Mycena chlorophos
- Sejarah dan Mekanisme Bioluminesen
- Uji Mikrobiologi untuk Mengungkap Proses Bioluminesensi
Tidak Semua Jamur Bersinar dengan Cara yang Sama
Tiap jenis jamur memiliki tingkat cahaya berbeda-beda yang bisa dipancarkan. Ada jamur yang hanya bagian miseliumnya saja yang bisa bercahaya, sementara pada jenis jamur lainnya miselium dan tubuh buahnya bisa menghasilkan cahaya. Selain itu, ada juga jamur yang hanya bagian tubuh buahnya saja yang bercahaya, sementara miseliumnya tidak. Pada artikel ini, akan dikenalkan salah satu jenis jamur Mycenaceae, yaitu Mycena chlorophos.
Mengenal Mycena chlorophos Lebih Dekat
M. chlorophos adalah jenis jamur yang pertama kali ditemukan pada tahun 1860 di daerah Asia, seperti India, Jepang, Taiwan, Indonesia, juga di Australia dan Brasil. Morfologi jamur ini memiliki tudung berwarna abu-abu kecoklatan pucat dan sedikit lengket, berdiameter hingga 30 mm, dan tinggi tangkai setinggi 6 – 30 mm.
Jamur ini bisa memancarkan cahaya hijau agak pucat di tempat gelap. Jamur ini tumbuh di hutan pada kayu-kayu yang telah mati, seperti ranting, cabang, atau batang pohon yang membusuk. Jamur ini dikenal bisa dibudidayakan di laboratorium untuk digunakan dalam penelitian.
Habitat dan Persebaran Mycena chlorophos
Di Jepang sendiri, jamur ini dikenal sebagai Konruri-kyuban-take, yang memiliki arti “jamur penghisap berwarna biru laut”. Bagian dasarnya memiliki warna biru terang (konruri) dan bentuknya seperti cakram (kyuban). Namun, walaupun bentuknya mirip dengan jenis jamur dari genus Mycena, hasil DNA menunjukkan terdapat perbedaan genetik yang cukup besar.
Umumnya M. chlorophos tumbuh di hutan berkelompok pada kayu yang telah mati, seperti ranting, cabang, atau kulit pohon yang sudah jatuh ke tanah. Di jepang, khususnya di Kepulauan Hachijo dan Bonin, jamur hanya muncul di musim hujan (sekitar Juni-Juli dan September-Oktober).
Sejarah dan Mekanisme Bioluminesen
Fenomena bioluminesens telah dikenal sejak zaman kuno. Bioluminesens adalah reaksi kimia dalam tubuh organisme yang menghasilkan cahaya tanpa panas. Di zaman Yunani dan Romawi Kuno, Aristoteles yang pertama kalinya menemukan makhluk bercahaya pada ikan mati dan cacing. Kemudian di abad pertengahan, laut yang bercahaya dan kunang-kunang semakin banyak.
Lalu, di abad ke-19, ilmuwan Raphael Dubois dan E. Newton Harvey mulai meneliti penyebab cahaya yang muncul di organisme. Dubois menyatakan cahaya muncul karena reaksi antara zat luciferin dan enzim luciferase. Lalu, bereaksi dengan oksigen menghasilkan oxyluciferin dan cahaya hijau dengan gelombang 520 – 530 mm.
Sehingga cahaya yang muncul adalah hasil dari energi yang dilepaskan saat molekul luciferin teroksidasi. Uniknya, bioluminesens pada jamur memiliki sistem daur ulang, yaitu pembentukan dan mendaur ulang luciferin sehingga cahaya dapat bersinar terus-menerus.
Jamur bioluminesens adalah contoh nyata bagaimana alam bekerja secara menakjubkan melalui sains. Dari reaksi kimia kecil hingga sistem genetik yang kompleks, cahaya yang mereka hasilkan bukan sekadar keindahan, tetapi juga pesan bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem. Dengan terus meneliti dan melestarikan keanekaragaman hayati ini, kita bukan hanya memahami alam, tetapi juga belajar darinya.
Uji Mikrobiologi untuk Mengungkap Proses Bioluminesensi
Di balik keindahan cahaya alami yang dihasilkan Mycena chlorophos, terdapat proses mikrobiologis yang sangat kompleks dan presisi. Reaksi biokimia, aktivitas enzim, hingga peran genetik yang memungkinkan jamur ini memancarkan cahaya hanya dapat dipahami secara mendalam melalui pendekatan ilmiah yang terukur. Inilah mengapa penelitian mikroorganisme, termasuk jamur, tidak bisa dilepaskan dari pengujian laboratorium mikrobiologi yang akurat dan andal.
Melalui uji laboratorium mikrobiologi, karakteristik mikroorganisme dapat diidentifikasi, dianalisis, dan dipahami secara komprehensif mulai dari aktivitas enzim, pertumbuhan, hingga potensi aplikasinya. Untuk memastikan hasil uji yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, pengujian perlu dilakukan di laboratorium yang memiliki kompetensi dan metode terstandar. Yuk, pastikan riset dan pengujian mikrobiologi Anda dilakukan dengan pendekatan ilmiah yang tepat melalui layanan uji laboratorium mikrobiologi.
Author: Safira
Editor: Sabilla Reza
Referensi
Arya, C. P., Ratheesh, S., & Pradeep, C. K. (2021). New record of luminescent Mycena chlorophos (Mycenaceae) from Western Ghats of India. Studies in Fungi, 6(1), 507–513. https://doi.org/10.5943/sif/6/1/40
Cortés-Pérez, A., Desjardin, D. E., & others. (2024). Evolution and diversity of bioluminescent fungi. Diversity, 16(539). https://doi.org/10.3390/d16050539.
iNaturalist. (n.d.). Mycena chlorophos. iNaturalist. Retrieved October 23, 2025, from https://www.inaturalist.org/taxa/155173-Mycena-chlorophos
Oba, Y., & Hosaka, K. (2023). The luminous fungi of Japan. Journal of Fungi, 9(615). https://doi.org/10.3390/jof9060615



