Bahan Pengawet Kosmetik Alami Aman atau Tidak? Uji Lab Kosmetik Menjawabnya! 

Adapun bakteri patogen yang paling sering ditemukan adalah Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus. Infeksi bakteri maupun jamur pada kulit dapat bersifat ringan hingga berat dengan gejala yang berbeda-beda. Selain itu, peningkatan resistensi antimikroba bagi jamur dan bakteri juga menjadi masalah besar dalam dunia kesehatan. 

Dengan meningkatnya kebutuhan agen antimikroba, maka kini telah dikembangkan antimikroba berbahan alami yang bisa menjadi pencegahan berbagai penyakit kulit. Bahan antimikroba alami diklasifikasikan menjadi bahan alami dari tumbuhan, hewan, dan mineral. Jenis, efektivitas, serta kelebihan dan kekurangan dari masing-masing antimikroba alami akan dibahas pada artikel ini. 

Antimikroba Alami dari Tumbuhan

Bahan alami yang berasal dari tumbuhan bisa memiliki aktivitas melawan bakteri dan jamur penyebab infeksi kulit ringan. Biasanya bahan tersebut merupakan metabolit sekunder yang diekstraksi dari tumbuhan. Ekstrak tumbuhan dapat membantu untuk mengobati penyakit kulit kronis atau sebagai pencegahan. 

Beberapa ekstrak dan minyak esensial yang terdapat dalam produk kosmetik dan sebagai antimikroba adalah bawang putih, tanaman sage, tea tree oil, lavender, dan aloe vera. Bawang putih dikenal memiliki senyawa yang sifat antimikroba, yaitu asam klorogenat dan asam p-kumarat, dan tiosulfinat yang berkaitan dengan aktivitas antimikroba terhadap Candida albicans, Candida parapsilosis, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. 

Saat dioleskan pada kulit, tanaman sage memberi efek antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba karena tanaman ini mengandung minyak atsiri, yang kaya akan seskuiterpen teroksidasi. Kemudian, minyak tea tree dikenal luas karena memiliki sifat antimikroba. Senyawa aktif biologis utama terdiri dari terpinen-4-ol, γ- dan α-terpinen, α-terpineol, 1,8-sineol, p-simena, α-pinena, dan limonena. Tea tree oil telah terbukti lebih efektif terhadap S. pyogenes dan P. aeruginosa dibanding antibiotik seperti rifampisin, sefaleksin, eritromisin, dan lain-lain. 

Aloe vera merupakan tanaman lidah buaya yang banyak digunakan luas di industri farmasi dan kosmetik karena memiliki efek antiinflamasi, mempercepat penyembuhan luka, dan spektrum antimikroba yang luas. Umumnya aloe vera pada produk digunakan setelah terpapar oleh matahari, produk anti-jerawat, dan produk untuk perawatan kulit kering. 

Antimikroba Alami yang Berasal dari Hewan

Antimikroba alami yang berasal dari hewan merupakan bahan aktif yang diambil dari sumber hewani. Contohnya madu, lilin lebah, propolis, kolagen, chitosan (dari kulit udang), dan lanolin (dari wol domba). Karena bahan-bahan ini memiliki sifat antibakteri, pelembap, dan penyembuhan luka,  maka banyak digunakan dalam produk kosmetik.

Propolis merupakan campuran getah tumbuhan dan sekresi lebah yang mengandung asam fenolat dan flavonoid, senyawa yang berperan dalam aktivitas antimikroba dan antioksidan. Secara keseluruhan, bahan alami yang berasal dari hewan memberikan efektivitas perawatan kulit dan juga mendukung fungsi perlindungan alami kulit. 

Antimikroba Alami yang Berasal dari Mineral

Dalam dunia kosmetik, bahan alami yang berasal dari mineral terdapat pada tanah liat (clay), air mineral, dan lumpur mineral. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa bahan mineral tersebut memiliki aktivitas antimikroba tambahan, sehingga cukup luas digunakan dalam industri kosmetik. Namun, hingga saat ini belum mendapatkan bukti efektivitasnya secara langsung pada tubuh manusia. 

Apakah Penggunaan Antimikroba Alami dalam Kosmetik Lebih Efektif?

Kosmetik alami dan organik semakin populer karena menganggapnya lebih aman dan lebih baik dibandingkan produk sintetis. Namun, penggunaan bahan alami juga memiliki beberapa risiko. Beberapa bahan alami, seperti minyak esensial dan ekstrak tumbuhan bisa menyebabkan kulit menjadi sensitif atau alergi, dengan gejala kemerahan, gatal, atau ruam. 

Selain itu, kosmetik berbahan alami lebih rentan terkontaminasi mikroba karena tidak mengandung pengawet sintetis. Sehingga efektivitas bahan alami dalam kosmetik tidak selalu bisa dipastikan. 

Efektivitas bahan ini bergantung pada komposisi kimianya. Komposisi kimia yang kompleks bisa mengurangi efektivitas dari bahan tersebut sehingga memperpendek masa simpan. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa efek bahan alami terhadap kulit sangat dipengaruhi oleh kandungan kimia dan konsentrasinya.

Jika digunakan sebagai antimikroba pada kosmetik, penggunaan bahan alami saja tidak cukup untuk menjamin efektivitas produk dalam melawan mikroba patogen kulit, karena tetap kosmetik bergantung pada komposisi dan konsentrasi bahan aktifnya. Untuk memastikan bahan antimikroba alami dalam kosmetik benar-benar efektif dan aman digunakan, diperlukan pembuktian melalui uji laboratorium kosmetik.

Pengujian seperti uji aktivitas antimikroba, keamanan produk, serta stabilitas formulasi membantu memastikan konsentrasi bahan aktif sesuai dan produk tidak berisiko terkontaminasi. IML Testing & Research siap mendukung uji kosmetik Anda agar produk tetap aman, berkualitas, dan terpercaya di mata konsumen.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Mlynarczyk, D. T., Glensk, M., & Krzyzanowska, J. (2023). Natural substances with antimicrobial properties in the treatment and prevention of skin infections and their application in cosmetic products. Cosmetics, 12(1), https://doi.org/10.3390/cosmetics12010001

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak