Urutan Skincare: Mana yang Harus Dipakai Dulu dan Bagaimana Menguji Efektivitasnya?

Menggunakan skincare tidak hanya tentang memilih produk dengan kandungan aktif yang tepat. Urutan skincare juga perlu diperhatikan agar setiap produk dapat digunakan secara optimal.

Namun, apakah penggunaan produk dalam urutan skincare yang benar sudah cukup untuk memastikan bahwa skincare benar-benar efektif? Pertanyaan tersebut penting, terutama bagi produsen kosmetik yang ingin membuktikan klaim produknya secara ilmiah. Sebab, klaim seperti “melembapkan kulit,” “memperbaiki skin barrier,” “mengurangi minyak,” atau “memberikan perlindungan terhadap sinar UV” idealnya tidak hanya didasarkan pada persepsi pengguna, tetapi juga didukung oleh hasil pengujian yang terukur.

Daftar Isi:

Mengapa Urutan Skincare Penting?

Rutinitas skincare umumnya terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pembersih, toner atau essence, serum, moisturizer, hingga sunscreen. Tidak semua tahap wajib digunakan oleh setiap orang.

Namun, secara umum, produk perawatan kulit diaplikasikan dari tahap yang lebih ringan menuju produk yang lebih oklusif. American Academy of Dermatology Association merekomendasikan penggunaan produk dengan urutan membersihkan wajah, menggunakan produk treatment, kemudian moisturizer dan/atau sunscreen.

Urutan skincare ini bukan sekadar mengikuti tren. Cara suatu produk diaplikasikan dapat memengaruhi interaksi bahan dengan kulit. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan produk topikal secara berurutan dapat memengaruhi penyerapan melalui perubahan pada skin barrier, hidrasi, oklusi, serta interaksi antar-vehicle.

Dengan kata lain, produk yang baik tetap perlu digunakan dengan cara yang tepat agar manfaatnya dapat dioptimalkan.

Urutan Skincare Pagi yang Umum Digunakan

Berikut urutan skincare pagi yang dapat menjadi panduan umum.

1. Cleanser

Cleanser digunakan untuk membersihkan kotoran, minyak berlebih, sisa produk, dan berbagai residu pada permukaan kulit. Gunakan pembersih yang sesuai dengan kondisi kulit.

Pembersih yang terlalu agresif dapat mengganggu fungsi skin barrier dan menyebabkan kulit terasa kering atau tertarik.

2. Toner atau Essence

Toner atau essence merupakan tahap tambahan yang dapat digunakan untuk memberikan hidrasi atau manfaat tertentu sesuai formulasi produk. Namun, tahap ini tidak selalu wajib. Rutinitas skincare tidak harus terdiri dari banyak produk untuk dapat memberikan manfaat.

3. Serum atau Treatment

Serum biasanya mengandung bahan aktif dengan konsentrasi tertentu untuk menargetkan kebutuhan kulit, misalnya hidrasi, pigmentasi, tanda penuaan, atau masalah kulit lainnya. Pada tahap ini, pemilihan bahan aktif perlu disesuaikan dengan tujuan penggunaan dan toleransi kulit.

4. Moisturizer

Moisturizer membantu mempertahankan kelembapan kulit dan mendukung fungsi skin barrier. Bahan seperti humektan dapat membantu mempertahankan air, sementara emolien dan oklusif dapat membantu mengurangi kehilangan air dari kulit.

Parameter seperti skin hydration dan transepidermal water loss (TEWL) dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan fungsi kulit secara objektif. Berbagai penelitian menggunakan Corneometer untuk mengukur hidrasi dan Tewameter untuk mengevaluasi TEWL.

5. Sunscreen

Pada pagi atau siang hari, sunscreen menjadi tahap terakhir dalam rutinitas skincare sebelum makeup. Sunscreen berfungsi memberikan perlindungan terhadap radiasi ultraviolet.

Karena itu, klaim perlindungan seperti SPF atau UVA protection perlu dievaluasi menggunakan metode pengujian yang sesuai. Pengujian sunscreen dapat dilakukan menggunakan pendekatan in vitro maupun in vivo, dengan metode yang dirancang untuk mengukur perlindungan terhadap UVB, UVA, maupun aspek substantivitas terhadap air.

Bagaimana dengan Urutan Skincare Malam?

Rutinitas malam pada dasarnya mengikuti prinsip yang sama, tetapi sunscreen tidak diperlukan.

Urutan skincare malam dapat berupa:

Cleanser → Toner/Essence → Serum/Treatment → Eye Cream (opsional) → Moisturizer

Untuk produk treatment tertentu, seperti bahan aktif yang berpotensi menyebabkan iritasi, penggunaannya perlu disesuaikan dengan formulasi dan toleransi kulit. Selain itu, semakin banyak produk yang digunakan bukan berarti hasilnya akan semakin baik.

Penggunaan terlalu banyak produk, terutama beberapa bahan aktif sekaligus, justru dapat meningkatkan risiko iritasi.

Apakah Urutan yang Benar Menjamin Skincare Efektif?

Belum tentu. Urutan penggunaan membantu mengoptimalkan aplikasi produk, tetapi efektivitas skincare tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:

  • komposisi dan konsentrasi bahan aktif;
  • karakteristik vehicle atau basis formulasi;
  • stabilitas bahan aktif;
  • kondisi dan jenis kulit;
  • frekuensi penggunaan;
  • jumlah produk yang diaplikasikan;
  • lama penggunaan; dan
  • interaksi produk dengan kulit maupun produk lainnya.

Karakteristik vehicle juga dapat memengaruhi bagaimana bahan aktif berinteraksi dengan stratum corneum. Karena itu, efektivitas produk tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan daftar bahan atau urutan penggunaannya.

Bagaimana Efektivitas Skincare Diuji?

Pengujian efektivitas dilakukan berdasarkan klaim yang ingin dibuktikan. Artinya, tidak semua produk skincare harus menggunakan parameter pengujian yang sama.

1. Pengujian Hidrasi Kulit

Untuk skincare produk yang memiliki klaim melembapkan atau meningkatkan hidrasi kulit, salah satu parameter yang dapat digunakan adalah skin hydration. Pengukuran dapat dilakukan menggunakan Corneometer, yang mengevaluasi perubahan kadar hidrasi pada lapisan kulit terluar.

Penelitian klinis pada moisturizer, misalnya, telah menggunakan Corneometer untuk mengukur perubahan hidrasi kulit setelah aplikasi produk.

2. Pengujian Skin Barrier dan TEWL

Jika produk memiliki klaim membantu menjaga atau memperbaiki skin barrier, transepidermal water loss (TEWL) dapat menjadi salah satu parameter objektif. TEWL menggambarkan jumlah air yang keluar melalui kulit.

Perubahan TEWL dapat memberikan informasi mengenai kondisi fungsi barrier kulit. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan kombinasi pengukuran hidrasi dan TEWL untuk mengevaluasi performa moisturizer dan produk perawatan kulit.

3. Pengujian Sebum

Untuk produk yang memiliki klaim berkaitan dengan kontrol minyak, pengukuran sebum dapat digunakan sebagai salah satu parameter evaluasi. Pengukuran sebum dapat dikombinasikan dengan parameter lain, seperti hidrasi dan TEWL, sehingga perubahan kondisi kulit dapat dinilai secara lebih menyeluruh.

4. Pengujian Klaim Anti-Aging

Produk anti-aging dapat dievaluasi berdasarkan klaim spesifik yang ingin dibuktikan. Parameter pengujian dapat mencakup:

  • kedalaman atau tampilan kerutan;
  • elastisitas kulit;
  • kekencangan kulit;
  • hidrasi;
  • skin texture;
  • skin roughness; dan
  • parameter instrumental lainnya.

Pemilihan parameter harus disesuaikan dengan mekanisme kerja produk dan klaim yang akan dikomunikasikan.

5. Pengujian Sunscreen

Untuk produk sunscreen, pengujian efektivitas perlu menggunakan metode yang secara khusus dirancang untuk mengevaluasi perlindungan terhadap radiasi UV. Evaluasi dapat mencakup perlindungan UVB melalui parameter SPF serta perlindungan UVA menggunakan metode yang sesuai.

Pengujian yang terukur penting karena klaim perlindungan UV membutuhkan dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Literatur mengenai evaluasi sunscreen menekankan pentingnya metode in vitro dan in vivo yang valid untuk mengukur performa perlindungan produk.

Pengujian Efektivitas Tidak Hanya Melihat Hasil Akhir

Dalam penelitian kosmetik, efektivitas sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan apakah kulit terlihat lebih baik setelah menggunakan produk. Studi yang dirancang dengan baik dapat menggunakan parameter objektif, kelompok pembanding, baseline measurement, periode penggunaan, serta analisis statistik.

Sebagai contoh, sebuah penelitian terbaru terhadap regimen serum dan moisturizer melibatkan 123 relawan dan membandingkan beberapa kelompok perlakuan. Hidrasi, TEWL, dan sebum diukur menggunakan instrumen pada beberapa titik waktu.

Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi serum dan moisturizer memberikan peningkatan hidrasi yang lebih bertahan dibandingkan kontrol pada titik pengukuran tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa klaim kosmetik dapat dievaluasi secara terukur, bukan hanya berdasarkan kesan subjektif.

Dari Urutan Skincare ke Bukti Ilmiah

Jadi, mana yang harus dipakai dulu?

Secara umum, urutan skincare dapat dimulai dari:

Cleanser → Toner/Essence → Serum/Treatment → Moisturizer → Sunscreen

Namun, urutan skincare tersebut hanyalah bagian dari keseluruhan proses perawatan kulit. Efektivitas produk tetap bergantung pada formulasi, bahan aktif, karakteristik kulit, cara penggunaan, serta bukti pengujian yang mendukung klaimnya.

Bagi konsumen, pemahaman ini membantu memilih produk secara lebih kritis. Sementara bagi produsen kosmetik, pengujian efektivitas dapat menjadi bagian penting dalam membangun klaim produk yang berbasis data dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Saatnya Membuktikan Klaim Produk dengan Data

Memiliki formulasi yang inovatif merupakan langkah awal. Namun, membuktikan performanya melalui pengujian yang tepat dapat memberikan nilai lebih terhadap kredibilitas produk.

IML Research menyediakan layanan pengujian dan penelitian yang dapat disesuaikan dengan karakteristik produk serta klaim yang ingin dievaluasi. Ingin mengetahui pengujian yang sesuai untuk produk skincare? Konsultasikan kebutuhan pengujian produk bersama tim IML Research untuk menentukan parameter dan metode yang relevan.

Author & Editor: Lina

Daftar Pustaka

Draelos, Z. D. (Ed.). (2010). Cosmetic Dermatology: Products and Procedures. Wiley-Blackwell.

Fluhr, J. W. (Ed.). (2020). Practical Aspects of Cosmetic Testing: How to Set up a Scientific Study in Skin Physiology (2nd ed.). Springer.

Burstein, S. E., & Maibach, H. I. (2026). The Effect of Sequential Topical Application of Dermatologic Medications on Absorption: Clinical Considerations. Dermatology.

Wilson, D., Berardesca, E., & Maibach, H. I. (1988). In vivo transepidermal water loss and skin surface hydration in assessment of moisturization and soap effects. International Journal of Cosmetic Science, 10(5), 201–211.

Heinrich, U., et al. (2008). Multicentre comparison of skin hydration in terms of physical-, physiological- and product-dependent parameters by the capacitive method (Corneometer CM 825). International Journal of Cosmetic Science.

Draelos, Z. D., et al. (2012). Two randomized, controlled, comparative studies of the stratum corneum integrity benefits of two cosmetic niacinamide/glycerin body moisturizers vs. conventional body moisturizers. Journal of Drugs in Dermatology.

Bielfeldt, S. (2021). Performance Metrics of Sunscreen Formulations: In Vitro and In Vivo Techniques. Current Problems in Dermatology, 55, 124–132.

Mayba, J. N., & Gooderham, M. J. (2018). A Guide to Topical Vehicle Formulations. Journal of Cutaneous Medicine and Surgery.

Lodén, M. (1997). Preventive and therapeutic effects of a moisturizer. An experimental study of human skin. Acta Dermato-Venereologica.

Share your love

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak