
Pemanfaatan Postbiotik dalam Produk Kosmetik untuk Mendukung Kesehatan Kulit

Postbiotik merupakan hasil sampingan dari mikroorganisme, bukan selnya itu sendiri. Dengan kata lain, yang dimanfaatkan adalah “hasil kerja” mikroorganisme, bukan sel hidupnya. Postbiotik biasanya diperoleh melalui proses fermentasi oleh mikroorganisme.
Melalui proses fermentasi tersebut, dihasilkan berbagai zat yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif dalam kosmetik. Saat ini, penggunaan postbiotik dalam kosmetik menjadi tren yang terus berkembang karena manfaatnya yang signifikan, terutama dalam mendukung kesehatan mikrobioma kulit.
Daftar isi :
- Manfaat Postbiotics di Dalam Produk Kosmetik
- Bagaimana Cara Memproduksi dan Memproses Postbiotik dengan Baik?
Manfaat Postbiotics di Dalam Produk Kosmetik
Banyak orang sudah mengenal istilah probiotik dalam produk kosmetik, namun masih relatif sedikit yang mengetahui tentang postbiotik. Berdasarkan berbagai penelitian, postbiotik diketahui dapat memberikan manfaat yang mirip dengan probiotik.
Dalam produk kosmetik, postbiotik berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, melindungi kulit dari bakteri berbahaya, serta mendukung kesehatan kulit secara keseluruhan. Hal ini menjadikan postbiotik sebagai bahan yang semakin diminati dalam pengembangan kosmetik modern.
Salah satu keunggulan utama postbiotik adalah cara kerjanya yang lebih spesifik. Postbiotik merupakan produk akhir dari aktivitas mikroorganisme yang sudah dalam bentuk zat aktif, sehingga dapat langsung bekerja tanpa perlu melalui proses adaptasi seperti mikroorganisme hidup. Dengan demikian, postbiotik mampu menargetkan mikrobiota tertentu, seperti bakteri patogen, serta berinteraksi secara selektif dengan reseptor pada sel kulit.
Selain itu, kulit pada dasarnya telah memiliki keseimbangan mikroorganisme alami (mikrobiota residen). Postbiotik dapat membantu mendukung pertumbuhan bakteri baik tanpa mengganggu keseimbangan tersebut. Di sisi lain, postbiotik juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri jahat secara selektif, tanpa menambah mikroorganisme baru ke dalam ekosistem kulit, sehingga keseimbangan alami tetap terjaga.
Keunggulan lain dari postbiotik adalah stabilitasnya yang lebih tinggi dalam formulasi kosmetik. Efek yang dihasilkan cenderung lebih konsisten dan dapat dikontrol, serta tidak mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti pH, suhu, dan kondisi penyimpanan, berbeda dengan probiotik yang mengandung mikroorganisme hidup.
Sekarang, perusahaan-perusahaan di industri memiliki tujuan untuk menciptakan solusi yang inovatif sekaligus berkelanjutan bagi konsumen. Banyak di antaranya mengusung konsep clean solutions, yaitu menghadirkan produk alami yang didukung bukti ilmiah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Pendekatan ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan akan sumber daya terbarukan.
Selain itu, perusahaan juga berupaya menjawab tren global seperti efisiensi energi, pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan, serta pelestarian sumber daya yang terbatas. Dalam konteks tersebut, pemanfaatan postbiotik dalam produk kosmetik menjadi semakin menarik, karena tidak hanya menawarkan manfaat fungsional bagi kesehatan kulit, tetapi juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan, stabilitas bahan, serta penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Baca juga :
Penyimpanan Kosmetik: Faktor Kunci yang Menentukan Kualitas dan Keamanan Produk
Bagaimana Cara Memproduksi dan Memproses Postbiotik dengan Baik?
Secara umum, pembuatan postbiotik adalah proses untuk mengambil “hasil kerja” bakteri, bukan bakterinya. Proses ini terdiri dari empat langkah utama: menumbuhkan bakteri, memisahkan sel, mengambil isi sel (jika perlu), dan memurnikan hasil akhirnya.
Pertama, bakteri ditumbuhkan dalam media khusus yang kaya nutrisi agar dapat berkembang dan menghasilkan berbagai zat bermanfaat. Proses ini dilakukan dalam kondisi yang diatur dengan baik, seperti suhu dan waktu, supaya hasilnya optimal.
Kedua, setelah bakteri tumbuh, selnya dipisahkan dari cairan menggunakan alat sentrifugasi (diputar dengan kecepatan tinggi). Pada tahap ini, kita bisa memilih: apakah ingin mengambil zat di dalam sel atau cukup yang ada di luar sel (di cairannya).
Jika yang diinginkan adalah isi dalam sel (intraseluler), maka sel bakteri akan dicuci lalu dihancurkan menggunakan alat khusus agar isinya keluar. Namun, jika hanya ingin zat yang sudah dilepaskan ke lingkungan (ekstraseluler), proses pencucian dan penghancuran sel tidak perlu dilakukan.
Terakhir, dilakukan sentrifugasi kembali untuk memastikan tidak ada sel utuh atau sisa-sisa sel yang tertinggal. Hasil akhirnya adalah cairan yang mengandung postbiotik, yaitu zat aktif yang siap digunakan, misalnya dalam produk kosmetik.
Ada potensi besar untuk menggunakan bahan-bahan sisa dari industri pertanian atau industri lain sebagai substrat (media atau bahan dasar) untuk menghasilkan postbiotik. Hal ini menarik karena bahan-bahan tersebut sering kali masih mengandung senyawa yang dapat meningkatkan aktivitas biologis dari postbiotik yang dihasilkan. Namun, hingga saat ini, penelitian yang memanfaatkan jenis bahan ini untuk produksi postbiotik, baik di bidang pangan maupun kosmetik, masih tergolong terbatas.
Beberapa contoh bahan yang sudah pernah digunakan antara lain whey keju (sisa pembuatan keju), permeat susu, dan biomassa lignoselulosa. Selain itu, berbagai limbah dari kegiatan pertanian dan industri juga berpotensi digunakan karena sifatnya yang melimpah, murah, dan dapat diperbarui. Penggunaan bahan-bahan ini tidak hanya dapat menekan biaya produksi, tetapi juga membantu mengurangi penumpukan limbah di lingkungan.
Lebih lanjut, beberapa bahan seperti corn steep liquor, limbah malt, bungkil kedelai, biji kapas, dedak gandum, dedak padi, dan limbah ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme. Sementara itu, bahan lain seperti biomassa berpati, biomassa alga, molase, dan limbah cair kedelai (vinasse) dapat digunakan sebagai sumber karbon yang penting untuk pertumbuhan mikroorganisme selama proses fermentasi.
Dengan demikian, pemanfaatan limbah sebagai substrat tidak hanya mendukung produksi yang lebih ekonomis, tetapi juga sejalan dengan konsep keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.
Pastikan Produk Kosmetik Sudah Teruji
Di tengah tren inovasi skincare berbasis postbiotik, diferensiasi produk tidak cukup hanya dari konsep, tetapi harus dibuktikan melalui pengujian yang valid. Produk tanpa data berisiko sulit bersaing di pasar. Lakukan pengujian di IML Testing and Research untuk memastikan produk Anda memiliki nilai ilmiah yang kuat dan siap bersaing secara global.
Author: Dherika
Editor: Alphi
Referensi
Duarte, M., Oliveira, A.L., Oliveira, C. et al. Current postbiotics in the cosmetic market—an update and development opportunities. Appl Microbiol Biotechnol 106, 5879–5891 (2022).
Majeed, M., Majeed, S., Nagabhushanam, K., Lawrence, L., Arumugam, S., Mundkur, L. Skin protective activity of lactosporinthe extracellular metabolite from Bacillus coagulans mtcc 5856. Cosmetics 7(4), 1–14 (2020b)



