Potensi Tamanan Aromatik sebagai Bahan Pengawet Makanan Alami yang Tepat

Mikroorganisme dapat kita temukan di mana-mana, bahkan pada bahan pangan. Keberadaan patogen bisa mempercepat pembusukkan makanan, sehingga kualitas menurun hingga tidak layak dikonsumsi atau bahkan berpotensi menimbulkan penyakit bagi konsumen.

Mikroorganisme dalam makanan dapat menghasilkan senyawa-senyawa yang menimbulkan bau tidak sedap, rasa asam atau pahit, perubahan warna, serta perubahan tekstur seperti menjadi lembek atau berlendir. Selain itu, aktivitas metabolisme mikroorganisme juga dapat menurunkan kandungan nutrisi dalam makanan sehingga kualitas gizinya berkurang.

Untuk menjaga makanan dari kontaminasi, pengawet makanan menjadi solusi yang dipakai. Pengawet makanan dengan bahan kimia sintetis (misalnya sodium benzoate, sulfur dioksida, dan nitrit) banyak digunakan, tetapi penggunaannya menimbulkan kekhawatiran karena beberapa senyawa telah dilaporkan bersifat karsinogenik.

Tren industri saat ini adalah menuju pada produk pangan yang lebih alami. Banyak konsumen lebih memilih makanan dengan label “natural” dan cenderung menghindari pengawet kimia sintetis.

Penelitian bahan pengawet alami banyak dilakukan pada berbagai jenis tanaman, tapi apakah kalian tau potensi tanaman aromatik sebagai pemberi rasa dan aroma, seperti sumac, asam jawa, dan yang lainnya juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan?

Daftar Isi :

Kontaminasi Mikroorganisme dalam Makanan

Mikroorganisme yang sering ditemukan dapat mengontaminasi makanan adalah bakteri dari genus Bacillus, Pseudomonas, dan Lactobacillus, serta berbagai jenis jamur.

Jamur merupakan salah satu penyebab utama kerusakan pangan yang menempati urutan kedua setelah serangga dalam menyebabkan deteriorasi bahan makanan. Hal ini karena jamur mudah tumbuh pada berbagai jenis bahan pangan, terutama pada kondisi lembap dan penyimpanan yang kurang baik.

Ada beberapa mikroorganisme yang mampu menghasilkan toksin, sehingga akan menimbulkan penyakit pada manusia setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi. Contohnya adalah Bacillus cereus yang menghasilkan toksin emetik dan diare.

Ada juga Escherichia coli O157:H7 yang menghasilkan shiga toxin yang dapat menyebabkan kolitis hemoragik, Listeria monocytogenes menyebabkan listeriosis melalui produksi listeriolysin O. 

Beberapa spesies Salmonella seperti Salmonella Typhi, Salmonella Typhimurium, serta Salmonella Enteritidis dapat menimbulkan demam tifoid maupun salmonellosis.

Staphylococcus aureus juga termasuk, mereka menghasilkan enterotoksin tahan panas yang menyebabkan gangguan saluran pencernaan.

Mikroorganisme patogen ini dapat mencemari berbagai jenis makanan seperti daging, susu, telur, produk unggas, makanan kaleng, hingga makanan siap saji.

Pertumbuhan mikroorganisme patogen tidak selalu merubah rasa, bau, atau tampilan makanan. Artinya, makanan bisa terlihat normal tetapi sudah terkontaminasi. Maka dari itu, praktik higienis menjadi penting.

Mengenal Berbagai Tanaman Aromatik yang Berpotensi sebagai Pengawet Makanan Alami

Tanaman mendapat perhatian besar dalam penelitian pengawet makanan alami karena dianggap lebih aman, ramah lingkungan, dan dapat diaplikasikan pada pangan tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa tanaman aromatik memiliki potensi yang tinggi sebagai pengawet alami, seperti sumac, asam jawa, roselle, rosemary, dan lemon.

Sumac (Rhus coriaria L.), beraroma segar dan sedikit asam dan biasanya digunakan sebagai rempah di mana buahnya dikeringkan lalu digiling dan ditambahkan garam. Tanaman ini efektif melawan Bacillus, Staphylococcus, Enterococcus, dan Lactobacillus, sehingga berpotensi sebagai sumber antimikroba alami di industri pangan atau farmasi.

Asam jawa (Tamarindus indica L.), beraroma asam manis khas dan sering digunakan sebagai tanaman obat di mana buahnya merupakan bagian paling bernilai secara farmakologis. Ekstrak daun dan buahnya menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Shigella.

Roselle (Hibiscus sabdariffa L.), beraroma segar dan asam (mirip cranberry) dan memiliki berbagai bioaktivitas terapeutik. Ekstrak air dan etanol menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli, sehingga berpotensi melawan bakteri patogen bawaan pangan.

Rosemary (Rosmarinus officinalis L.), beraroma seperti kayu (sedikit mirip aroma pinus atau eucalyptus) dan banyak digunakan sebagai rempah atau tanaman obat. Tanaman  ini dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan, dan antiinflamasi.

Lemon (Citrus limon L.), beraroma segar dan sedikit manis dan memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Efektif terhadap bakteri Gram-positif, Gram-negatif, dan ragi.

Penggunaan ekstrak tanaman dalam industri pangan tidak hanya berfungsi sebagai agen antimikroba untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, tetapi juga memberikan manfaat tambahan berupa aktivitas antioksidan dan efek kesehatan lainnya. Senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya mampu membantu menjaga kualitas nutrisi sekaligus memperpanjang umur simpan produk pangan secara alami.

Optimalkan Potensi Pengawet Alami untuk Produk Anda

Tanaman aromatik menawarkan peluang besar sebagai alternatif pengawet makanan yang lebih aman dan alami. Namun, efektivitas dan keamanannya perlu dibuktikan secara ilmiah agar dapat diterima pasar dan memenuhi standar regulasi.

Lakukan uji efikasi, uji keamanan, dan uji kadar bersama IML Testing and Research untuk memastikan bahan pengawet alami Anda benar-benar efektif, stabil, dan siap digunakan secara komersial

Author: Dherika
Editor : Alphi

Referensi

Atwaa, E.S.H., Shahein, M.R., Radwan, H.A., Mohammed, N.S., Aloraini, M.A., Albezrah, N.K.A., Alharbi, M.A., Sayed, H.H., Daoud, M.A., Elmahallawy, E.K. (2022). Antimicrobial Activity of Some Plant Extracts and Their Applications in Homemade Tomato Paste and Pasteurized Cow Milk as Natural Preservatives. Fermentation, 8, 428.

Lorenzo, J.M., Munekata, P.E., Dominguez, R., Pateiro, M., Saraiva, J.A., & Franco, D. (2018). Main groups of microorganisms of relevance for food safety and stability: General aspects and overall description. In Innovative Technologies for Food Preservation; Elsevier: Amsterdam, The Netherlands, 53–107.

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak