
Pupuk Hijau: Alternatif Pemupukan untuk Kesuburan Jangka Panjang

Pupuk hijau merupakan jenis pupuk alami yang berasal dari tanaman atau bagian tanaman muda yang dibenamkan ke dalam tanah untuk memperbaiki kesuburan dan struktur tanah. Praktik ini telah digunakan sejak lama sebagai cara alami untuk menambah unsur hara, terutama nitrogen, sekaligus menjaga kesehatan tanah dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
- Pengertian Pupuk Hijau
- Manfaat Pupuk Hijau
- Kriteria Tanaman Pupuk Hijau yang Baik
- Cara dan Waktu Aplikasi
- Tantangan Penggunaan Pupuk Hijau
Pengertian Pupuk Hijau
Pupuk hijau umumnya berasal dari tanaman jenis Leguminosae seperti Crotalaria juncea (orok-orok), Sesbania grandiflora (turi), Leucaena leucocephala (lamtoro), Tephrosia candida, Calopogonium mucunoides, dan Centrosema pubescens. Tanaman-tanaman ini kaya akan nitrogen dan bahan organik, sehingga sangat efektif untuk mempertahankan kesuburan tanah.
Setelah tanaman tumbuh hingga usia tertentu, seluruh bagian tanaman dibenamkan ke dalam tanah agar terurai secara alami. Proses dekomposisi tersebut melepaskan unsur hara penting yang memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah.
Di antara semua unsur hara, nitrogen memiliki peran vital dalam pertumbuhan tanaman. Tanaman leguminosa sebagai pupuk hijau memiliki keunggulan khusus karena akar mereka mengandung bakteri Rhizobium yang mampu mengikat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat diserap oleh tanaman.
Manfaat Pupuk Hijau
Pupuk hijau memberikan berbagai manfaat jangka panjang bagi kesuburan tanah dan keberlanjutan pertanian, antara lain:
- Menambah bahan organik tanah – Pembenaman pupuk hijau meningkatkan kandungan bahan organik yang memperbaiki struktur, porositas, dan aerasi tanah.
- Meningkatkan ketersediaan unsur hara – Proses penguraian tanaman menambah unsur N, P, K, dan unsur mikro lain yang memperkaya kandungan hara dalam tanah.
- Meningkatkan kemampuan menahan air – Bahan organik dari pupuk hijau membantu tanah menyimpan air lebih lama, sangat berguna pada lahan kering.
- Meningkatkan aktivitas mikroba tanah – Sisa organik menjadi sumber energi bagi mikroorganisme tanah yang berperan dalam siklus hara.
- Mencegah erosi tanah – Tanaman pupuk hijau melindungi permukaan tanah dari erosi air dan angin, terutama saat digunakan sebagai tanaman penutup tanah.
- Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia – Penggunaan pupuk hijau secara berkelanjutan dapat menekan kebutuhan pupuk buatan, sehingga biaya produksi dan dampak lingkungan dapat berkurang.
Kriteria Tanaman Pupuk Hijau yang Baik
Tidak semua tanaman cocok dijadikan pupuk hijau. Tanaman yang ideal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Tumbuh cepat dan menghasilkan biomassa yang banyak.
- Tidak berkayu agar mudah terurai.
- Tahan terhadap kekeringan dan kondisi tanah miskin hara.
- Memiliki sistem perakaran dalam untuk memperbaiki struktur tanah.
- Berasal dari famili Leguminosae agar mampu mengikat nitrogen dari udara.
Cara dan Waktu Aplikasi
Dalam praktiknya, tanaman pupuk hijau biasanya ditanam sebagai tanaman sela atau tanaman rotasi. Setelah tumbuh selama beberapa minggu, tanaman dipotong atau dibenamkan ke dalam tanah sebelum berbunga. Waktu pembenaman ini penting agar proses pelapukan berjalan cepat dan unsur hara siap tersedia untuk tanaman berikutnya.
Di wilayah tropis, tanaman seperti Crotalaria atau Sesbania sering digunakan di antara musim tanam padi atau jagung untuk menjaga kesuburan lahan. Petani disarankan mengintegrasikan pupuk hijau dalam sistem pertanian mereka bersama pupuk organik atau kompos agar hasilnya lebih optimal.
Tantangan Penggunaan Pupuk Hijau
Meskipun bermanfaat, penggunaan pupuk hijau memiliki beberapa kendala. Misalnya, lahan dan waktu yang digunakan untuk menanam pupuk hijau bisa mengurangi kesempatan menanam tanaman utama.
Selain itu, hasil dari pupuk hijau tidak terlihat secara instan karena tergantung pada kecepatan proses penguraian yang dipengaruhi suhu, kelembaban, dan aktivitas mikroba. Namun, dengan perencanaan dan rotasi tanaman yang baik, tantangan ini dapat diatasi.
Baca juga:
Mengapa Uji Laboratorium Pupuk Menjadi Kunci Produksi Pangan yang Berkelanjutan?
Kesimpulan
Pupuk hijau merupakan alternatif pemupukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan kemampuannya memperbaiki kesuburan, struktur, dan kehidupan biologi tanah, pupuk hijau menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga produktivitas pertanian.
Di tengah tantangan degradasi lahan dan perubahan iklim, penerapan pupuk hijau adalah langkah nyata menuju sistem pertanian yang lebih sehat dan lestari. Di tengah upaya mendorong pertanian berkelanjutan, pupuk hijau kerap dipandang sebagai solusi alami untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Namun, efektivitas pupuk hijau sangat dipengaruhi oleh kualitas biomassa tanaman yang digunakan, kandungan unsur hara, rasio C/N, serta proses dekomposisinya. Tanpa pengujian laboratorium pada bahan pupuk itu sendiri, manfaat pupuk hijau berisiko tidak optimal atau sulit diprediksi hasilnya di lapangan.
Oleh karena itu, uji laboratorium pupuk hijau menjadi langkah penting untuk memastikan kualitas dan konsistensi manfaatnya bagi sistem pertanian. Pastikan pupuk hijau yang digunakan memiliki kualitas dan kandungan hara yang sesuai.
Lakukan uji laboratorium pupuk di IML Testing and Research untuk mengetahui kandungan unsur hara, bahan organik, dan karakteristik pupuk hijau secara akurat dan dapat diandalkan sebagai dasar penerapan di lapangan.
Author: Fachry
Editor: Sabilla Reza
References:
Lesilolo, M.K., Riry, J., & Matatula, E.A. (2013). Seed Viability and Vigor Testing of Several Plant Species Sold in Ambon City Market. Agrologia, Vol. 2, No. 1.
Nazara, R.V. et al. (2024). Ilmu dan Teknologi Benih. CV HEI Publishing Indonesia.
Panggabean, E.L. (2012). Diktat Teknologi Benih. Faculty of Agriculture, Universitas Medan Area.



