Mengungkap Rahasia Matcha dan Green Tea: Matcha dan Green Tea Apakah Sama?

Teh telah menjadi minuman yang populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Permintaan teh dari tahun ke tahun terus meningkat bahkan di Tiongkok dan India, teh dijadikan sebagai minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi setelah air mineral. Secara ilmiah, nama teh yang mendominasi produk teh komersial di pasaran adalah Camellia sinensis

Terdapat 3 varietas utama C. sinensis yang dibedakan berdasarkan kondisi lingkungan, afinitas biokimia, ukuran daun, dan posisinya. C. sinensis var. Sinensis merupakan varietas teh yang banyak dibudidayakan di Tiongkok, Taiwan, Jepang dan beberapa wilayah Asia Tenggara karena memiliki cita rasa yang manis sehingga lebih disukai untuk menghasilkan minuman green tea dan matcha. 

Apakah Teh Hijau (Green Tea) dan Matcha sama?

Teh hijau dan matcha sering dianggap sebagai produk yang sama, padahal secara ilmiahnya berbeda. Teh hijau dikategorikan sebagai teh hijau Tiongkok dan teh hijau Jepang, sedangkan matcha adalah teh hijau Jepang yang tidak difermentasi dan digiling halus menjadi bubuk. Perbedaan utama teh hijau dan matcha adalah pada proses budidaya dan pengolahannya. Teh hijau ditanam di bawah sinar matahari langsung, lalu daun dipetik dan dikeringkan. 

Teh hijau memiliki warna hijau lebih gelap, lebih pahit, lebih ringan, dan sedikit asam. Sedangkan matcha ditanam di bawah peneduhan dari sinar matahari lalu dipanen dan digiling halus, menghasilkan rasa yang lebih kuat dan cream. Matcha memiliki warna hijau yang lebih cerah dan profil komposisi yang lebih tinggi, terutama pada asam fenolat, flavonol, asam amino, dan kafein. 

Sumber: Freepik.com

Perbedaan Cara Budidaya dan Pengolahan 

Teh hijau dan matcha berasal dari tanaman yang sama, Camellia sinensis. Tanaman ini juga sama digunakan untuk menghasilkan produk minuman teh lainnya, seperti black tea, oolong tea, dan white tea. Teh hijau dan matcha dibudidaya dan diolah dengan cara yang berbeda. 

Teh hijau dibudidayakan langsung di bawah sinar matahari penuh yang membuat kandungan katekin (EGCG) lebih tinggi, sehingga rasa teh cendering lebih sepat atau pahit. Sementara kadar theanine lebih rendah karena terurai menjadi polifenol di bawah cahaya matahari. Setelah proses pemetikan daun, oksidasi daun dihentikan saat proses pengolahan dengan menggunakan dua metode, yaitu pengukusan atau penyangraian. 

Kemudian, daun digulung untuk memecahkan dinding sel supaya membentuk ciri khas bentuk teh. Lalu daun dikeringkan dan siap diseduh.  Pada matcha, penanaman teh ditutupi jaring atau anyaman 20-30 hari sebelum panen yang berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya matahari sebesar 60-98%. 

Sehingga memicu produksi klorofil yang membuat warna daun hijau namun lebih cerah daripada daun teh hijau. Perubahan biologis lainnya adalah terjadi peningkatan asam amino L-theanine yang memberikan rasa umami dan efek relaksasi, dan terjadi penurunan katekin. Selain kadar senyawa yang berubah, terjadi perubahan jalur fotosintesis. 

Peneduhan atau shading menyebabkan penurunan aktivitas fotokimia sehingga memicu produksi klorofil. Lalu terjadi penurunan ekspresi gen yang terlibat dalam siklus Calvin (fiksasi karbon), yaitu Rubisco. Selain itu, terjadi induksi gen yang terlibat dalam jalur pembentukan pigmen klorofil, yaitu protochlorophyllide oxidoreductase dan Mg-chelatase H untuk menyerap cahaya matahari. 

Matcha dan teh hijau sama-sama menyehatkan, tetapi menawarkan pengalaman yang berbeda. Matcha memberi rasa umami lembut dengan nutrisi yang lebih padat, sementara teh hijau menghadirkan kesegaran ringan dan khas. Pilih sesuai selera, karena keduanya sama-sama membawa manfaat bagi tubuh dan jiwa.

Pastikan produk teh hijau atau matcha Anda memenuhi standar kualitas tertinggi. IML Research menyediakan layanan uji kadar komponen bioaktif, uji stabilitas produk, serta uji toksisitas untuk memastikan keamanan dan konsistensi mutu sebelum produk dipasarkan. Jaga kepercayaan konsumen Anda dengan data ilmiah yang akurat dan dapat diandalkan. Mulai uji produk Anda bersama IML Research sekarang.

Author: Safira
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Chen X, Ye K, Xu Y, Zhao Y, Zhao D. Effect of Shading on the Morphological, Physiological, and Biochemical Characteristics as Well as the Transcriptome of Matcha Green Tea. Int J Mol Sci. 2022 Nov 16;23(22):14169. doi: 10.3390/ijms232214169. PMID: 36430647; PMCID: PMC9696345.

Matcha.com. (2023, July 12). Matcha vs green tea: Matcha powder is better (here’s why +5tips). Tersedia: https://matcha.com/blogs/news/matcha-vs-green-tea-matcha-powder-is-better-heres-why-plus-5-tips

Zhao, X., Gao, X., Li, Y., … & Zhou, C. (2023). Differences in phytochemical profiles and antioxidant activities of green tea and matcha: A comparative study. Food Research International, 172, 113203. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2023.1132

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak