Uji Lab Membuktikan Potensi Madu sebagai Terapi Alami untuk Sariawan

Apa Itu Stomatitis Aftosa dan Mengapa Sering Terjadi?

Stomatitis aftosa atau dikenal sebagai sariawan merupakan kondisi umum yang ditandai dengan luka kecil berwarna putih dan terasa nyeri di dalam mulut. Sariawan terdiri dari ulkus jinak yang terjadi berulang-ulang pada mukosa mulut. 

Penyebab pastinya belum diketahui, akan tetapi kondisi ini diduga melibatkan kombinasi berbagai faktor, diantaranya, melemahnya atau tidak berfungsinya sistem kekebalan tubuh, alergi makanan, trauma pada mulut, gizi buruk, obat-obatan tertentu, riwayat keluarga, dan lain sebagainya. Sariawan biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan kebanyakan penderitanya berusia <30 tahun. Seiring bertambahnya usia, secara bertahap akan mengurangi frekuensi terjadinya sariawan.

Jenis-Jenis Sariawan yang Paling Sering Ditemui

Secara umum, sariawan dapat dibedakan menjadi tiga jenis. 

1. Ulkus Aftosa Kecil

Ulkus aftosa kecil, yaitu jenis yang paling sering muncul dengan ukuran tidak lebih dari 8 mm. Biasanya timbul di bagian dalam bibir atau sisi lidah dan dapat pulih dalam waktu sekitar 10 hari. 

2. Ulkus Aftosa Besar

Ulkus aftosa besar, yang ukurannya bisa melebihi satu sentimeter. Jenis ini sering mengenai mukosa langit-langit mulut maupun tenggorokan, serta kadang disertai demam. 

3. Ulkus Aftosa Herpetiformis

Ulkus aftosa herpetiformis, yang sering keliru dianggap sebagai luka akibat infeksi herpes. Ditandai dengan banyak luka kecil yang kemudian menyatu menjadi lebih besar, dan dapat bertahan hingga dua minggu. Pada sebagian penderita, stomatitis aftosa hanya muncul sekali-sekali, sedangkan pada yang lain bisa kambuh hingga empat kali dalam setahun.

Seberapa Umum Sariawan dan Seperti Apa Gejalanya?

Sariawan menempati urutan teratas sebagai penyakit yang paling umum pada rongga mulut. Secara statistik, sariawan mempengaruhi  5 – 66% populasi umum. Gejala dan tingkat keparahan sariawan dapat berbeda beda pada setiap orang. Gejala biasanya dimulai dengan rasa sakit seperti terbakar, kemudian dalam 1 sampai 2 hari timbul sariawan. 

Gejala biasanya terbatas pada mukosa mulut, akan tetapi, munculnya sariawan juga dapat dikaitkan dengan gejala sistemik seperti demam atau tidak enak badan. Sariawan hampir selalu terbentuk pada jaringan lunak seperti pada bagian dalam bibir, bagian dalam pipi, lidah, dasar mulut, langit-langit lunak, dan di tenggorokan. Luka muncul berbentuk bulat, oval, atau bintik bintik dangkal dengan bagian tengah berwarna kuning keabu-abuan dan tepi berwarna merah. 

Apakah Sariawan Berbahaya dan Perlu Pengobatan Khusus?

Sariawan jarang menjadi tanda penyakit serius tetapi sariawan memang terasa tidak nyaman. Sariawan memerlukan waktu untuk sembuh. Umumnya sariawan akan sembuh secara spontan dalam waktu 1 sampai 2 minggu, akan tetapi pada sariawan yang lebih parah, ia akan sembuh dalam waktu lebih dari 1 bulan. 

Meskipun umumnya sariawan tidak berbahaya, banyak orang yang mencari obat sariawan. Pengobatan sariawan bertujuan untuk meringankan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mengurangi keparahan sariawan. Obat sariawan dapat berupa obat medis atau obat alami. Pada artikel ini akan dibahas madu sebagai alternatif untuk mengobati sariawan. 

Kandungan Madu dan Mengapa Berpotensi Menyembuhkan Sariawan

honey
Madu Sumber: Pexel

Madu adalah cairan manis alami yang dihasilkan oleh lebah madu dari nektar bunga atau bagian lain dari tanaman. Lebah mengumpulkan nektar, kemudian mengolahnya di dalam sarang dengan enzim khusus, sehingga menghasilkan madu yang kaya akan gula, enzim, vitamin, mineral, dan antioksidan. Secara umum, madu merupakan campuran dari berbagai senyawa seperti polifenol, asam askorbat, karotenoid, asam organik, enzim, serta protein lain yang semuanya berperan menjadikan madu sebagai sumber nutrisi dengan kandungan antioksidan. 

Madu memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan mampu menekan dampak reaksi oksidatif yang menghasilkan radikal bebas serta reactive oxygen species (ROS). Selain itu, madu juga diketahui memiliki efek antibakteri yang signifikan, yang terkait dengan sifat fisikokimianya, seperti osmolaritas tinggi akibat kandungan gula yang besar serta pH rendah karena adanya berbagai asam organik. Aktivasi enzim glukosa oksidase ketika madu diencerkan juga memicu pembentukan hidrogen peroksida dari metabolisme glukosa, sehingga menciptakan kondisi yang tidak mendukung pertumbuhan dan perkembangan bakteri serta berpotensi membantu proses penyembuhan luka.

Bagaimana Madu Bekerja Mengurangi Inflamasi dan Mempercepat Penyembuhan?

Kombinasi efek antioksidan dan antibakteri pada madu turut berkontribusi terhadap sifat anti-inflamasinya, yaitu dengan menekan peradangan berlebihan sehingga dapat mendukung proses penyembuhan luka. Karena keberadaan ROS diketahui dapat memicu timbulnya inflamasi, aktivitas antioksidan pada madu juga membantu mengurangi respons inflamasi yang berlebihan. Kemampuan madu dalam mencegah infeksi bakteri melalui penciptaan lingkungan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan mikroba juga memperkuat efek penghambatan inflamasi.

Lebih jauh, penggunaan madu pada luka terbukti dapat merangsang produksi dan pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-1 dan tumor necrosis factor-alpha yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Aplikasi topikal madu pada jaringan yang terluka juga telah ditunjukkan dapat mempercepat perbaikan jaringan melalui stimulasi pertumbuhan sel epitel, pengurangan edema, serta pembersihan jaringan luka.

Dengan memahami bagaimana sariawan muncul dan bagaimana madu bekerja melalui mekanisme antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi, kita dapat melihat bahwa efektivitas madu bukan sekadar klaim tradisional. Justru, manfaat ini bisa dibuktikan lebih jauh melalui uji lab yang tepat sehingga kualitas dan keamanannya benar benar dapat dipastikan sebelum digunakan sebagai alternatif pengobatan.

Anda dapat melakukan konsultasi secara gratis dengan tim IML Research untuk mengetahui jenis uji lab yang paling tepat bagi produk Anda. Tim ahli kami siap membantu Anda memahami parameter pengujian yang relevan. Pastikan kualitas produk Anda terverifikasi dengan hasil uji yang akurat dan dapat diandalkan.

Baca juga:
PAHAMI! Uji Laboratorium Bee Pollen untuk Memetakan Paparan Pestisida

Author: Jihan
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Hennessy B.J. 2025. Recurrent Aphthous Stomatitis. MSD Manual Consumer Version. Available from : https://www.msdmanuals.com/home/mouth-and-dental-disorders/symptoms-of-oral-and-dental-disorders/recurrent-aphthous-stomatitis

Hunter M, Kellett J, D’Cunha NM, Toohey K, McKune A, Naumovski N. The Effect of Honey as a Treatment for Oral Ulcerative Lesions: A Systematic Review. Explor Res Hypothesis Med. 2020;5(1):27-37. doi: 10.14218/ERHM.2019.00029.

Plewa MC, Chatterjee K. 2023. Recurrent Aphthous Stomatitis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431059/

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak