3 Bahan Aktif Alami Skincare Korea yang Terbukti Secara Ilmiah

Dalam beberapa tahun terakhir, tren perawatan kulit berbasis bahan alami semakin populer di kalangan anak muda hingga dewasa. Skincare natural merujuk pada produk perawatan kulit yang diformulasikan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam—seperti ekstrak tanaman, minyak esensial, dan bahan organik lainnya—dengan seminimal mungkin penggunaan bahan sintetis. Daya tarik utama produk ini terletak pada persepsi bahwa bahan alami lebih aman, ramah lingkungan, dan minim efek samping. 

Stereotipe natural skincare yaitu alternatif “sehat” dibanding produk berbasis bahan sintetis. Namun, penting untuk dicermati bahwa istilah “alami” tidak selalu identik dengan “lebih baik.” Efektivitas dan keamanan produk tetap bergantung pada jenis bahan, konsentrasi, serta bagaimana ia diformulasikan.

Dalam banyak kasus, bahan alami dan sintetis memiliki manfaat yang sebanding, tergantung pada konteks penggunaannya. Oleh karena itu, memahami dasar ilmiah di balik klaim produk natural menjadi kunci dalam memilih skincare yang tidak hanya tren, tetapi juga efektif dan aman bagi kulit.

Korea Selatan sebagai Pelopor Skincare Berbahan Alami

Pelopor dan inovator dalam industri produk kecantikan salah satunya adalah Korea Selatan. Berkembangnya skincare berbahan natural seperti ginseng, teh hijau, propolis, lendir siput, mugwort, pegangan, dan lain sebagainya yang tersedia dan  memanfaatkan sumber daya alam. Penggunaan bahan aktif natural dinilai lebih sehat karena umumnya minim efek samping dan ramah lingkungan. Berikut merupakan beberapa kandungan aktif yang umum digunakan dalam formulasi produk kosmetik.

1. Propolis

Propolis yang dikenal sebagai lem lebah merupakan bahan mesin yang dikumpulkan oleh lebah dari kuncup tanaman, digunakan untuk mempertahankan sarang lebah dengan memberikan kekuatan struktural dan isolasi termal. Diperkaya dengan flavonoid, asam fenolat, dan terpenoid, propolis telah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional karena sifat antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasinya. Aplikasi topikal propolis pada luka kulit telah terbukti dapat mengurangi aktivitas radikal bebas dan meningkatkan sintesis kolagen, yang menghasilkan peningkatan deposisi protein matriks ekstraseluler dan mempercepat penutupan luka. Propolis juga memiliki efek fotoprotektif dengan cara melawan dampak merugikan dari spesies oksigen reaktif (ROS) yang diinduksi oleh radiasi ultraviolet (UV).

2. Lendir Siput (Snail Mucin)

Lendir yang dihasilkan oleh moluska Achatina fulica dan Cornu aspersum umumnya ditemukan dalam produk kosmetik medis (cosmeceuticals) Korea karena sifat antimikroba dan regeneratif kulitnya. Kandungan aktif dalam lendir ini mengandung glycosaminoglycans dan asam hialuronat yang menstimulasi produksi kolagen dan regenerasi epidermal. Penelitian terbaru menemukan efek-melanogenik dan anti-tumor terhadap sel melanoma manusia secara in vitro, sehingga lendir siput menjadi agen potensial untuk kasus melanoma. 

3. Centella Asiatica

Salah satu kandungan yang sedang tinggi peminat di Indonesia yaitu Centella asiatica atau yang dikenal sebagai tiger grass merupakan tanaman bunga tahunan yang sudah lama digunakan dalam industri obat. Efek menguntungkan dari ekstrak C. asiatica pada kulit manusia telah dibuktikan melalui penelitian in vitro dan in vivo untuk penyembuhan luka, psoriasis, dan skleroderma. Zat aktif dalam centella asiatica adalah kelompok senyawa flavonoid, terpen, dan saponin. Senyawa ini  telah terbukti merangsang proliferasi dan migrasi fibroblas kulit, menghidrasi kulit, menyembuhkan luka, dan meningkatkan sintesis kolagen. 

Keanekaragaman Bahan Aktif Alami dalam Skincare

Selain yang disebutkan sebelumnya terdapat banyak bahan aktif yang umum digunakan, yaitu Bee venom, susu keledai betina, dan minyak kuda yang berbasis hewan. Kemudian bubuk mutiara, ekstrak telur ikan salmon, rumput laut, dan bubuk bintang laut yang berbasis hewan laut. Sejauh ini yang paling sering digunakan adalah tumbuhan seperti aloe vera, bambu, kelompok berry, calendula, chamomile, bunga seruni, ginseng, akar manis, lotus, delima, kunyit, dan yuzu. 

Beragam jenis dan sumber alam dapat digunakan sebagai bahan aktif skincare. Namun demikian, perlu ditekankan bahwa zat aktif yang bersumber dari hewan maupun tumbuhan tetap memerlukan pengujian laboratorium terlebih dahulu sebelum digunakan pada kulit manusia. Meskipun hanya digunakan secara topikal, konsentrasinya tetap perlu diperhatikan demi keamanan dan efektivitas penggunaannya.

Sebelum diluncurkan ke pasar, setiap produk kosmetik perlu melalui serangkaian pengujian untuk memastikan keamanannya bagi konsumen. Pengujian laboratorium membantu mengidentifikasi potensi iritasi, toksisitas, serta kestabilan formula produk. Bahan alami sekalipun tetap perlu diverifikasi melalui uji laboratorium untuk memastikan efektivitas dan keamanan dalam penggunaannya. 

Baca juga:
3 Rekomendasi Laboratorium Uji Kosmetik untuk Izin Edar! 

Dengan pengujian yang tepat, klaim produk dapat dibuktikan secara ilmiah dan meningkatkan kredibilitas di mata konsumen.  Pilihlah laboratorium uji kosmetik terpercaya yang menyediakan layanan uji kosmetik yang komprehensif, akurat, dan sesuai standar regulasi yang berlaku. Percayakan pengujian produk Anda pada laboratorium yang hasil ujinya dipercaya oleh BPOM agar setiap formula yang dirilis benar-benar aman, berkualitas tinggi dan lolos izin edar.

Referensi:

Nguyen, J. K., Masub, N., & Jagdeo, J. (2020). Bioactive ingredients in Korean cosmeceuticals: Trends and research evidence. Journal of cosmetic dermatology19(7), 1555–1569. https://doi.org/10.1111/jocd.13344

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak