Kenali Malaria Lebih Dalam: Penyebab, Gejala, dan Jenis Obat yang Digunakan

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh empat spesies protozoa dalam genus Plasmodium, yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles, yang membawa parasit dalam bentuk sporozoit. Setelah nyamuk menggigit manusia, sporozoit masuk ke dalam aliran darah dan bermigrasi menuju hati, di mana mereka berkembang biak dan membentuk schizont jaringan. 

Baca juga:
5 Plasmodium Sp., Parasit Penyebab Malaria

Tahapan Awal Infeksi Malaria

Siklus dan gejala penularan malaria ilustrasi infografis informasi
Sumber foto: Freepik

Ini adalah tahap awal siklus hidup parasit sebelum menyerang sel darah merah. Tahap ini berlangsung antara 5 hingga 15 hari, tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. Pada akhir fase hati, schizont jaringan pecah dan melepaskan merozoit ke dalam aliran darah. Merozoit ini kemudian menyerang sel darah merah dan memulai siklus eritrositik. Selama siklus ini, merozoit berkembang melalui beberapa tahap aseksual, mulai dari bentuk muda (trofosoit) hingga matang menjadi schizont dewasa. 

Ketika schizont dewasa dalam sel darah merah pecah, merozoit baru dilepaskan dan menyerang sel darah merah lainnya. Siklus eritrositik inilah yang menjadi penyebab utama gejala klinis malaria, seperti demam, menggigil, dan anemia, dengan pola waktu demam yang bervariasi tergantung pada jenis Plasmodium yang menginfeksi. Setelah memasuki siklus eritrositik, parasit Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae tidak lagi tersisa di hati. 

Namun, pada Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sebagian parasit tetap berada di hati dalam bentuk hipnozoit (bentuk dorman parasit). Hipnozoit ini dapat aktif kembali setelah waktu tertentu, menyebabkan kekambuhan malaria. Keberadaan hipnozoit pada hati dikenal sebagai fase laten.

Strategi Pengobatan Malaria

Pengobatan malaria diklasifikasikan berdasarkan tahap siklus hidup parasit yang menjadi sasaran. Saat ini, belum ada obat antimalaria yang efektif membunuh fase sporozoit, sehingga pengobatan hanya berfokus pada tahap-tahap siklus hidup yang menimbulkan gejala (malaria simptomatik), dan tidak dapat mencegah infeksi sejak awal. Selain itu, belum ada obat antimalaria tunggal yang dapat membunuh parasit pada semua tahap siklus hidup.

Klasifikasi Obat Antimalaria Berdasarkan Tahapan Target

Oleh karena itu, pengobatan malaria yang efektif umumnya memerlukan kombinasi beberapa obat. Obat antimalaria dikelompokkan dalam tiga kelas berdasarkan efektivitasnya terhadap tahap siklus hidup parasit. Kelas 1 mencakup obat-obat yang efektif membunuh parasit pada siklus eritrositik aseksual, tetapi tidak efektif terhadap fase awal maupun fase laten di hati, serta bentuk gametosit dari Plasmodium falciparum

Kelas 2 terdiri dari obat-obat yang efektif membunuh parasit pada siklus eritrositik aseksual dan fase awal di hati, namun tidak dapat mengatasi fase laten di hati atau gametosit parasit. Sementara itu, kelas 3 adalah obat-obat yang dapat membunuh parasit pada fase awal dan laten di hati, serta pada siklus eritrositik gametosit, tetapi tidak efektif pada fase eritrositik aseksual, sehingga tidak dapat mengatasi gejala klinis malaria. Obat kelas 3 umumnya digunakan untuk mengeradikasi hipnozoit dari Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale untuk mencegah kekambuhan penyakit.

Contoh obat dalam kelas 1 meliputi klorokuin, meflokuin, kina, kinidin, pirimetamin, sulfadoksin, dan tetrasiklin. Obat-obatan dalam kelas 2 antara lain atovakuon dan proguanil, sedangkan kelas 3 diwakili oleh primakuin. Pemahaman yang baik tentang klasifikasi obat-obatan ini sangat penting dalam pengobatan malaria, karena dengan menargetkan tahap siklus hidup parasit yang tepat, pengobatan dapat lebih efektif. Selain itu, pengobatan juga harus mengikuti pedoman yang berlaku di masing-masing negara untuk mencapai hasil yang optimal.

Topik tentang malaria menunjukkan betapa pentingnya pemahaman mendalam dalam menangani penyakit infeksi. Namun, malaria hanyalah satu dari sekian banyak isu kesehatan dan riset yang perlu kita perhatikan bersama. Kami akan terus menghadirkan informasi seputar dunia kesehatan, riset ilmiah, dan pengujian laboratorium dari berbagai sudut yang mungkin belum pernah Anda pikirkan sebelumnya. Jangan lewatkan update selanjutnya hanya di sini!

Author: Devira
Editor: Sabilla

Referensi

Brunton, L., Parker, K., Blumenthal, D., & Buxton, I. (2008). Goodman & Gilman’s: Manual of Pharmacology and Therapeutics. In Pharmacology & Therapeutics (Vol. 95)

Share your love

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi kami untuk informasi yang Anda perlukan.

Silakan konsultasikan kebutuhan pengujian produk Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Formulir Kontak